20 - Sisi Lain Gathan

502 29 2
                                        

Welcome readers

Alangkah baiknya vote dulu sebelum baca ya

Maafkan jika ada typo:v

Happy reading:)

"Aku tidak ingin bergantung padamu yang hanya membantuku berdasarkan rasa kasihanmu"

"Aku tidak ingin bergantung padamu yang hanya membantuku berdasarkan rasa kasihanmu"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gathan berdiri menatap nisan itu dengan tatapan pilu. Hari ini ia datang kembali seperti rutinitas hariannya. Mengunjungi makam Mamahnya untuk mengobati rasa rindunya.

Masih berdiri, Gathan menatap nisan bertuliskan nama Mamahnya. Hari ini Gathan tidak membawa sesuatu kemari. Tidak seperti biasanya, ia selalu membawa sesuatu. Entah itu bunga atapun yang lainnya.

Hari ini ia pulang lebih cepat dari biasanya, jadi lebih banyak waktu untuknya berdiam di makam, menemani Mamahnya yang sudah tiada.

Kadang ia berpikir, bagaimana jika ia tidak ada juga, sama seperti Mamahnya. Ia pergi ikut menyusul ke tempat Mamahnya. Apakah ada yang peduli jika ia tidak ada? Apa ia menjadi tenang dengan ini?

Gathan tahu ini salah. Tapi lebih salah lagi jika ia terus menolak keinginan Arya dan menjadi anak pembangkang. Gathan bingung, apa yang seharusnya ia lakukan untuk sekarang. Berdiam diri hanya menambah beban di hidupnya.

"Mah, apa yang akan Gathan lakuin ini salah? Apa Mamah setuju kalau Gathan lakuin ini?" Katanya yang masih berdiri menatap nisan Ibunya.

Perlahan Gathan mulai berjongkok. Memegang nisan Mamahnya dengan lembut "Mah... Maafin Gathan ya" Ucapnya dengan pelan.

Bulir air matanya sudah memenuhi kelopak mata, bersiap untuk jatuh ke bawah. Dan pada akhirnya, bulir air mata pun jatuh.

Gathan mendongak, mencoba menghentikan bulir air mata yang kembali jatuh. Tidak, Gathan tidak boleh menjatuhkan air mata di depan Makam Mamahnya lagi. Sudah cukup, ia harus menahannya sampai saatnya tiba. Sampai ia terlepas bersama dengan beban ini.

Langit di atas sudah berubah warna menjadi hitam. Gathan yang menatap langit merasakan kegelapan yang menyelimuti bumi. Sepertinya langit paham jika perasaan Gathan sekarang sedang tidak baik. Langit mengerti betapa sedihnya Gathan sekarang.

Tidak lama setelahnya, satu tetes air hujan turun menimpa kulitnya. Tetesan berikutnya mulai datang secara bersamaan. Gerimis tahap pertama sebelum hujan datang menyapa. Gathan bisa merasakan rambutnya yang tersentuh oleh air hujan.

Perlahan ia mengangkat benda yang berselimutkan kain hitam tersebut. Dari dalam saku jaketnya ia mengeluarkan benda tersebut.

Hello, Gath! (Series 1)  [COMPLETED]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang