Hari ini Hanum tampil dengan beda sekali, seperti sekarang memakai kebaya biru muda dengan hijabnya yang senada, raut bahagia tidak pernah lepas dari wajahnya. Karena ini adalah hari dimana iya membanggakan Umi dan Abinya.
Hanum sudah sampai di kampusnya di antar oleh supir, karena suaminya sedang buru-buru ada rapat penting hari ini. Jadi tidak bisa mengantar Hanum.
"Hanum.... Hanum!" Teriak seseorang yang sudah di kenal sekali siapa lagi kalau bukan Tiara.
"Yaampun cantik banget" puji Tiara melihat Hanum dengan anggunya.
"Kamu juga tuh beda sekarang tampilannya lebih dewasa" kekeh Hanum.
"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Hanum.
"Di anter, paling nanti Ibu sama Ayah datangnya, kalo kamu?"
"Sama aku juga gitu" ucap Hanum lalu mulai berjalan ke gedung.
Skip
Selesai dengan acara tersebut, dan sekarang waktunya foto-foto, dan Hanum sudah di tunggu dengan Umi Abinya dan Ibu mertuanya.
Hanum mengedarkan pandangan mencari laki-laki yang di tunggunya sedari tadi tapi belum juga ada.
"Sayang selamat ya" ucap Mama Hamzah sambil memeluk bahagia.
"Iya ma"
"Oh.. iya papa nggak bisa datang masih di luar kota" ucap Mama menjelaskan.
"Iya Ma nggak papa" ucap Hanum.
Setelah itu Hanum memeluk Uminya dan tangisnya punpecah saat memeluk wanita hebatnya.
"Makasih ya Um" ucap Hanum.
"Udah nggak usah nangis dong, selamat ya nak Umi bangga banget" ucap Umi.
Setelah itu ke Abinya, cinta pertama Hanum kepada laki-laki yang tidak pernah mematahkan semangatnya.
"Anak Abi selamat ya, semoga ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak" Ucap Abi.
"Aamiin.. makasih ya Bi"
Setelah itu mereka foto-foto dengan raut kebahagian, beda dengan Hanum yang sudah berubah dengan tatapan sendu.
"Semarah ini kamu sama aku mas"
Hanum tetap mengedarkan pandangannya berharap suaminya akan datang. Tanpa segaja malah melihat pemandangan yang membuat Hanum iri saat dimana yang lain laki-laki yang dicintanya datanh, tetapi segera di tepis pikiran irinya.
"Hmm suami kamu kaya nya lagi sibuk ya?" Tanya Abi yang melihat raut putrinya berubah menjadi sedih.
"Iya kayanya Bi" ucap Hanum dengan senyum getir.
"Udah-udah lebih baik sekarang kita makan-makan ajah untuk acara merayakan kelulusan Hanum" ucap Mama.
Dan akhirnya Hanum dan keluaarga mencari tempat makan.
-----
20:00
Saat ini Hanum sudah merebahkan tubuhnya di kamar. Suaminya saat ini belum juga pulang.
Tiba-tiba Hanum mendengar suara mobil masuk gerbang, segera Hanum bangkit dari rebahannya lalu menuju ruang depa untuk membukakan pintu.
Setelah membuka pintu Hanum melihat Suaminya yang dengan tatapan datar, segera Hanum menyaliminya.
"Hmm.. kamu udah makan?" Tanya Hanum yang mengikuti langkah suaminya.
"Udah tadi" ucap Hamazah dingin.
Tidak ada ucapan selamat untuknya, bahkan suaminyapun seakan menaggapinya biasa saha, seketik tangis Hanum ingin pecah.
"Kamu nggak usah ikutin aku, aku bisa urus diri aku sendiri" ucap Hamzah saat akan menaiki tangga.
Hanum hanya diam mematung mendengar ucaoan seperti itu. Segera Hanum berjalan ke kamarnya.
Hiks..hiks.. hiiks
Tangis Hanum pecah saat sudah di kamar.
Pikir Hanum suaminya akan mengucapkan selamat padanya, atau memberikannya buket bunga, tapinya nyatanya tidak sama sekali.
Rasa bersalahpun tidak ada, bahkan malah menyuruh Hanum untuk tidak mengurusi hidupnya lagi.
"Sebesar itukah salah aku Mas, sampai kamu seakan benci ke aku" ucap Hanum di sela tangisnya.
Setelah puas menumpahkan tangisnya Hanum segera mengambil wudhu untuk tidur.
Lelah rasanya Hanum jika seperti ini terus.
Hanum memandang langit-langit kamar dengan pikiran yang berantakan, dan berdoa semoga esok ada kebahagian menghampirinya.
-----
Di lain tempat saat ini Hamzah hanya diam termenung di tempat tidur sambil memandang langit-langit kamar.
Hamzah bingung harus bersikap seperti apa kepada istrinya. Rasa bersalah selalu menghatuinya saat melihat gadis yang ia cintai menangis karena dirinya.
Hamzah selalu mendengar tangis istrinya setiap malam, dan saat pagi melihat istrinya yang sudah sembab matanya tapi berusaha tetap tersenyum saat melihat dirinya.
"Maafkan aku Hanum aku belum bisa ikhlas, dengan kejadian kemarin dimana kita kehilangan buah hati yang kita nanti selama beberapa tahun inu, dan itu sangat sulit menerima kenyataan pahit itu"
------
Kumandang Adzan subuh sudah terdengar di telinga Hanum, Hanum segera melaksanakan kewajibannya dan dianjut dengan murajaah.
Setelah itu Hanum keluar dari kamarnya segera menyiapkan sarapan. Tetapi kali ini beda Hanum hanya menyiapkan saja di meja makan setelah itu Hanum kembali lagi ke kamar.
Karena Hanum terus merasa sakit saat melihat suaminya. Jadi hari ini mencoba menghindar dulu untuk menata hatinya kembali.
Dan Hamzah baru saja turun dari tangga menuju ruang makan, dan dilihatnya sepi sekali. Tidak ada istrinya yang biasanya sibuk menyiapkan makan lalu menyapanya dengan senyuman hangat meskipun Hamzah sering membuatnya menangis.
Di meja makan sudah ada sarapan, Hamzah mengedarkan pandangannya kesekitar mencari istrinya yang mungkin saja sedang membereskan dapur, tetapi tidak ada.
Segera Hamzah memakan sarapan dengan penuh keheningan. Meskipun kemarin dia tetap mendiamkannya setidaknya masih ada yang menemaninya makan.
Ingin sekali rasanya Hamzah mengetuk pintu kamar istrinya, tapi untuk sekarang masih belum bisa.
Selepas kepergian Hamzah ke kantor, Hanum barus saja keluar dari kamarnya dan segera merapikan meja makan.
Hanum rindu suasana dulu, ingin sekali rasanya berbicara kepada suaminya untuk menjelaskan semuanya agar rumah tangganya segera baik-baik saja. Tetapi ia takut, ia takut kejadian seminggu kemarin terulang kembali dimana suaminya membentaknya.
------
Tbc.
Jangan lupa votenya ya🙏
Makasih❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanum & Hamzah | END
SpiritualeKala berhadapan dengan hidup yang kadang biru, kadang kelabu, tak asing bagi kita untuk akhirnya berkutat pada angkasa. . . . . Ini cerita Hanum dan Hamzah yang di jodohkan.
