"Sabito kun, apa yang kamu lakukan disini?" Makomo muncul dibelakang Sabito secara tiba-tiba
"A-ah...... i-itu.....," Sabito bingung menjelaskan.
Makomo mengalihkan pandangannya pada Shuri yang menangis. "Ah, kamu tidak apa-apa? Ya ampun, dahimu berdarah. Sabito kun, ayo cepat bawa ia kerumah, aku akan mengobatinya.
Mendengar perintah Makomo, Sabito langsung menngendong Shuri (ala bridal style). Mereka segera berjalan ke tempat yang mereka sebut rumah.
💮💮💮
Shuri / (y/n) POV
Setelah digendong Sabito aku diobati Makomo. Makomo sempat terlihat panik tadi. Selama dia mengobati dahiku yang terluka, pikiranku langsung melayang kemana-mana.
Aaaaaaaa aku menghancurkan martabatku sendiri. Bagaiman bisa aku menangis cengeng seperti itu..?! Itu sungguh memalukan! (Tenang Shuri kamu bisa kasih puppy eye biar ga dipermalukan)
"Sudah selesai," suara Makomo membuyarkan lamunanku. "Kita belum berkenalan tadi, aku Makomo dan laki-laki yang menggendongmu tadi Sabito, siapa namamu?" Makomo tersenyum ramah.
"Shuri, Himawari Shuri," ucapku perlahan sambil mendekap kedua kakiku dengan tangan.
"Jadi Shuri chan, apa yang kamu lakukan dihutan sendirian?" tanya Makomo.
"Main"
"Lalu bagaimana kamu bertemu Sabito?"
"Sabito san melihatku dari semak-semak, lalu saat ia menunjukkan diri aku takut jadi aku berlari darinya. Akhirnya aku tersandung akar pohon," jelasku sambil mengutuk akar pohon sialan yang membuatku jatuh didalam hati.
"Apakah orang tuamu memperbolehkanmu bermain di hutan, Shuri chan?"
Deg! Pertanyaan Makomo kali ini membuatku merinding sendiri. Aku menggelengkan kepalaku.
"Ahaha, begitu ya. Kalau kamu mau pulang, aku akan membantumu. Tapi sekarang apakah kamu mau berkeliling dan bermain disini?" ajak Makomo. Peluang emas seperti ini harus kuambil, mungkin aku bisa ikutan berlatih disini. Aku langsung mengangguk semangat.
Makomo tersenyum dan langsung menggenggam tanganku dan menarikku keliling dengan semangat (baca : menyeret). Sesekali bila bertemu murid lain, Makomo mengenalkanku padanya.
Sampai, di lapangan aku melihat siluet seseorang yang kukenal, rambut peachnya melambai-lambai tertiup angin.
"SABITO SAN...!!!" panggilku sambil berteriak dan melambaikan tanganku.
Sabito menoleh padaku. "Hai, um....," bingung Sabito karena belum mengetahui namaku.
Aku belum mengenalkan namaku ke Sabito ya... . "Shuri, Himawari Shuri," aku mengenalkan diriku pada Sabito.
"Begitu namamu Shuri ya," Sabito tersenyum lebar.
"Siapa dia?" sekarang siapa yang muncul. Aku menoleh ke asal suara.
"Oh, Giyuu. Dia ini Shuri, tadi dia terluka jadi aku dan Makomo mrmbawanya kesini untuk diobati," jawab Sabito santai menatap Giyuu yang bermuka datar.
💮💮💮
Akhirnya setelah lama ngobrol aku bisa pulang ke rumah.
"Oka-san...!"teriakku ketika masuk rumah (mode anak manja aktif)
"Ara, Shuri sudah pulang ya.. . Hari ini kamu main apa?" Oka-san mengelus kepalaku.
"Hari ini Shuri punya teman baru lho, Oka-san. Ada Sabito san, Makomo san dan Giyuu san," jelasku.
"Begitu ya.... . Apakah Shuri akrab dengan mereka ?" Oka-san menanggapi perkataan Shuri.
"Ya, sangat akrab. Shuri harap dapat terus berteman dengan mereka selama-lamanya...," ucapku dengan muka polos dan memeluk Oka-san.
Tapi apakah benar bisa...pertemanan kita bertahan lama? Apakah kita sungguh tidak berpisah nantinya...? Tenang, aku akan merubah takdir untuk kalian, Sabito san, Makomo san, Giyu san.
Senyum Shuri didekapan ibunya malam itu mulai merubah takdir.
Bersambung....
============================================
Hai, para readers. Author mau bilang kalo kemungkinan Author cuman bisa update 1-2 kali seminggu mulai hari ini. Karena banyak urusan lain yang harus author selesaikan.
Jangan lupa vote dan comment...
Byebye
KAMU SEDANG MEMBACA
Kimetsu no Yaiba_Kazoku
Fanfiction家族 Kazoku / Family Aku sangat mengharapkan kehangatan keluarga. Aku akan melakukan apa saja agar ada orang yang mau membagikan kasih sayang padaku.... jadi kumohon....seseorang..... bawa aku pergi dari sini..... Aku tidak ingin mati.... aku ingin hi...
