33. Pilihan Devan

71 4 0
                                        

--

Devan masuk ke dalam rumahnya. Malam ini, akan menjadi malam terburuk untuknya. Selain perasaan sedih, ia juga merasa kecewa dengan keputusan Ana. Perempuan itu lebih memilih pergi dibandingkan berjuang bersama dengannya.

Ketika Devan masuk ke dalam rumah, ia langsung disambut oleh kedua orang tuanya. Tanpa sepatah katapun, hanya ada tatapan kosong, Devan langsung menyelonong begitu saja melewati kedua orang tuanya ke lantai dua menuju kamarnya.

Padahal dari dulu Devan tidak pernah meminta apapun dari kedua orang tuanya. Bahkan ketika ia disarankan untuk tinggal di Jepang dan disekolahkan di sekolah terbaik disana, Devan menolak. Di hari ulang tahun ketujuh belas, Devan juga diberi hadiah sebuah apartement, tapi ia juga menolaknya. Devan tidak terlalu ambisius dengan fasilitas ataupun kemewahan di hidupnya. Yang Devan inginkan hanya satu yaitu menemukan gadis kecil yang ada dimimpinya.

Dan itu. Melissa Anatsya.

Devan akhirnya tersadar. Karena Ana, ia sudah tidak lagi pulang tengah malam, mabuk-mabukan di club dan juga mempermainkan perasaan perempuan-perempuan lain, yang bertujuan untuk mencari sosok gadis kecil yang ada dimimpinnya itu. Karena Devan sudah sangat yakin bahwa gasis kecil yang dimimpinya itu adalah Ana.

Devan merebahkan tubuhnya di ranjang, perasaannya bercampur aduk. Malam ini terasa sangat melelahkan baginya, baik jiwa, raga bahkan hati.

--

Devan tengah menghabiskan sisa kopinya di kantin bersama kedua temannya. Banyak yang berubah satu minggu belakangan ini setelah kepergian Ana. Devan lebih banyak diam, bersikap dingin dan cuek ketika ada siswi adik kelas yang sekedar mencoba untuk menyapanya.

Tidak ada lagi Devan yang playboy, laki-laki yang suka tebar pesona, dan juga yang berpenampilan berantakan. Justru kepergian Ana membawa Devan menjadi orang yang lebih baik. Berpakaian rapi, tidak pernah bolos atau meninggalkan jam pelajaran. Semua terjadi mengalir begitu saja tanpa Devan sendiri sadari, mungkin.

"Devaaannn!!"

Teriakan seseorang dari pintin kantin membuat Devan menoleh. Ia menemukan seorang perempuan yang tidak lain ialah sepupunya sendiri– Jessica, menghampiri Devan dengan langkah yang tergesa.

"Dimana Ana?" tanya Jessica to the point tepat dihadapan Devan.

Devan mendongak, menatap Jessica dengan tatapan yang kosong. "Nggak tau."

Jawaban singkat Devan membuat Jessica cukup murka. Karena dari sekian banyaknya kemungkinan yang tahu keberadaan Ana saat ini adalah Devan. "Kok nggak tau. Lo kan yang serumah sama dia. Udah satu minggu ini dia nggak masuk sekolah, harusnya lo tau dong dimana dia?"

"Gue nggak tau, Jessica. Dia udah pergi dari rumah gue."

"Apa?!" teriak Jessica dengan suaranya cemprengnya. Jessica kira Ana tengah sakit sehingga tidak masuk sekolah satu minggu ini, tapi setelah dipikir lebih panjang, Ana tidak mungkin sakit tanpa ada surat keterangan yang diterima guru, dan juga kecurigaan Jessica muncul ketika Ana tidak bisa dihubungi tiga hari belakang, nomor pribadi tidak aktif dan semua sosial medianya hilang seketika.

"Kapan?!" tanya Jessica lagi, raut wajahnya yang memerah menandakan ia sangat marah sekarang. "Kapan dia pergi? Kemana dia perginya? Jawab Devan!"

Bahkan karena suara cemprengnya itu membuat kedua teman Devan menutup telinganya. Sementara Devan, wajah laki-laki itu datar, tidak menunjukan berkespresi sama sekali.

DEV'ANA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang