6. PERINGATAN

12.1K 662 5
                                        

Astagfirullah, lo kalo mau bunuh diri jangan di mot--."ucapnya terpotong saat menyadari siapa gadis dihadapannya ini.

"Alin."

Bara melepaskan helmnya lalu turun menghampiri Syarlin yang tengah menetralkan deru napasnya yanng masih memburu.

"Bara tolongin gue, Preman itu ngejar gue lagi."ujar Syarlin tanpa sadar memegang kedua lengan Bara.

"Tinggal lo hajar."

"Masalahnya mereka bawa rombongan."

"Rombongan haji?."celetuk Bara asal, lalu lelaki itu terkekeh.

Syarlin berdecak kesal. "Ck, gak usah becanda. Gue serius!."

"Iya nanti gue seriusin. Makanya ayo."kata Bara pada Syarlin.

"Ayo kemana?."tanya Syarlin heran.

"Ayo pacaran."

Syarlin mencubit perut Bara kencang, membuat si empu meringis kesakitan. Tak lupa setelahnya terkekeh karena membuat gadis dihadapannya ini berenggut kesal.

"Woy. Sini lo."teriak preman itu saat melihat targetnya.

Bara dan Syarlin menoleh. Preman itu sudah berdiri tidak jauh dari hadapan mereka.

Bara menarik tangan Syarlin yang terdapat luka goresan tadi untuk berlindung ke belakang tubuhnya. Namun,

"Aw aw sakit."ringis Syarlin membuat Bara menoleh.

Bara menatap luka Syarlin, "Mereka?."tanya Bara lalu Syarlin mengangguk sebagai jawabannya.

Tanpa Syarlin sadari, Bara mengeraskan rahangnya menahan marah. Lihat saja, Bara akan menghabisi orang yang sudah menyakiti gadis kesayangannya.

Sebelah tangan Bara mengeluarkan dasi dari kantong saku celananya. Lalu melilit dasi itu dengan pelan ketangan Syarlin yang terdapat luka.

Syarlin terus mengamati pergerakan Bara yang membungkus lukanya menggunakan dasi miliknya, dan tanpa sadar hatinya menghangat. Senyumnya terbit meski tipis.

"Lo tunggu disini."kata Bara pada Syarlin. Lelaki itu lantas berjalan menghampiri Preman.

"Beraninya sama cewe. Sunat lagi aja sana."ujar Bara mengundang amarah Preman itu.

Bara menangkis saat Preman itu melayangkan pukulannya, menghindar dan balas memukul lawannya tepat di perutnya.

Bara berusaha fokus menangkis saat dirinya diserang lima Preman sekaligus. Bara menyikut wajah Preman itu dengan wajah tengilnya. "Mampus, makan tuh sikut gue. Beraninya sama jodoh gue yang cantik." 

***

"Halo sayang?."sapa Rey melambaikan tangannya pada gadis yang dilewatinya dikoridor.

Terhitung sudah banyaknya gadis yang disapa Rey pagi ini membuat Adit, Gerry dan Darrel memutar bola matanya malas. Hari ini mereka datang tanpa sang Ketua.

"Tobat Rey! Allah gasuka liat hambanya kayak gini."ceramah Darrel menggeleng pelan sambil menepuk bahu Rey.

Rey menoleh, "Ck. Mending lo ikutin gaya gue. Liat noh degem kita semok - semok njirrr."

"Iya juga sih Rey. Beuhhhh body nye macam gitar spanyol."seru Darrel melupakan segala nasehat yang baru saja ia berikan pada Rey.

Gerry menggelengkan kepalanya. "Gobloknya ke DNA. Lemah imannya, bisa gagal jadi ustad ini mah."

"Temen lo."ucap Adit datar.

"Kok temen gue?."tanya Gerry polos.

"Sama gobloknya."kata Adit dengan sarkasnya.

AFFRAY (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang