44. Hari-hari penuh siksaan

1.2K 283 194
                                        

Rainne tahu Angkasa itu gila belajar, tapi Rainne benar-benar tidak tahu jika pacarnya itu berada di level gila yang berbeda dengan dugaanya selama ini. Sialnya, cowok itu bukan hanya menyuruhnya untuk ikut belajar mempersiapkan ujian, tapi ia juga ikut turun tangan membantunya belajar dengan metode yang sangat esktrim. Bahkan, sebelum ia sempat bernapas dan menikmati indahnya dunia, setelah hari menyenangkan yang ia habiskan bersama Angkasa di mall waktu itu, besoknya Rainne langsung disiksa habis-habisan untuk belajar.

Bayangkan, bagaimana tersiksanya Rainne selama minggu menjelang ujian akhir. Tidak ada waktu untuk berpacaran, meskipun terus-terusan berduaan bersama Angkasa, Rainne merasa kepalanya selalu bergejolak dan siap meledak.

Setiap jam istirahat pertama, Angkasa akan langsung menarik Rainne ke perpustakaan. Pagi-pagi saat menjemputnya, cowok itu akan memberikan materi yang ia rangkum sendiri untuk Rainne, padahal jelas sekali mereka berbeda jurusan. Saat jam kosong atau saat pulang sekolah, cowok itu juga tidak pernah memberikan napas untuk Rainne haha-hihi tidak jelas. Bahkan, saat malam sebelum tidur pun Angkasa selalu menelfon Rainne untuk mereview singkat materi yang sudah dipelajari gadis itu. Kadang mengajukan beberapa soal untuk Rainne jawab. Benar-benar sangat romantis.

"Angkasa kamu fokus aja sama belajar kamu, aku enggak apa-apa kok serius bisa sendiri," ujar Rainne dengan tampang sok tegar padahal sedang mencari alasan agar bisa lepas dari siksaan Angkasa.

"Aku udah pinter," katanya sambil mengoreksi jawaban Rainne untuk soal geografi.

Rainne merengek pelan lalu menjatuhkan kepalanya diatas meja, sel-sel otaknya sudah tersiksa selama beberapa hari karena Angkasa terus membuatnya berkerja keras.

"Angkasa mau main hp," pintanya pelan dan tentu saja tidak mendapat sahutan dari Angkasa.

"Ini masih banyak yang salah, kamu pelajari lagi materinya. Kalau ada yang enggak ngerti tanya aku."

Angkasa menyerahkan hasil koreksinya pada Rainne. Melihat tampang gadis itu sangat kusut dan sudah tidak jelas bentukan rambutnya membuat Angkasa sedikit iba. Ia lantas merapikan rambut Rainne dengan jarinya dan mengusap pipi gadis itu sekilas.

"Ayo makan dulu."

Angkasa menarik Rainne dari tempat duduknya untuk berdiri. Gadis itu seperti sudah kehilangan tenaganya dan pasrah saja diseret-seret Angkasa keluar dari perpustakaan dan kini menuju ke kantin.

"Angkasa aku pengen bakso yang pedes banget."

"Enggak."

"Tega deh sumpah," gerutu Rainne pelan.

"Nanti sakit perut."

"Yaudah iya, enggak pedes. Terserah kamu aja aku nurut, aku anak baik," katanya agak sarkas.

Tentu saja Rainne merasa saat ini tidak punya pilihan lain selain menurut. Selain memberinya metode belajar gila-gilaan, beberapa hari belakangan ini Angkasa juga mengatur apa yang Rainne makan. Alasannya karena cowok itu tidak mau Rainne sakit saat menjelang ujian. Angkasa terus memaksanya memakan makanan sehat, bahkan kadang membelikannya vitamin. Sangat perhatian sekali.

Jika tidak dibarengi dengan belajar gila-gilaan, sepertinya Rainne akan kesenengan bukan main karena perhatian Angkasa terhadap dirinya. Namun, otaknya sudah terlalu menderita dan ia tidak bisa menganggap perhatian Angkasa kali ini menyenangkan. Ini lebih mirip siksaan, bukan mirip lagi tapi ini memang siksaan untuk Rainne.

"Makan yang banyak," titah Angkasa pada Rainne sambil menyodorkan banyak sekali makanan padanya.

Sungguh, Rainne dibuat tercengang dengan bakso yang berisi banyak sekali sayuran. Bahkan ini lebih mirip sayuran bertoping empat butir bakso kecil dan kuahnya bening seperti makanan untuk orang sakit. Bukan hanya itu, lagi-lagi Rainne dibelikan salad buah, jus buah, dan dua cup puding yang diatasnya ada buah juga.

Dear AnonymousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang