Gathan tidak akan menyangka setelah pertemuan pertamanya dengan Gladies, akan berdampak besar pada kehidupannya. Memberi warna di setiap hari-harinya.
Namun tidak dengan Gladies. Baginya, Gathan itu adalah dampak buruk. Selain kehidupannya yang perl...
Hallo semuanya!! Apakabar kalian? Semoga baik ya kalian semua readers setiaku:v
Balik lagi sama aku untuk publish extra part 2. Senang kan? Iya?
Maaf untuk hiatusku yang terlalu lama, karena kondisi yang gak memungkinkan untuk nulis lanjutan part ini. Dan alhamdulillah sekarang bisa lanjut nulis lagi. Seneng rasanya bisa up lagi, walau lama hehe.
Semoga suka sama part ini^^
Jangan lupa alangkah baiknya vote dulu sebelum membacacerita ya😊
Jangan jadi SIDERS ya cantik dan ganteng:)
Happy reading semuanya:v
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepasang manusia yang sedang dimabuk kasih duduk berdua di taman. Beralasan karpet untuk tempat mereka berdua duduk, serta beberapa makanan dan minuman yang sebelumnya mereka beli.
Di tempat ini, suasananya begitu terasa menenangkan. Juga membuat hati serasa damai. Karena bunga-bunga yang memenuhi setiap sudut taman. Tidak hanya sudut, tapi setiap sisi taman. Gladies bisa menghirup aroma serbuk sari bunga yang wangi.
Gathan membawanya ke tempat yang tepat. Juga makanan yang sebelumnya mereka beli juga cocok untuk menemani waktu makan mereka.
"Gimana tempatnya? Bagus?" Gathan memulai obrolan dengan sebuah pertanyaan, setelah datang mereka berdua tidak memulai obrolan sama sekali.
Gladies mengangguk sambil tersenyum "Bagus. Banyak bunga yang mekar, warnanya cantik-cantik" Ujarnya.
"Aku rasa gak cantik bunganya" Ucap Gathan.
Gladies mengernyitkan dahinya. Menurutnya bunga disini sangatlah cantik, bahkan jika dikata cantik justru lebih cantik. Dilihat dari berbagai warna yang menghiasinya.
"Mata kamu normal kan? Bunga segini cantiknya bisa kamu bilang gak cantik?" Sergah Gladies, yang memang benar nyatanya.
"Gak kok" Gathan masih tetap menjawab tidak.
"Bagus"
"Enggak"
"Kenapa kamu bisa bilang gak cantik?" Tanya Gladies sedikit sewot.
Gathan terkekeh pelan. Kemudian ia perlahan tersenyum, menunjukan senyum manisnya "Karena cantiknya pindah ke kamu" Katanya.
Deg
Gladies bisa merasakan jantungnya seperti tertabrak sesuatu. Bunyinya tidak biasa. Detaknya pun juga. Ia merasa hampir kehilangan napas hanya dengan perkataan Gathan.
Pipinya merona merah menahan malu. Gladies menoleh ke samping dengan cepat untuk menutupi rona merah dipipinya. Sedangkan si pembuat rona merah di pipinya justru malah asyik tersenyum. Memandang aksi lucu pacarnya ketika sedang malu.