14 – MELINDAFFIN
Jika dari awal kamu yakin dia tidak akan pernah menjadi milikmu. Maka berhentilah, tinggalkan.
Kamu cukup tahu, berharap itu menyakitkan.
▫️▫️▫️
KESAL, SATU kata yang menggambarkan perasaan dua gadis—yang saat ini duduk di atas ranjang, dengan sebelah tangan memegang pangkal hidung. Tiga gadis cantik itu berada di kamar bernuansa pastel milik Levi. Dekorasi kamar yang sedikit berubah tidak lagi menjadi pusat perhatian mereka. Dulu jika sedikit saja ada tata letak barang yang bergeser, mereka akan langsung menyadarinya. Namun, tidak dengan hari ini. Mereka berdua tidak habis pikir, bisa-bisanya sahabat mereka menyembunyikan hal sebesar itu. Apa berteman sejak kecil tidak membuat dia percaya kata-kata, ‘sahabat akan selalu ada ketika kamu membutuhkan?’
Perasaan Levi dan Davina bergelora ketika mendengar cerita yang keluar dari mulut Melinda. Cerita ini berbeda. Cerita ini berlainan. Tidak sama dari cerita Melinda yang sebelumnya.
“Kita bertiga bahkan udah sahabatan dari kecil, Nda. Terus kenapa, lo nggak cerita masalah lo yang ini?” ucap Davina dengan kesal.
“Gue .... gue cuman nggak mau kalian berdua ikut-ikutan kepikiran. Terlibat dengan masalah gue,” jawab Melinda dengan kepala menunduk. Kedua tangannya mulai meremas bantal yang dari tadi dipegangnya. Sebagai bentuk penyaluran dari rasa intimidasi Levi dan Davina.
“Melinda, lo bahkan berperan besar dalam hubungan gue dengan Gerald. Kalau bukan karena lo, mungkin sekarang gue nggak bakalan dapat kesempatan pacaran dengan dia.” Levi menjeda ucapannya. Sambil memperhatikan Melinda yang masih menunduk. “Terus sekarang lo malah ngomong, seakan-akan kita bakal ninggalin lo setelah tahu semuanya?” Levi membuang muka ke arah samping. Menatap pintu balkon dengan tirai yang bergerak-gerak akibat tiupan angin. Ia masih merasa jengkel dengan jawaban Melinda.
“Bukan gitu!” bantah Melinda cepat. Takut kedua sahabatnya akan semakin salah paham dengan dia. Sungguh, bukan itu alasan Melinda menyembunyikan semua hal ini dari mereka.
“Terus? Hal yang melatar belakangi selama ini lo nggak cerita apa?” tanya Davina.
Menghela napas panjang, Melinda menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Ada perasaan bersalah di dalam lubuk hatinya ketika dia tidak dapat berkata jujur. “Gue malu. Gue nggak mau hal ini akan menjadi beban kalian berdua,” jawab Melinda, menyembunyikan wajah dia dengan kedua telapak tangan.
Levi menghela napas pelan. “Terus Daffin tahu?” Levi kembali memandang Melinda. Melinda menganggukan kepala, masih dengan wajah yang tertutup dengan kedua telapak tangannya. “Respon dia saat lihat itu apa? Dia percaya dengan apa yang dia lihat?” Levi kembali bertanya.
Melinda mendesah lirih. “Dia percaya,” balas Melinda. Setidaknya, itu yang dia yakini. Dari ekspresi wajahnya sangat tersirat, Melinda kecewa dengan Daffin.
“Brengsek!” umpat Davina tidak dapat menahan emosi. “Jadi itu alasan lo selama ini menghindar dari Daffin? Bukan karena dia terkenal?”
Melinda mengangguk samar. “Saat gue udah mau nerima dia, masalah ini muncul.” Ada kehampaan dari rona wajah Melinda. Terpandang jelas di mata Levi dan Davina.
Mereka tidak bisa melihat Melinda seperti itu. Beberapa hari ini Melinda kerap kali bersikap aneh. Seperti menyembunyikan sesuatu. Suatu hal yang bisa saja menimbulkan trauma besar jika dipendam sendiri. Tapi Melinda bukan gadis yang lemah. Dia sanggup membendung kejadian ini seorang diri. Tanpa mau berbagi, dengan alasan takut menjadi beban kedua sahabatnya—Levi dan Davina.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Teen FictionShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)