48 - ALASAN TAKDIR

10.8K 802 104
                                        

48 – ALASAN TAKDIR

Kita adalah cerita dulu. Berawal dari teman yang tak sengaja bertemu. Saling menyapa, kemudian saling percaya.
Tidak terasa semua berlalu begitu saja.
Dan pada akhirnya, hanya luka yang tersisa.

▫️▫️▫️

Lima Tahun Kemudian….

DENTING WAKTU terus berlayar. Hari demi hari berjalan begitu cepat. Semua kisah lama perlahan mulai bergulir, bersama dengan tenggat yang saling berganti. Tak ada lagi seragam dengan lambang khusus. Tak ada lagi waktu tempuh yang harus dikejar. Tak ada lagi berkumpul dengan teman-teman yang duduk saling membahas ekskul. Semua telah terlewati. Yang ada sekarang hanyalah memikirkan, bagaimana cara cepat melakukan perpindahan tali dari kiri ke kanan. Tahap awal memulai perjalanan hidup yang sebenarnya.

“Kamu jadi penelitiannya di Jepang?” Dama Haidar yang baru selesai mengolesi rotinya dengan selai kacang bertanya pada Gerald yang duduk di depannya.

“Jadi,” jawab Gerald sebelum kembali memakan sarapannya.

“Kapan?”

“Lusa.”

“Yakin mau penelitian di sana? Kenapa jauh sekali?”

Gerald diam sebentar. Tidak lama ia kembali menjawab pertanyaan sang ayah dengan tenang. “Yakin, dosen aku yang minta. Untuk judul penelitian aku berasal dari perusahaan yang ada di sana. Katanya lebih bagus kalau aku ambil penelitian di Jepang langsung, meskipun di sini ada cabang perusahaannya.”

Dama mengangguk kecil. Dia menatap Gerald yang masih sibuk mengunyah sarapannya. Tidak lama salah seorang pria yang berdiri di samping Dama membisikkan sesuatu setelah melihat jam di tangan kiri, membuat Dama menganggukkan kepalanya dengan paham. Dama mengambil tisu yang ada di atas meja, menyeka sisa makanan yang hinggap di sela-sela bibirnya. Dama mulai bangkit dari tempat duduk seraya menatap Gerald. “Take care. Papa nggak bisa ngantar kamu lusa. Hari ini Papa berangkat ke Shanghai.”

“Not problem.”

“Rencananya di sana berapa hari?”

“Belum tahu, tergantung penelitiannya cepat atau nggak.”

“Okey. Setelah sampai di Jepang nanti ada orang Papa yang akan menjemput kamu. Papa pergi dulu.”

Gerald menganggukkan kepalanya, mengulas senyum tipis sebelum ayahnya pergi. Dama pergi bersama beberapa orang yang selalu setia mengikutinya ke mana pun dia pergi.

Gerald kembali fokus pada makanannya. Roti yang ada di tangannya kembali ia letakkan di atas piring. Laki-laki itu mulai menghembuskan napasnya dengan berat. Ia kembali termangu dengan tatapan kosong menatap piring putih yang ada di depannya. Terkait penelitian tugas akhirnya sebagai mahasiswa yang harus membuatnya berangkat ke Jepang. Ia masih diam membisu memikirkan hal ini. Lima tahun telah berlalu. Di mana sudah lima tahun juga ia tidak bertemu lagi dengan Levi. Gadis yang sangat ia cintai.

Jika bisa memilih, Gerald bisa saja mengutamakan keinginannya bertemu dengan Levi. Beberapa kali teman-temannya pergi liburan bersama ke Jepang. Ia bisa saja ikut dengan mereka. Atau ia yang bisa mencari tahu sendiri di mana alamat Levi di sana, dan langsung menghampiri gadis itu.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang