-Part 31-

5.8K 308 87
                                        

Happy Reading!

"Gavin!"

Keisha berlari dengan air mata yang berlinang, saat ujian kelas XII selesai gadis itu berniat menemui mantan pacarnya dan meminta penjelasan mengapa ia memutuskan dirinya.

"Kenapa beb?" tanya Gavin.

"Allard kenapa sih Vin? Keisha ada salah?"

"Atuh Gavin juga gak tau beb." ucap Gavin sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.

Nayya datang menyusul dengan Qia dan Aletta. "Udah Kei biarin aja dulu." ujar Nayya menenangkan.

"Gak! gue gak bisa, dia jahat. Salah gue apa Nay?" tanya nya di sela-sela tangis.

"Kei, terkadang lelaki terlihat begitu mencintai gadisnya padahal tidak. Begitupun sebaliknya, Gadisnya terlihat begitu tidak mencintai lelaki nya padahal sangat." tutur Aletta sambil mengelus pundak Keisha.

"Tap-"

"Udah kan masih ada kita Kei." potong Qia.

"Makasih yaa kalian!" Keisha memeluk ketiga sahabat nya itu.

"Ekhem! Gavin engga?" tanya nya sambil memanyunkan bibirnya.

"JIJIK!" cibir Nayya. Kalian tau? Gavin itu menganggap Nayya itu pacarnya. Bukan hanya Nayya, bahkan Aletta,Qia dan Keisha juga hahaha.

"Pasti dia punya alasan kenapa dia mutusin lo Kei, itu juga buat kebaikan lo." lanjut Nayya membuat Keisha mengangguk.

"Tapi gue harus tetep nyari tau Nay, gue gak terima." keluh Keisha.

"Iyaa yaudah, jangan sedih lagi beb." sahut Gavin.

"Bab beb bab beb." ketus Nayya.

"CIEE CEMBURU!!" ledek Keisha, Aletta dan Qia.

"Gak!"

Dylan dengan nafasnya yang tak beraturan menatap Allard dengan tatapan membunuh. Lelaki itu tak habis pikir, bagaimana bisa Allard memutuskan sepihak saat gadisnya sedang rapuh? idiot.

"Pukul gue terus Lan." pinta Allard.

"Udah Lan udah." lerai Leo.

BUGH BUGH!

Di taman belakang sekolah yang sudah sepi membuat Dylan berani memberi pelajaran kepada sahabatnya itu. Tak henti-henti Dylan memberikan pukulan ke wajah tampan Allard.
Pelipisnya sudah robek, ujung bibirnya berdarah, mata nya membiru. Benar-benar kusut penampilan Allard saat ini.

"Gue emang gak pernah berani sama lo Al. Tapi, kalo udah soal perempuan, gue gak bakal diem." murka Dylan.

"Sorry Lan, gue gatau harus apa." Allard mengeluarkan suara frustasi.

"Lo boleh menyandang status ketua, Ketua Osis, Ketua Basket, Ketua Graster. Tapi itu semua gak berarti kalo lo gak bisa ngehargain perasaan perempuan." lanjut Dylan.

ALLARD [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang