36. Lagu

83 2 0
                                        

Terlambat, semuanya sudah terlambat. Setelah satu tahun berlalu, kenapa baru sekarang Ana mengatakannya, kenapa tidak satu tahun yang lalu tepat setelah ayahnya meminta dirinya untuk pergi. Andaikan saja Ana memberitahu Devan waktu itu, mungkin Devan tidak akan terlalu kecewa ketika Ana memilih pergi.

Setelah mengetahui ini semua, lantas Devan bisa menerima Ana begitu saja? Jawabannya tidak. Devan kembali dibuat kecewa, justru rasa kecewanya bertambah ketika mengetahui hal sepenting ini sekarang. Ana masih tidak terbuka kepada dirinya, Ana masih suka menyembunyikan semua masalah tanpa memberitahunya. Entah Ana yang tidak percaya pada Devan, atau memang begitu karakter seorang Ana.

Tidak ingin membagi masalah pada orang lain.

Seandainya Devan tahu masalah ini dari dulu, Devan akan lebih berusaha membantu Ana untuk mengatasi ini semua. Devan akan membantu untuk mencari jalan keluarnya. Tapi kenyataannya? Ana menutupi ini darinya. Semua sudah terlanjur bak nasi yang sudah menjadi bubur. Devan sudah bertunangan dengan Tasya dan itu tidak bisa dibatalkan.

Devan bukan pengecut yang tidak ingin memeperjuangkan cintanya kembali. Tapi ia sudah terlanjur kecewa pada Ana. Lagi pula, Ana tidak ingin berjuang bersama, bukan?

"Devan."

Devan bergeming. Mengabaikan panggilan dari Tasya yang berada disebelahnya.

"Devan?" panggil Tasya lagi. "Lo lagi ngelamunin apa, sih? Tugas? Udah lah, tugas mah nggak usah dibikin pusing. Mending kita pacaran aja. Mumpung malem minggu ayo kita keluar!"

Devan masih diam, arah pandangnya menghadap ke arah depan tepat ke arah halaman luas yang disegala sisi ditanami tanaman. Devan tengah duduk dibangku yang berada di teras rumahnya. Tasya tiba-tiba datang dan ingin menemuinya. Devan sebenarnya tidak mau menemui perempuan itu, tapi ia tidak bisa menolak karena Tasya bisa saja mengadu pada ibunya.

"Ayolah, Devan. Kita ke cafe yang lagi viral di tiktok itu. Kata temen-temen gue menunya enak-enak. Ayo!" ajak Tasya yang duduk disebelah Devan seraya menarik-narik lengan laki-laki itu.

Devan menoleh. "Udah malem, disini aja," balas Devan, mencoba melepas tangan Tasya yang sedari tadi menarik lengannya. "Gue juga masih ada tugas yang belum selesai gue kerjain."

Tasya berdecak pinggang. "Tugas apa? Besok kan weekend, ngumpulin tugasnya nggak harus besok juga, kan?"

"Gue ngantuk, disini aja."

"Masih jam delapan kok, masa sih ngantuk. Dulu juga lo sering keluar malem sampe jam dua belas lagi," kekeuh Tasya.

Perkataan itu cukup mampu membuat Devan memutar kembali memorinya satu tahun lalu. Yaitu kenangan bersama Ana. Awal perasaan itu tumbuh karena malam itu. Devan akui, awalnya Devan belum benar-benar menyukai Ana, tapi karena sejak kejadian itu, Devan merasakan ingin terus berada disamping Ana, ingin terus didekat Ana dan ingin terus bersama Ana.

Entah sejak kapan, perasaan itu muncul. Perhatian, tingkah, dan sikap Ana berhasil membuat Devan terus memikirkannya. Mungkin memang benar, alasan utamanya karena rasa bersalah pada Ana tapi hari demi hari setelah ia lewati dan sadar hari-hari sebelumnya, banyak perhatian kecil yang Ana berikan padanya, berhasil membuat Devan tertarik dengannya.

Dan tentang mimpi itu. Ah, Devan sudah melupakan itu semua. Mimpi hanya bunga tidur yang tidak ada kaitannya dengan kenyataan. Mimpi itu hanyalah petunjuk bahwa jika ia menginginkan sesuatu maka harus disertai dengan sebuah perjuangan, termasuk jika ia mengingingkan seseorang.

"Devan, ayo pergi kesana atau gue aduin ke tante Celline?" tanya Tasya mengancam.

Devan kembali sadar dari lamunannya. "Sana aduin, gue nggak peduli."

DEV'ANA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang