30. Jadi gimana

3.8K 150 7
                                        

Hujan kembali membasahi bumi, diselingi dengan suara geludug yang seakan sedang mengisi suara langit subuh ini.

Hanum yang saat ini sedang murajaah tiba-tiba tangisnya kembali pecah. Pikarannya kembali kepada suaminya sampai kapan rumah tangganya harus seperti ini.

Apakah semarah itu suaminya pada dirinya?
Sekecewa itukah pada dirinya, sampai sulit sekali untuk menerim takdir yang sudah di tentuka  Allah swt.

Setelah itu Hanum segera menyudahi membaca Al-Qur'annya. Hanum berjalan ke arah jendela dan dilihatnya butiran-butiran hujan yang mengenai jendelanya.

Kita seperti orang asing padahal kita satu atap bersama. Dan kalau aku boleh bilang, aku juga sakit, sedih atas kehilangan calon buah hati kita. Di tambah lagi dengan kamu yang berubah sikap seperti itu membuat hati aku seakan bertambah sakit.

Hanum segera berjalan ke dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya.

Baru saja masuk ke dapur, di lihat suaminya yang sedang mengambil air putih, seketika hati Hanum merasakan sakit.

"Hmm.. Mas, mau aku bantu?" Tawar Hanum, dan seketika Hamzah melihat ke arah siapa yang baru saja memanggilnya.

"Aku bisa sendiri" ucapnya lalu pergi begitu saja.

Hanum hanya menghela nafas, lalu segera melanjutkan niat awalnya ia pergi ke dapur yaitu membuat sarapan.

Setengah jam kemudian Hanum beres dengan masakannya, seperti biasa Hanum menyediakannya di meja makan.
Dan di lihat suaminya sudah rapi dengan pakaian kantornya, rasanya Hanum ingin sekali menyiaokan pakaian suaminya seperti dulu.

"Aku udah buat sarapan, kamu mau sarapan di sini atau di kantor?" Tanya Hanum, karena kadang suaminya suka memilih untuk di kantor.

"Disini ajah" ucapnya dengan datar, seketika senyuman Hanum mengembang.

Hanum hendak saja akan menyendokan makanan untuk suaminya tapi Hamzah bilang kalau dia bisa sendiri. Seketika senyuman Hanum yang baru saja mengembang seakan kembali luntur.

"Mas aku mau kita kaya dulu lagi" ucap Hanum, seketika membuat Hamzah berhenti makan.

"Aku minta maaf mas" ucapnya lagi.

Hamzah hanya diam tidak mengatakan apa-apa dan sulit di artikan juga dengan tatapannya, lalu kembali melanjutkan makannya.

"Aku langsung berangkat" pamit Hamzah, lalu Hanum segera menyalimi. Dan mengantarnya sampai kedepan rumah.

"Kamu bawa payung nggak? Itu masih gerimis" Tanya Hanum, dan yang di tanya hanya diam lalu segera masuk kedalam mobil.

Selepas kepergian Hamzah, Hanum mendudukan badannya di ruang tamu.
Rasanya lelah sekali harus seperti ini terus.

-----

Dilain tempat saat ini Hamzah sedang dalam perjalanann ke kantornya sambil terpikir Hanum yang bicara seperti itu. Rasa bersalah selalu menghampiri.

Hamzah juga sama rindu dengan suasana dulu, tapi saat ini ego hamzah sangat tinggi.

Tiba di kantor Hamzah langsung masuk ke ruangannya, banyak karyawan yang menyapanya tapi beda dengan Hamzah dia menghiraukannya bahkan saat di kantor Hamzah berubah menjadi dingin.

Selesai dengan pekerjaannya Hamzah saat ini menuju tempat makan yang tidak jauh dari kantornya, biasanya Hanum akan mengirimkan makan siang tapi sudah seminggu tidak lagi mengirimkannya mungkin Hanum tau kalau makanannya tetap tidak akan di makan.

Hamzah segera memesan makanan, dan berjalan ke arah meja pojok dekat dengan jendela.

"Hey Hamzah?" Panggil seseorang dan Hamzah langsung menoleh.

"Wulan?"

"Aku boleh duduk di sini ya?" Tanyanya.

"Bolehko"

"Tumben sendiri?"

"Iya nih, kamu lagi ngapain?" Tanya Hamzah sambil melanjutkan kembali makannya.

"Aku abis jalan tadi sama temen-temen, trus mau beli makanan si.. eh aku liat kamu yaudah deh jadi makan di sini ajah" jawabnya sambil terkekeh.

"Ohh"

Setelah itu mereka melanjutkan makannya dengan diam.

Setelah selesai makan,
"Kamu mau langsung ke kantor lagi ya?" Tanya Wulan.

"Iya.. masih banyak kerjaan" ucapnya.

"Yaudah aku duluan ya, sampai ketemu lagi di lain waktu Hamzah" ucapnya sambil tersenyum.

Setelah itu hamzah kembali ke kantor.

Tapi di lain tempat ada yang melihat keakraban mereka, siapa lagi kalau bukan Hanum. Hanum tadinya akan mengantarkan makan siang tetapi saat mau membelokan mobilnya ke arah kantor, tak sengaja melihat mobil suaminya yang hendak meninggalkan kantor. Dan akhirnya Hanum berinisiatif untuk mengikutinya dan melihatnya dari jauh taklama kemudian datanglah perempuan yang lumayan akrab sekali dengan suaminya. Hanum semakin memperjelas pandangannya ternyata Wulan.

Saat ini Hanum sedang menyetir mobil menuju ke rumah, baru saja iya melihat suaminya yang akrab sekali dengan Wulan, ada sedikit rasa sakit saat melihat keakraban mereka. Hanum hanya takut saja suaminya berpaling darinya.

Hanum menghela nafasnya saat sudah sampai rumah dan melihat rantang makanan dengan tatapan sedih.

Hanum segera berjalan kelantai atas yaitu ke kamarnya. Hanum langsung merebahkan dirinya dengan pandangan menatap langit-langit kamar. Setetes demi setetes buih air mata jatuh dari mata teduhnya.

Asstagfirullah.. Hanum nggak boleh berpikir yang aneh-aneh ucapnya meyakinkan hatinya sendiri.

Segera Hanum mengusap air matanya dan mendudukan dirinya, sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 13:50, Hanum segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk berwudhu dan murajaah agar hatinya terasa tenang kembali.

-----
Tbc.
Assalamualaikum..teman-teman gimana puasanya masih lancarkan😊 jangan lupa juga Al-kahfi nya.
Jangan lupa votenya sama comennya juga supaya aku rajin upnya.

Jum'at, 15 Ramadhan 1441H




Hanum & Hamzah | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang