Jika cuaca kemarin hujan, hari ini sedang bersahabat, tidak panas namun juga tidak mendung. Suasana yang cocok untuk menikmati beberapa varian menu di Moon Cafe. Beberapa pelanggan datang bergantian. Ada yang datang sembari mengerjakan tugas, ada juga yang datang bersama pasangannya, temannya, juga dengan hts-annya.
Setelah menyerahkan pesanan pelanggan, Ana kembali ke meja kasir. Niatnya hanya untuk sekedar melihat pemasukan hari ini. Ana tersenyum lebar ketika melihat nominal angka yang terpampang dilayar komputer. Waktu masih menunjukkan pukul setengah satu siang, tapi pemasukannya sudah lumayan banyak.
"Maaf mba Ana, kemarin saya nemuin ini dibawah meja pelanggan," ucapan Melly sontak membuat Ana menghentikan aktivitasnya.
Ana menerima benda yang dikasih Melly. "Apa ini?"
"Nggak tau juga saya mba, kaya diary kalo ndak salah."
Ana membolak-balik benda tersebut. Benda itu memang sebuah diary yang berukuran kecil. Awalnya Ana tidak ingin membukanya karena itu termasuk privasi. Siapa tahu itu beberapa catatan penting seseorang yang orang lain tidak boleh mengetahuinya.
Ana mengangguk pada Melly. "Ah, iya terimakasih Melly, biar saya aja yang simpen, ya," ucapnya. Melly mengangguk lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Tapi jika Ana tidak membukanya, Ana tidak akan bisa tahu barang itu milik siapa. Dengan keberanian yang sudah terkumpul, perlahan akhirnya Ana membuka buku diary tersebut.
Sampul buku diary tersebut bergambar langit gelap yang terhiasi bintang dan bulan. Terlihat seorang perempuan yang tengah duduk diatas kusen yang jendelanya dibiarkan terbuka, sedang menatap ke atas.
Melihat sampul buku diary ini, Ana seperti melihat dirinya sendiri. Dulu sering kali dia melakukanya ketika masih tinggal dirumah Devan. Duduk diatas kusen jendela yang terbuka sambil memandang langit gelap, terasa begitu menenangkan bagi Ana.
Halaman pertama tidak terlalu banyak tulisan disana. Hanya sebuah kalimat pembuka yang isinya, "Dreams are not pursued, but realized" ditulis dengan huruf kapital.
Ana semakin penasaran dengan isi tulisan di halaman berikutnya. Ana kira halaman kedua langsung berisi tentang curahan hati seseorang, namun ternyata hanya seperti halaman sebelumnya, ada satu kalimat yang tertulis disana.
"I love you, Tasya." Itulah kalimat yang Ana temui dihalaman kedua. Oh, mungkin buku diary ini milik seseorang yang tengah menyukai seorang perempuan yang bernama Tasya, pikir Ana begitu.
Ana mengamati bentuk tulisan tersebut, di halaman pertama tulisannya menggunakan huruf kapital sehingga Ana tidak bisa menebak buku diary ini milik seorang laki-laki atau perempuan. Tapi setelah membaca dan mengamati bentuk tulisan di halaman kedua yang menggunakan huruf kecil, Ana menebak jika buku ini milik seorang laki laki-laki karena bentuk tulisannya kurang rapi.
Merasa apa yang dilakukannya tidak benar, Ana kembali menutup buku itu. Itu termasuk privasi jadi Ana tidak boleh sembarang membukanya. Biarkan saja pemiliknya datang sendiri ke cafe untuk mencari, dan Ana akan menyerahkannya saat itu juga.
Ana bangkit dari posisinya berniat untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun dengan tidak sengaja, Ana menyenggol buku diary yang sudah ia letakkan diatas meja hingga jatuh ke lantai, dengan posisi buku bagian halaman terakhir terbuka.
Devaniel Marvien.
Ana mematung ketika membaca nama tersebut yang tertulis dibagian halaman terakhir. Tidak mungkin jika buku itu milik Devan. Ana tidak percaya jika seorang Devan memiliki buku diary. Si cowok playboy itu punya diary? Sok sadboy sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEV'ANA (END)
Romance"Sekedar suka atau terlanjur cinta, tak ada alasan untuk tidak bisa merasakannya." - Devaniel Marvien - Jika Devan bisa beranggapan begitu, Ana juga bisa membantahnya agar tidak jatuh terlalu dalam. "Devan itu playboy, dia bisa mengatakan kalimat...
