Belum lebih dari satu meter ia meninggalkan mobilnya di parkiran sekolah, ia sudah dikagetkan oleh kemuculan seorang gadis yang tiba-tiba melompat ke hadapannya.
"Pagi, Angkasa!"
Siapa lagi, gadis gila yang tidak tahu malu masih mendekatinya padahal sudah terang-terangan ia tolak, Rainne Naomi.
Gadis itu tengah tersenyum sangat lebar hingga kedua lesung pipitnya tercetak dengan jelas. Angkasa heran kenapa gadis itu selalu senyum-senyum seperti itu setiap berhadapan dengannya, seolah level bahagianya sudah sampai di tahap puncak hingga membuatnya tidak bisa berhenti untuk tersenyum lebar.
"Angkasa!" teriak Rainne lagi lebih keras karena lelaki itu hanya terdiam. "Selamat pagi!"
Beralih dari Rainne, sorot mata tajam Angkasa kini memerhatikan sekitarnya. Teriakan Rainne barusan jelas telah menarik perhatian semua murid SMA Epsilon yang kebetulan lewat. Sial, Angkasa malas ditatapi dengan penuh penasaram seperti itu oleh orang-orang.
"Selamat pagi! Selamat pagi! Selamat pagi!" oceh Rainne dengan penuh semangat di depan Angkasa.
"Berisik," gumamnya sambil berlalu pergi meninggalkan Rainne.
"Orang tuh kalau disapa selamat pagi ya sahutin pagi juga kek, bukannya dikatain beyicik," ledek Rainne dengan suara berisiknya. Gadis itu mengekor di belakang Angkasa yang melangkah dengan kaki panjangnya. Rainne agak kesulitan menyusul dan merasa lelah sendiri untuk sekedar mensejajarkan langkahnya dengan Angkasa.
"Lo emang berisik."
"Aku sebenernya anaknya kalem pendiem kok, cuma kalau sekarang kan beda. Lagi caper sama kamu, dan emang mood akunya lagi bagus baget alias aku seneng banget pagi ini hehe," curcol Rainne. Angkasa sama sekali tidak memedulikan. Malah batinnya bertanya-tanya mengapa ada cewek seaneh dan setidak waras ini?
Keduanya berjalan di koridor diiringi tatapan dari beberapa murid yang ada di sana. Angkasa meskipun risi, tetap berusaha cuek. Sementara Rainne yang memang tidak tahu malu malah beberapa kali melambaikan tangan dengan tampang sok pada cewek-cewek yang terus mengamatinya.
"Angkasa makasih banget loh cheesecake-nya kemarin, enak banget enggak bohong. Kamu inget-inget tuh ya favorit aku. Semisal nih ya kamu nanti mau beliin aku makanan atau kamu mau hibur aku yang lagi sedih, beliin itu aja aku udah bahagia banget ko—"
Kalimat Rainne terhenti karena Angkasa langsung membekap mulut Rainne. Sungguh, Angkasa pening sekali mendengarkan celotehan tidak bermutu Rainne pagi-pagi begini.
"Bisa diem enggak?"
Rainne menggeleng. Ia malah terus berusaha berbicara meskipun mulutnya dibekap Angkasa.
"Diem atau mulut lo gue lakban?" ancam Angkasa. Mengingat ancaman itu selalu mempan jika Dhirendra ataupun Riga mulai berisik dan menganggunya. Pasalanya, Angkasa memang tidak segan-segan untuk melakban mulut kedua sahabatnya itu.
Rainne mengangguk cepat, Angkasa langsung melepaskan tangannya dari gadis itu.
"Angka—"
"Katanya mau diem?" potong Angkasa galak sebelum Rainne menyelesaikan kalimatnya.
Sekalipun, Angkasa tidak pernah membayangkan, paginya menjadi sangat kacau dan seberisik ini. Ia pusing, kepalanya berdenyut-denyut mendengar ocehan Rainne yang tidak bermutu.
"Kenapa sih galak banget," protes Rainne dengan suara pelan. Mendapatkan tatapan tajam dari Angkasa, gadis itu nyengir kaku dan buru-buru mengeluarkan kotak makan dari tas kecilnya.
"Jadi lupa, tadi mau ngasih ini."
Disodorkannya sebuah kotak makan berwarna pink dengan gambar dua beruang di bagian tutupnya. Angkasa melirik ke arah kotak makan itu, atau lebih tepatnya pada dua jari tangan kiri Rainne yang diplester.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Anonymous
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] [COMPLETED] Seorang pernah bilang padanya, kehidupan itu selalu berputar. Tidak melulu di atas, juga tidak melulu di bawah. Hidup juga tidak hanya soal kesedihan, ada juga porsi berisi kebahagiaan di sana. Selama ini, Rainn...
