Waktu memang berlalu secepat itu tanpa di sadari. Hanum sudah melewati ujian dalam rumah tangganya, yang sudah membaik beberapa bulan lalu. Tapi entahlah ujian itu akan kembali datang kapan saja, sikap kita hanya ikhlas dan sabar.
Lalu sekarang ia kembali seperti biasa menjalani hidupnya layaknya sepasang dua insan yang sedang merengkuh kebahagiaan.
"Alhamdulillah, aku masih bisa menatap senja bersama kamu" ucap Hamzah, yang matanya pokus melihat senja terbenam di ujung lautan.
"Kamu masih ingat awal kita kenal, sampai akhirnya kita saling jatuh cinta? Aku berharap cinta itu nggak pernah pudar sampai kapanpun, sama seperti cinta kamu ke Allah"
Hamzah lalu kembali menatap Hanum, lalu menggenggam tangan Hanum "tanpa perlu kamu mengatakannya aku akan tetap bertahan sampai salah satu dari kita di ambil oleh semesta"
Mereka yang sedang duduk di tepi pantai sambil melihat senja, seakan saling berjanji. Di tambah dengan hembusan angin yang menyapu kedua wajah mereka.
"Aku harap begitu" ucap Hanum dengan senyuman manisnya.
----
Pagi kembali menyapa Hanum yang sedang sibuk menyiapkan sarapan, tidak sadar sedang ada yang memperhatikannya.
Hamzah mendekat lalu memeluk Hanum dari belakang.
"Pagi Humaira" suaranya yang pelan membuat Hanum merinding.
"Kamu jangan kaya gini, aku jadi susah geraknya, berat juga tau nyender-nyender" ucap Hanum.
Hamzah kembali mengeratkan pelukannya, "Tapi suka kan" ledek Hamzah dengan terkekeh.
"Apasi mas"
Hamzah langsung melepaskan pelukkan nya, benar juga dia menganggu kecepatan memasak istrinya.
"Hanum kayanya nanti aku pulang telat, gapapa kan?"
"Ya gapapa mas" Hanum langsung meletakan nasi goreng yang sudah di masakannya di meja makan.
Hamzah segera duduk "kamu kalau ngantuk, nggak usah nunggu aku ya"
"Iya mas" ucap Hanum lalu menuangkan air putih untuk Hamzah.
Di sela-sela makannya Hanum menatap Hamzah dan pas juga Hamzah melihatnya.
"Ciee.. lirik lirik" goda Hamzah.
Hanum diam menahan malu karena ketahuan "orang aku cuma liat ajah" elak Hanum sambil minum.
"Bilang ajah aku ganteng, yekan"
Hanum mendengarnya dengan malas "cepet udah abisin, nanti telat kerjanya"
Hamzah yang sudah selesai sarapan kembali memperhatikan istrinya yang sedang sibuk merapikan. "Kamu hobby banget ya liatin aku kaya gitu" ucap Hanum.
"Kamu ajah suka liatin aku kalau lagi tidur, bilang ajah kalau suamimu ini tampan, jangan curi-curi pas lagi ga sadar" ucapnya sambil terkekeh.
"Pede nya makin naik Mulu ya pak, masyaAllah"
Hamzah mendengarnya hanya tertawa, "yaudah aku berangkat dulu ya"
Hanum segera mencium tangan suaminya "hati-hati ya mas"
Baru saja Hamzah akan masuk kedalam mobil, Hanum kembali berteriak lalu menghampirinya "nanti aku izin mau main sama Tiara gapapakan?"
"Yaudah, pulangnya jangan ke maleman" ucap Hamzah.
"Iya mas makasih" setelah mobil Hamzah keluar dari gerbang rumahnya. Hanum segera masuk ke dalam rumah.
-----
Hanum POV
"Mari kita Sambut Ibu negara yang so sibuk" ucap Tiara dengan begitu hebohnya di dalam mobil.
Hanum menatap dengan tatapan kesalnya lalu masuk ke dalam mobil "sibuk apaan si kamu kalo minta di antar juga aku iyain"
"Hehe.. baperan nih sekarang ya"
"Apaan si, udah ayu berangkat" ucapku.
"Siap bos, mau kemana kita hari ini?"
Aku menatapnya dengan heran, ini anak emang luapa apa gimana si? Semalem dia yang ngajakin, sekarang malah mau nanya kemana. "Apa si liatnya ko gitu banget" tanya Tiara heran.
"Semalem kan kamu yang ngajakin, ko jadi nanya lagi mau kemana" ucapku.
Tiara hanya terkekeh "kali mau berubah tujuan"
Di perjalanan aku hanya diam mendengarkan segala curhatan Tiara yang tiada habisnya.
Sesampai di tempat yang kita tuju, Tiara bilang kalau dia kebelet ingin ke toilet. Segera kami menuju ke arah toilet.
Tiara mengajakku untuk makan bareng, dan mencari-cari belanjaan yang mau dia beli. Sekalian juga si udah lama nggak pernah ketemu.
"Hanum kayanya aku gemukan ya" tanyanya di saat kami sudah duduk dan mau memesan makanan.
Aku memperhatikan dia " nggak juga" ucapku yang memang benar tidak ada perubahan apa-apa dia masih kurus.
"Beneran?" Tanyanya memastikan.
"Iya"
"Okelah kalau gitu aku mau mesen banyak" ucapnya degan cepat.
Aku menikmati makanan ku, dan Tiara tidak dia selalu bilang aku rasa kita salah tempat deh ya bisa di bilang makanan yang dia pesan kurang enak tapi tetap saja dia habiskan.
"Kamu tau nggak? selama kamu nunda kuliah aku sedih nggak ada temen ngobrol" ucapnya.
"Kamu nya ajah kurang memperhatikan sekitar" jelas ku, yang memang benar bahwa Tiara ini sulit untuk beradaptasi kembali dengan orang baru. Dia selalu bilang aku cukup teman satu yang penting sefrekuensi sama aku dan ya dia bilang aku orangnya.
"Udah gitu rasanya emosi semakin naik kalau ketemu dosen ngeselin itu" ucapnya yang sambil menusuk nusuk makanannya dengan sendok.
"Siapa? Pak Rangga?" Tanyaku.
"Iya si dosen kutub utara yang tersesat sampe sini, astagfirullah dinginnya ngalahin kulkas ma gua" ucapnya dengan gereget.
Aku mendengarnya ocehannya tertawa, memang lucu Tiara ini selalu kesal dengan pak Rangga dosen yang sedikit menyebalkan.
"Oh iya btw kamu udah baikan ya sama pak suami?" Tanyanya dengan raut wajah menyebalkan.
"Alhamdulillah"
"Cieelah.. makin bucin ajah dah tuh di rumah ya" sambil tertawa kencang, aku segera menginjak kakinya di pikir lagi di rumah sendiri kali ya, udah tau di tempat umum malah ketawa kenceng.
"Nggak malu-maluin bukan sahabat" ucapnya.
"Bentar dulu ya, aku mau ngabarin Mas Hamzah dulu" ucapnya yang pasti di ledekin kembali.
"Dahlah dahlah sibuk, kacang kacang kacang kriuk kriuk kriuk kacang pilus Garuda" ucap Tiara yang mengikuti nada iklan kacang pilus.
"Telpon ajah nggak papa ko, nanti bapak negara marah kalo nggak cepat-cepat di kabari" ucapnya lagi.
"Tiara?" Panggilku.
"Hmmm" sambil menatapku.
"Kapan nikah, kan umur makin tua nih ya" ucapku sambil terkekeh.
"Kapan-kapan ya" ucapnya kesal.
Ya seperti itulah Tiara dia masih ingin bersenang-senang, dan dia selalu bilang mau lulus kuliah dulu biar nggak pusing sama dosen ngeselin.
-----
KAMU SEDANG MEMBACA
Hanum & Hamzah | END
SpiritualKala berhadapan dengan hidup yang kadang biru, kadang kelabu, tak asing bagi kita untuk akhirnya berkutat pada angkasa. . . . . Ini cerita Hanum dan Hamzah yang di jodohkan.
