39. Terungkap

85 1 0
                                        

Lisa duduk di kursi samping ranjang rumah sakit. Tangannya tak berhenti mengusap rambut putrinya yang tengah terbaring lemah. Dari pemeriksaan tadi sore hingga hari sudah malam ini, Ana belum juga menyadarkan diri.

Devan dan Aldito sudah pergi dari rumah sakit setelah Lisa yang memintanya. Awalnya Devan ingin terus tetap menjaga Ana, tapi Lisa memintanya pulang untuk membersihkan badannya terlebih dulu.

"Mama janji, Melissa." Lisa mengajak ngobrol Ana meskipun ia tahu Ana tidak akan meresponnya. "Mama janji akan nyari papa kamu. Mama akan minta dia buat donorin darah buat kamu, sayang."

Lisa tidak tega melihat keadaan anak semata wayanghnya yang tak bergerak sedikitpun. Hanya deru napas yang terdengar itupun dibantu oleh alat rumah sakit.

"Mama janji akan melakukan apapun demi kesembuhan kamu. Kamu yang kuat, ya, sayang. Mama nggak bisa bayangin hidup mama tanpa kamu. Cuma kamu satu-satunya yang mama punya."

Tangannya menurun menggenggam tangan Ana yang bebas jarum infus. Hatinya terasa sesak melihat beberapa luka yang memerah dilengan anaknya dan juga kepala yang dibalut perban.

Kenapa kebahagiaan selalu menghindar darinya, apa salah anaknya hingga dia tidak bisa merasakan kebahagiaan sekali saja.

Setelah dikecewakan oleh cinta pertamanya, dia harus kembali merasakan sakitnya ketika harus memilih diantara hidup atau perasaannya. Jika memilih hidupnya, maka mau tidak mau Ana harus menghindari Devan dan merelakan perasaannya.

"Maafin mama belum bisa jadi mama yang baik buat kamu."

Setelah dua jam berlalu, Ana tak kunjung juga sadarkan diri. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Lisa setia menemani anaknya. Bahkan sudah berkali-kali dia menguap karena kantuk, tapi dia enggan untuk tidur. Takutnya ketika dia tidur, Ana bangun memerlukan sesuatu.

Pintu kamar rumah sakit terbuka, menampakkan Devan yang masuk sendirian membawa satu kantong paperbag. Ia menghampiri Lisa yang masih duduk disamping ranjang rumah sakit yang ditempati Ana.

"Bibi," sapa Devan.

Lisa menoleh kebelakang. "Devan? Ngapain kesini lagi?"

"Bibi belum makan kan dari sore? Ini aku bawain makanan buat bibi, bibi makan dulu, ya," kata Devan menyodorkan paperbag yang ia bawa.

Lisa memang belum sempat makan daritadi. "Tapi Ana– "

"Izinin Devan buat jagain Ana, Bi." Devan membantu Lisa untuk bangun dari duduknya. Ia membawa Lisa ke sofa yang tersedia disana. "Bibi makan dulu, kalo Ana tau bibi nggak makan, Ana pasti sedih."

Devan membuka paperbag yang ia bawa. Dia menyempatkan diri membeli makanan di jalan ketika perjalanan ke rumah sakit tadi. "Nah, Bibi makan ya."

Lisa mengangguk, kemudian menyantap makanannya sedikit demi sedikit. Meski makanan yang dibawa Devan tergolong makanan enak, namun rasanya hambar.

Devan duduk disebelah Lisa, namun tatapannya terus ke arah ranjang Ana.

"Den Devan."

Devan menoleh. "Iya, Bi?"

"Den Devan beneran sayang sama Ana?"

DEV'ANA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang