Episode 38

869 42 2
                                    

Uni's Pov

Setelah melalui banyak kebetulan-kebetulan, entah itu menyenangkan atau kegundahan. Pada akhirnya kita akan sampai pada satu titik skenario terindah. Di mana semesta berkonspirasi takdir baik dengan menghubungkan dua umat manusia yang saling percaya akan kekuatan doa.

Aku memang wanita tidak sempurna, lahir dengan banyaknya kekurangan. Sikapku pun tidak semenyenangkan istri Rasul, namun aku sedang di tahap perubahan. Aku tak berharap untuk jadi sempurna, atau menjadi yang terbaik dari orang lain. Bagiku menjadi lebih baik dari sebelumnya sudah cukup, menjadi perempuan yang enak dipandang sudah bersyukur, sebab sesungguhnya rival kita bukan orang lain tetapi diri kita sendiri.

Mengalahkan orang lain itu mudah, namun mengalahkan diri sendiri? Apa mungkin kita bisa?

Ada banyak pelajaran yang kudapat semasa Ramadan kali ini. Menuruti keinginan Abi untuk mondok yang menjadi awal pertemuanku dengan Kak Radi, belajar masak, ikut pesantren, belajar ngaji, ketemu Kak Nunii—sang penulis, bertemu Gea dan Narti—si kutu buku, merasakan pahitnya berharap kepada manusia—peristiwa pernikahan Kak Indra, malu sebab salah curhat, dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan satu-satu.

Intinya, semua yang terjadi selama sebulan ini tak luput dari skenario-Nya. Perihal kebetulan-kebetulan yang entah itu menyenangkan atau tidak juga bagian dari skenario-Nya.

Kita ini pemeran, punya cerita masing-masing, yang tentunya berharap berakhir bahagia bukan?

Jadi, mari kita ciptakan akhir kita sendiri. Tapi jangan lupa untuk selalu melibatkan Ia dalam tindakan kita.

Sama halnya dengan diriku.

Aku tidak tahu, apakah ini menjadi akhir atau mungkin menjadi awalan, atau bisa jadi kedua-duanya. Mengakhiri satu kisah, demi mengawali kisah baru lagi. Bisa dikatakan perjalanan berantai, cerita berantai, atau apapun yang kalian istilahkan. Satu harapanku, semoga akhir atau awal ini, aku tak pernah melupakan-Nya dalam mengambil langkah atau keputusan. Semoga aku selalu mengingat-Nya, entah di kala aku susah atau pun senang. Sebab sebaik-baiknya hidup, ialah hidup yang selalu melibatkan Ia dalam setiap perjalanan kisah kita.

"Kak Uni, bisa foto?" tanya Gea setelah menerobos masuk ke kamarku.

Aku kaget, di belakangnya sudah ada Narti siap dengan kamera ponselnya.

"Boleh," ucapku mengindahkan permintaannya.

Kedua remaja itu pun mendekat ke arahku, lantas mengangkat kamera ponselnya. Sebelum Narti menekan tombol mengambil gambar, suara seseorang menghentikan aktivitasnya.

"Tunggu! Tidak boleh foto bertiga orang, pamali!" ucap orang itu yang tak lain adalah Kak Rehan.

Kedua remaja itu langsung mendengus kesal.

"Bilang ki saja, Kak, kalau mau ki ikut foto," ucap Gea.

Kak Rehan terkekeh, lantas berjalan ke arahku. Dia berdiri di belakangku karena aku sudah diapit oleh Gea dan Narti.

Narti kembali mengangkat kamera ponselnya, sambil menghitung satu sampai tiga.

Ckrek!

Satu gambar telah berhasil diabadikan.

"Satu kali pi," ucap Gea.

Kami pun mengambil pose yang beda dari sebelumnya.

Narti kemudian mengangkat kamera ponselnya, menghitung satu sampai tiga.

Ckrek!

Untuk kedua kalinya, sebuah gambar diabadikan.

"Eh, lagi!" seru Gea kembali.

Taaruf dalam Doa || SELESAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang