[NOVEL SUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU BUKAN TOKO BANGUNAN]
kuliah kerja ngebaper, istilah yang digunakan untuk kegiatan kuliah tapi malah ngajak perasaan.
Baca cerita ini jangan di skip, sampe ke foto-fotonya jangan. Ntar pusing sendiri
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Biru, pilu, sembilu. Pelan-pelan saja, sakit hati memang tidak bisa diobati secepat burok, semua butuh proses. Dan jangan lupa untuk ajak orang lain untuk berproses.- Taeyong Devana Pasha.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Doyoung dan Sejeong bergegas ke pasar untuk menemui Pak Icing setelah Nata d an Taeyong pergi ke warung Teh Ola. Mereka disuruh Pak Jinan memberi surat izin tempat untuk melaksanakan kegiatan terakhir yang juga sebagai penutup rangkaian seluruh kegiatan mereka di desa, yakni perpisahan yang bertemakan Tentang Kita.
Langkah mereka terlihat santai padahal mereka sedang melewati kuburan, kata Sejeong ini jalan pintas agar sampai ke pasar lebih cepat. Tapi Doyoung sudah suudzon kalau Sejeong akan mengantarnya ke liang lahat melalui jalur pemenggalan kepala.
"Ini bener lewat sini?" tanya Doyoung sangsi waktu matanya tak menemukan satu jenis manusia pun di sana.
"Kenapa? Takut?" sindir Sejeong.
"Ngapain takut, kamu kan lebih serem...aw" ucapannya berbuah geplakan di kepala dari si gadis cantik itu, tangan Sejeong kasar banget, suwer gak bohong kalau bohong pantat Tenny nambah jadi empat.
"Mau ngatain lagi?" tantangnya.
"Hehe, ampun ndoro" Doyoung membungkuk padanya.
Sejeong pun mendecih.
Selanjutnya tak ada lagi yang berbicara, mereka sibuk menunduk untuk memperhatikan langkah mereka, takut jika menginjak kuburan yang tertutup ilalang-ilalang panjang tanpa sengaja.
"Doy," panggil Sejeong setelah mereka berhasil melewati rintangan tersebut.
"Hm"
"Sebenernya Yuta sama Nata kenapa?" tanyanya to the point dan berhasil membuat mata Doyoung agak membola.
"Kenapa apanya?" elaknya pura-pura tak tahu. Dia masih ingat pesan Nata untuk tidak menceritakan masalah tadi pada siapapun.
"Yuta gak mungkin nonjok Nata gitu aja kan? Lagipula tadi aku liat kamu sama Yuta sebelum masuk kantor desa" katanya menoleh, mencoba membaca raut wajah ketuanya.