Setelah beberapa hari tidak masuk sekolah, hari ini Gaby melihat sahabatnya itu menghadiri sekolah dengan wajah berseri. Rainne terus-terusan tersenyum sedari pagi sampai sekarang ini, dan bagi Gaby itu sama sekali tidak wajar. Ia jadi menduga-duga alasan gadis itu membolos kemarin-kemarin karena menang lotre dan sibuk menghabiskan uangnya.
"Cengar-cengir mulu lo. Kenapa sih? Bahagia banget kayaknya?"
"Angkasa jelas jadi sumber bahagia gue, enggak usah lo tanya deh."
"Yah ... gue kira lo menang lotre," gumam Gaby agak kecewa.
Rainne tidak mendengarkan gumaman Gaby itu, sebab ia merasa sepanjang ia berjalan di koridor, tatapan orang-orang kini terarah padanya. Harusnya Rainne tidak heran lagi dengan dirinya yang sering menjadi pusat perhatian, tapi kali ini rasanya tatapan-tatapan itu berbeda.
"Ada gosip apasih selama gue enggak sekolah?" tanya Rainne pada Gaby.
"Soal lo sama Fanya. Katanya lo dorong itu cewek pas di pesta ulang tahunnya ya? Mantep banget lo. Pasti dia malu banget tuh. Padahal sekalian aja lo bakar itu pestanya."
Rainne mendesah malas mendengar soal itu lagi. Bahkan, meskipun ia menjelaskan pada Gaby, sahabatnya itu tidak akan percaya padanya jika memang ia tidak mendorong Fanya. Gaby hanya mau tahu apa yang ia ingin tahu.
"Terus?"
"Apanya?"
"Ya apa gosipnya?"
"Gosipnya ya soal lo ternyata saudara tiri Fanya. Itu udah kesebar, sekarang semua anak Epsilon tau. Terus ... ya tentang hubungan antara lo dan Fanya sebagai saudara tiri enggak sebaik itu."
"Gue duga pasti gue digosipin tukang nyiksa Fanya kayak sodara tiri yang suka nyiksa cinderella?" tebak Rainne.
"Ya gitu deh, emang muka lo cocok jadi antagonis sih," canda Gaby sambil tertawa diakhir.
"Sialan lo."
Rainne memukul bahu Gaby pelan, tapi gadis itu malah mengencangkan tawanya. Rainne berusaha mengabaikan tatapan orang-orang yang saat ini pasti menghakiminya dalam hati, ia berusaha untuk tidak peduli dan melupakan tentang Fanya dan kejadian malam itu. Akan tetapi, meskipun ia sudah mencoba melupakan semuanya tentang Fanya dan pesta malam itu, ada satu hal yang tetep mengganjal di benak Rainne.
Messier, setelah malam itu dia ilang gitu aja, bahkan gada kabar sama sekali sampe hari ini, batin Rainne agak sedih.
Padahal, Rainne ingin memberi tahu cowok itu jika ia senang sekali sebab bisa merayakan ulang tahun bersama Angkasa kemarin dan cowok itu juga bersikap baik padanya. Sebenarnya ia juga menunggu ucapan selamat ulang tahun dari Messier, ia pikir cowok itu akan ingat juga pada janjinya, tapi nyatanya cowok itu justru lupa. Rainne jadi agak sedih, ia juga jadi kepikiran sebenarnya cowok itu kemana atau apa yang terjadi hingga tidak mengabari Rainne sama sekali.
"Abaikan, abaikan, abaikan," gumam Rainne sambil memukul-mukul kepalanya.
"Kenapa sih lo? Stres."
Rainne berusaha mengalihkan perhatiannya dari Messier agar tidak sedih-sedih melulu. Ia juga merasa tidak boleh terlalu kecewa dan menuntut pada cowok itu. Sebab harusnya ia merasa cukup karena Angkasa mau menemaninya merayakan ulang tahun dan bersikap baik padanya kemarin. Ia tidak boleh terlalu serakah. Ya, Angkasa sudah cukup baginya.
"Eh, sini deh."
Gaby menahan lengan Rainne dan menarik gadis itu untuk melangkah ke lapangan basket untuk melihat anak-anak Ecstasy yang sedang bermain basket di sana. Rainne agak ogah-ogahan mengekor. Meskipun bagi semua cewek Epsilon anak Ecstasy itu ganteng-ganteng, bagi Rainne biasa saja. Tidak ada yang bisa menarik perhatiannya selain Angkasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Anonymous
Roman pour Adolescents[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] [COMPLETED] Seorang pernah bilang padanya, kehidupan itu selalu berputar. Tidak melulu di atas, juga tidak melulu di bawah. Hidup juga tidak hanya soal kesedihan, ada juga porsi berisi kebahagiaan di sana. Selama ini, Rainn...
