13 - JANTUNG BARU?

12.1K 886 12
                                        

13 – JANTUNG BARU?

LEVI MEREMAS surat yang baru ia dapat. Ia merasa seperti ada orang yang sengaja melakukan hal ini padanya. Tapi siapa? Apa sebenarnya motif orang itu? Apa pun rencana yang orang itu buat, tapi ia merasa orang ini tidak mempunyai niat untuk memisahkan hubungannya dengan Gerald. Orang ini justru menginginkan dirinya agar bisa terus bersama dengan laki-laki itu.

Tapi pertanyaannya …. lagi-lagi mengapa? 

Levi bukan orang yang gampang percaya dengan hal-hal mistis. Gadis itu sama sekali tidak percaya, kalau orang yang mengirimkan bunga krisan dan surat ini adalah Melati. Apalagi sampai hantu Melati. Levi bukan orang dengan pemikiran aneh seperti itu. Dan lagi—ini sangat mustahil! Ia memang pernah memimpikan gadis itu. Tapi bukan berarti ia percaya kalau orang yang masuk ke dalam mimpinya adalah hantu Melati. Hal yang ada di dalam pikiran Levi saat ini, ada sesuatu yang menghubungkan antara ia dengan gadis itu—Melati.

Levi menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia melipat kertas itu dan kembali memasukkannya ke dalam saku jas. Kejadian ini benar-benar sukses membuat pikirannya mengudara.

Menggeleng pelan, gadis itu menyalakan keran air wastafel kemudian membasuh wajah.  Merapikan sedikit tatanan rambutnya menggunakan jari tangan, lalu berniat keluar dari toilet. Akan tetapi pada saat ia balik badan, langkahnya mendadak terhenti. Menemukan para minions masuk ke dalam toilet dengan wajah menyebalkan.

Memilih mengabaikan mereka, gadis itu cepat-cepat melangkah kembali. Bersikap acuh kepada Vannesya dan Sisil yang mulai memandangnya dengan sinis.

“Tunggu, gue masih ada urusan sama lo!” Vannesya membekam bahu Levi. Menahannya agar berhenti melangkah.
Levi menepis kasar tangan Vannesya. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya, memberi kode agar Vannesya meneruskan ucapan dia.

“Jauhi Gerald!” perintahnya retoris.

“Jauhi Gerald??” tanya Levi heran. Ia menautkan kedua alisnya, kemudian tersenyum remeh. “Kasih gue satu alasan yang logis. Kenapa gue harus menjahui pacar gue sendiri?” tekannya pada kata pacar.

“Lo jangan terlalu kepedean. Sebentar lagi, lo juga bakal putus dari Gerald!”

“Oh, ya? Terus?” balas Levi, masih dengan nada yang sama.

Gadis berambut panjang serta pirang itu menatap Levi calak. Kedua tangan Vannesya mulai terkepal kuat. Menandakan amarah dia yang mulai berdesir naik ke puncak ubun-ubun kepalanya. “Susah banget, ya, dibilangin. Lo mau bernasib sama kayak Melati?”

Ada perasaan aneh yang menerpa jantung Levi ketika mendengar nama Melati disebut Vannesya. Jantungnya terasa berdetak dua kali lebih cepat dan tiba-tiba menimbulkan perasaan yang sesak.

“Apa pun maksud lo tentang Melati, itu sama sekali nggak ada pengaruhnya bagi gue.”

“Lo harusnya sadar diri. Posisi lo saat ini cuman bikin Gerald merasa muak!”

Levi tertawa lucu. Memandang Vannesya dengan bengis. Vannesya memang mempunyai tinggi badan di atasnya, tapi sama sekali tidak membuat Levi merasa terintimidasi. “Yang harusnya sadar diri di sini itu lo!” kata Levi tegas sambil menunjuk wajah Vannesya. “Apa lo pikir setelah Gerald putus dari gue, dia mau sama lo gitu? Nggak usah mimpi!” Levi berjalan mendekati Vannesya. Mengikis jarak di antara mereka. Ia semakin memandang menusuk gadis berambut pirang itu dengan tatapan garang. “Gerald nggak akan pernah mau pacaran dengan cewek kayak lo!”

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang