31. Bimbang

91 5 0
                                        

Malam ini, Devan mengajak keluarganya untuk makan malam bersama keluarga Tasya dengan alasan membicarakan kelanjutan perjodohan dirinya dengan Tasya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam ini, Devan mengajak keluarganya untuk makan malam bersama keluarga Tasya dengan alasan membicarakan kelanjutan perjodohan dirinya dengan Tasya. Namun bukan itu alasan yang sebenarnya, ini hanya akal-akalan Devan untuk mewujudkan permintaan dari perempuan yang ia cintai.

Keluarga Devan sudah terlebih dulu tiba di restoran yang terletak di tengah kota. Keluarga Devan memilih meja yang berada di lantai atas di bagian rooftop. Berbagai menu makanan sudah tersaji diatas meja karena keluarga Devan sudah reservasi dari sebelum berangkat. Kurang lebih sekitar lima belas menit mereka menunggu kedatangan keluarga Tasya hingga akhirnya tiba disana.

Tasya mengambil alih kursi yang berada di depan Devan, sementara Galih— ayah Tasya duduk di depan Vino dan Saras duduk di depan Celline, sang ibu berada di tengah antara suami dan anak.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu," ujar Galih dengan sopan setelah menemukan posisi duduknya yang nyaman.

"Tidak masalah, kita semua tahu bagaimana kemacetan ibu kota, apalagi di jam sekarang ini," balas Vino tak kalah sopan, dihiasi dengan senyuman tipis.

Tak sabar dengan waktu, Galih bertanya to the point dengan hal yang memang akan menjadi topik perbincangan malam ini. "Jadi gimana? Kapan pertunangan Devan sama Tasya akan berlangsung?" tanyanya seraya melirik ke arah Devan dan Tasya secara bergantian.

"Nggak usah buru-buru, kita makan aja dulu, Gal," jawab Vino terkekeh. Tawa rendah khas bapak-bapak terdengar diakhir. "Kamu paling ngebet dari dulu buat jodohin anak kita."

"Itu salah satu impian aku, Vin. Dari dulu aku pengen banget kita bisa jadi besan."

Saras— ibu Tasya menyambung. "Iya, papa Tasya ini memang ingin yang terbaik buat anaknya dan kita yakin Devan adalah pilihan yang terbaik buat Tasya," ucapnya seraya melirik ke arah anak perempuannya.

Tasya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan, sementara yang di tatap tetap diam dengan wajah datarnya.

Celline menyenggol bahu Devan. "Kamu tahu nggak, Van. Kamu sama Tasya sudah kita jodohin dari kalian masih umur sepuluh tahun," ujarnya, lalu setelah itu pandanganya beralih pada Tasya. "Kalian pasti akan jadi pasangan serasi nanti."

"Dulu kita mau ngenalin kalian, tapi nggak jadi karena Om ada kerjaan yang membuat Om pindah ke luar kota," balas Galih, tangannya mulai bergerak mengambil pisau kecil untuk memotong steak.

Diikuti oleh Vino yang juga menyuapkan makanannya. Ketenangan ada pada wajah pria paruh baya satu ini, berbanding balik dengan wajah Devan yang sedang menahan sesuatu. Vino berceletuk di sela kunyahan. "Tapi malah nggak di sangka kalian satu sekolah di SMA. Kalian sekelas juga?"

Tasya menoleh ke arah kedua orang tua Devan, ia menggeleng. "Nggak, Om. Devan kelas IPS sementara aku kelas IPA," jawabnya ramah, tak lupa dengan senyum tipisnya yang merekah.

DEV'ANA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang