Gathan tidak akan menyangka setelah pertemuan pertamanya dengan Gladies, akan berdampak besar pada kehidupannya. Memberi warna di setiap hari-harinya.
Namun tidak dengan Gladies. Baginya, Gathan itu adalah dampak buruk. Selain kehidupannya yang perl...
"Angin, jika engkau bisa, tolong sampaikan rinduku pada Mamah di atas sana. Katakan padanya, bahwa di bawah sini aku sangat merindukannya"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gathan menatap nisan itu dengan matanya. Perlahan ia berjongkok dan memagang nisan makam seseorang. Tanganya memegang pusara dengan lembut. Perlahan senyumnya mulai terbentuk di bibir Gathan.
"Apa kabar Mah?" Tanya Gathan dengan senyum yang memekar di bibirnya.
Gathan sekarang berada di depan makam sang Mamah. Orang yang paling ia sayangi dan cintai itu sekarang tinggal di balik nisan tersebut. Sudah tiga tahun semenjak kematiannya yang tidak pernah bisa Gathan lupakan sampai detik ini.
Gathan masih menatap nisan yang bertuliskan nama Mamahnya itu dengan sendu. "Mah, Gathan datang kemari untuk ketemu Mamah. Gathan sangat merindukan Mamah" Katanya masih tersenyum walau perlahan rasa sesak mulai menjalar sampai ke hatinya.
Gathan meletakkan sebuket bunga mawar yang sudah ia bawa. Ia letakan di atas nisan Sang Mamah.
"Gathan bawa bunga buat Mamah. Hari ini kan hari ulang tahun Mamah" Ucap Gathan berusaha menahan sesaknya. Dengan napas yang perlahan mulai menggebu. Gathan berusaha menahannya. Tidak untuk sekarang. Ia tidak boleh menangis di depan makam Mamahnya.
Tepat hari ini. Tanggal 13 September, hari ulang tahun Mamahnya. Gathan merayakannya dengan mengunjungi makam Mamahnya. Walau Sang Mamah sudah berpulang ke sisi Tuhan, Gathan masih tetap percaya bahwa Mamahnya ada di sini. Melihat anaknya datang mengunjungi makamnya.
Tes
Air matanya jatuh menimpa nisan tersebut. Sudah seberusaha mungkin Gathan menahanya agar tidak terjatuh. Namun sayang, air matanya lebih kuat dari pada dirinya sehingga ia tidak dapat membendungnya.
"Maaf Mah. Gathan udah coba nahan, tapi Gathan gak bisa. Maaf karena air mata Gathan jatuh di atas nisan Mamah" Ucapnya sambil menunduk.
Air matanya masih tetap jatuh di atas nisan Mamahnya. Gathan tahu kalau ini salah. Gathan tahu pasti kalau Mamahnya melihat Gathan meneteskan air mata di depan makamnya, ia pasti akan kena marah. Gathan berusaha tegar, namun rasa sesak dan sakitnya lebih kuat dari apa yang coba ia tahan.
"Mah, kalau Mamah mau marah gak papa. Gathan terima kalau Mamah marah sama Gathan, tapi Gathan gak bisa Mah, hidup seperti ini terus. Gathan gak kuat. Walau emang Gathan ini cowok, tapi Gathan udah gak sanggup lewatin batasnya, Mah" Air mata Gathan terus turun melewati pipinya dan jatuh ke bawah.