"Sekedar suka atau terlanjur cinta, tak ada alasan untuk tidak bisa merasakannya."
- Devaniel Marvien -
Jika Devan bisa beranggapan begitu, Ana juga bisa membantahnya agar tidak jatuh terlalu dalam.
"Devan itu playboy, dia bisa mengatakan kalimat...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini, Devan mengajak keluarganya untuk makan malam dengan keluarga Tasya dengan alasan membicarakan kelanjutan perjodohan dirinya dengan Tasya. Namun bukan itu alasan sebenarnya, ini hanya akal-akalan dia untuk mewujudkan permintaan dari gadis yang ia cintai.
Keluarga Devan sudah terlebih dulu tiba di restoran yang terletak di tengah kota. Keluarga Devan memilih meja yang berada di lantai atas di bagian rooftop. Sudah menunggu waktu kurang lebih lima belas menit, keluarga Tasya akhirnya tiba disana.
Tasya mengambil alih kursi yang berada di depan Devan, sementara Galih— ayah Tasya duduk di depan Vino dan Saras duduk di depan Celline, sang ibu berada di tengah antara sang ayah dan anak.
"Nggak usah buru-buru, kita makan aja dulu Gal," jawab Vino terkekeh. "Kamu paling ngebet dari dulu buat jodohin anak kita."
"Itu salah satu impian aku, Vin. Dari dulu aku pingin banget kita bisa jadi besan," jawab Galih seraya tertawa pelan.
Saras— ibu Tasya menyambung. "Iya, papa Tasya ini memang ingin yang terbaik buat anaknya. Mungkin Devan pilihan yang terbaik buat Tasya," ucapnya seraya melirik ke arah anak perempuannya.
Tasya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan, sementara yang di tatap tetap diam dengan wajah datarnya.
Celline menyenggol bahu Devan. "Kamu tahu nggak, Van. Kamu sama Tasya sudah kita jodohin dari kalian masih umur sepuluh tahun," kekehnya, lalu pandanganya beralih pada Tasya. "Kalian pasti akan jadi pasangan serasi nanti."
"Dulu kita mau ngenalin kalian, tapi nggak jadi karena Om ada kerjaan yang membuat Om pindah ke luar kota," balas Galih seraya memotong steak yang berada di atas meja.
Diikuti oleh Vino yang juga menyuapkan makanannya. "Tapi malah nggak di sangka kalian satu sekolah di SMA. Kalian sekelas juga?"
Tasya menoleh ke arah kedua orang tua Devan, ia menggeleng. "Nggak, Om. Devan kelas IPS sementara aku kelas IPA," jawabnya ramah, tak lupa dengan senyum tipisnya yang merekah.
"Tapi kalian sudah saling mengenal kan?" tanya Celline.
Tasya mengangguk. "Sudah tante. Tasya bahkan pernah pacaran sama Devan tapi sempet putus." Jawaban Tasya sontak membuat kedua ayah itu saling mengehentikan gerakan makan nya, terkejut mendengar sebuah fakta yang terlontar dari mulutnya. "Tapi Tasya masih suka kok sama Devan."
Vino tersenyum, ada rasa senang mendengar itu. "Bagus kalau gitu. Jadi kalian nggak terlalu sulit buat saling kenal satu sama lain lagi."
Celline meneguk minumannya sebelum melirik ke arah putranya. "Devan, ngomong dong. Jangan diem aja dari tadi."
Devan yang sedari tadi hanya diam menatap makanan yang berada di depannya itu mendongak. Sejak makanan itu datang, Devan sama sekali tak menyentuhnya.