[NOVEL SUDAH TERSEDIA DI TOKO BUKU BUKAN TOKO BANGUNAN]
kuliah kerja ngebaper, istilah yang digunakan untuk kegiatan kuliah tapi malah ngajak perasaan.
Baca cerita ini jangan di skip, sampe ke foto-fotonya jangan. Ntar pusing sendiri
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—anggap semua wanita adalah ibumu, maka sekali kau menyakitinya kau punya tanggung jawab untuk mengembalikan senyumannya.- Qalif Kun Khasyafani.
"Sungjae"
Joy langsung bangkit dari duduknya, menatap tak percaya apa yang dia lihat sekarang. Kekasihnya berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam, tatapan yang bahkan tak pernah sekali pun Joy lihat selama 6 tahun kehidupan hubungannya. Ya, Sungjae lebih dikenal sebagai sosok yang humoris dan nyablak seperti dirinya.
"Oh jadi gini kelakuan lu di belakang gue?" ujarnya dengan nada yang bahkan terdengar awam di telinga Joy.
"G gak gitu, gue bisa jelasin semuanya..." kata Joy panik. Sumpah, tubuhnya gemetar saking takutnya.
Kesalahpahaman yang kemarin saja belum selesai, apalagi sekarang ini?
"Mau jelasin apa lagi? Semua udah jelas."
"Sumpah, gak begitu, Jae..." rengek Joy memelas, bahkan matanya sudah mengembang air mata.
"Sekarang pembelaannya apa lagi?!" tanyanya menyentak.
"Kita cuma temen. Please percaya sama gue. Lu salah paham!" seru Joy mendekati Sungjae, meminta lelaki itu untuk bersabar mendengarkan penjelasannya.
Tapi Sungjae sudah kepalang emosi, kesabarannya sudah hilang terhembus angin, dia kemakan amarahnya sendiri sampai menepis tangan gadis yang biasanya dia genggam penuh lembut.
Kun hanya mampu terdiam. Dia bukan tidak ingin membantu, tapi dia rasa dia cukup untuk tidak ikut campur lebih dulu.
Sedangkan Sungjae menghela napas panjang, mengusak rambut frustasi, lalu mengerang menyuarakan amarahnya. Sudah cukup gila dia melihat Joy bersandar manja pada lelaki yang sudah dia anggap adik sendiri.
Jelas, Kun adik tingkatnya jika kalian lupa. Seberapa dekat pertemenan mereka? Sudah sampai saling main futsal bareng, nongkrong bareng, dan menghabiskan malam di cafe teman mereka. Sudah cukup untuk saling menganggap teman satu sama lain bukan?
"Kok anjing sih lu!" seru Sungjae menunjuk Kun dengan kilatan amarah yang memuncak, matanya memerah, tak sadar jika dirinya diliputi emosi yang meledak-ledak. "Kok bisa lu jadi kaya gini?! Lupa lu kalau Joy siapa? Joy tuh cewek gue!" Sungjae mendorong bahu Kun kuat-kuat, membuat Joy berteriak menahannya.
Beruntung jarak posko mereka jauh dari tetangga, dan lebih beruntung lagi Bu Uni sedang tidak ada di rumah sekarang. Semoga saja masalah ini bisa lebih beruntung lagi untuk tidak sampai ke telinga Pak Kades atau pihak LPPM kampus.
"Apaan sih?!" teriak Joy menghadang Kun dengan tubuhnya, menjadi tameng untuk lelaki yang hanya bisa diam saat dirinya hampir saja ditonjok orang.
"Minggir! Urusan gue sama dia" tunjuk Sungjae, matanya nyalang menatap Kun yang tetap diam tanpa memberi reaksi apapun.