5.8 Diksi Terakhir

79.2K 9.7K 6.6K
                                        

Aku dan pak jinan menangis dipojokan melihat komen kalian yang bilang jinan ikon. Apakah poto wolrdwide handsome kim seokjin ghaib di cerita ini?:')

Aku harap kalian baca note ini ya.

—Kenapa badut? Karena semua orang punya topeng, tapi tak semua orang punya riasan senyum lebar untuk menutupi kesedihannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kenapa badut? Karena semua orang punya topeng, tapi tak semua orang punya riasan senyum lebar untuk menutupi kesedihannya.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi para penghuni posko 14 masih sibuk meramaikan pelataran rumah dengan teriakan dan tawa. Setelah diskusi untuk program kerja terakhir, Ten, Johnny, Yuta, Sana, Sejeong, Yerin, Joy, dan Kun sibuk bercengkrama dengan sang DPL melalui permainan Uno yang sengaja dibawa Jinan.

Dengan konsekuensi yang kalah wajahnya dicoret pakai bedak bayi Nata, dan sialnya Jinan dan Yerin yang malam ini jadi dakocan.

Bergeser sedikit dari kericuhan warga, ada dua tembok beton Doyoung dan Taeyong yang sibuk bergumul dengan laptop masing-masing. Yang satu sibuk dengan laporan, yang satu lagi sibuk membuat surat izin. Sedangkan Nata dan Jaehyun duduk di bale, bersenandung tembang lawas dengan ditemani gitar Hello Tweety-nya Jaehyun.

"Pulangkan saja...aku pada ibuku atau ayahku..." dendang Nata sembari memetik senar gitar.

"Uwoo uwoo uwoo ooo..." lanjut Jaehyun sebagai suara latar.

"Dulu segenggam emas kau pinang aku..."

"Uwoo uwoooo..." yang lain ikut meramaikan.

Nata sempat terkekeh, namun lanjut menyanyikan lagu yang terkenal di era 80-an tersebut.

Dulu bersumpah janji di depan saksi
Namun semua hilanglah sudah ditelan dusta
Namun semua tinggal cerita hati yang luka

Semua tepuk tangan mengapresiasikan suara indah gadis Shadiqa tersebut.

"Makasih makasih" Nata membungkuk pada semua orang, seperti penyanyi yang sedang mengakhiri konser.

Doyoung tersenyum kecil melihat kelakuan kekasihnya. Tak pernah sehari saja dia bosan melihat gadis yang selalu bisa membangkitkan suasana, terlebih hampir semua temannya sefrekuensi sama Nata. Sama-sama gila. Pantas saja posko mereka mirip kandang sapi, tak pernah sepi.

"Itu kayanya lagu ibu saya waktu muda deh...UNO!" komentar Jinan lalu berteriak saat tahu kartu yang ada di tangannya sisa satu, beruntung itu adalah gilirannya jalan, sehingga dia mengeluarkan kartu 8 merah sebagai kartu terakhir.

Akhirnya menang juga. Sudah hampir 8 putaran dia kalah terus.

"Emang pak, kalau Nata nyanyi berasa lagi di panti jompo" serbu Ten sembari mengintip kartu milik Sana yang langsung kena tampol gadis itu.

KKNTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang