Sepertinya harapan untuk bisa berasama Devan memang sudah tidak ada lagi. Kenyataan yang begitu menyakitkan memang ketika orang yang selama ini Ana rindukan, orang yang selama ini Ana harapkan ada kesempetan untuk kembali bersama, sudah memilik sosok baru yang menjadi pengganti dirinya.
"Udah jangan nangis mulu, tambah jelek lo begitu."
Ana terus menunduk, kedua kakinya ia tekuk. Menatap aspal yang tengah di pijaknya, mengabaikan suara Aldito yang duduk di sebelahnya.
Ya, Aldito yang mengejarnya tadi. Kenapa? Kenapa harus Aldito? Kenapa bukan Devan yang mengejarnya? Apa ini yang Devan rasakan dulu ketika memperjuangkan dirinya? Apa rasa sakit ini yang Devan rasakan ketika dia justru melihat Ana lebih memilih Kenzo daripada dirinya? Dan apa ini rasa kecewa yang Devan terima ketika Ana menolak untuk diusahakan?
Aldito mencoba mendekat ke arah Ana berniat untuk menenangkan perempuan itu. "Jangan sedih terus, nggak pantes lo sedih kaya gitu."
Ana masih diam, enggan merespon ucapan Aldito. Sementara Aldito sendiri paham sama apa yang tengah Ana rasakan saat ini. Maka dari itu, ia mencoba untuk menenangkan Ana, setidaknya membuat Ana agar tidak terlalu bersedih.
"Lo tau nggak apa yang rumit dari cinta?" tanya Aldito mencoba memberi pengertian pada Ana. "Cinta itu emang rumit, rumit banget. Semakin dikejar justru malah semakin lari. Tapi, saat cinta itu udah ada didepan mata, kita malah mengabaikannya."
Tidak ada respon dari Ana, tapi Aldito tak menjadikannya masalah.
"Tapi lo percaya nggak adanya cinta sejati?" tanya Aldito lagi. "Sejauh apapun cinta itu pergi, kalo sudah ditakdiran bersama, ya, akan tetap bersama. Nggak peduli jarak dan waktu yang terbentang cukup jauh. Mereka akan kembali bersama."
Dengan isakan tangis, Ana mencoba membalas ucapan Aldito. "Tapi gue bukan cinta sejatinya Devan, Al. Gue sama Devan nggak bisa sama-sama lagi."
Aldito menoleh ke arah Ana. "Kalo dari apa yang gue lihat selama ini, yang salah diantara kalian berdua itu komunikasi. Gue nggak bermaksud mau nyalahin lo atas keputusan lo yang mendadak pergi itu. Tapi seandainya lo bilang yang sebenernya tentang apapun itu pada Devan, gue yakin Devan nggak akan ngeberiarin lo buat pergi."
Seharusnya memang begitu. Ana tersadar betapa keras kepala dirinya dulu ketika ia memilih pergi tanpa menjelaskan apapun pada Devan. Tapi dibalik itu semua, Ana juga memiliki alasan tersendiri. Jika seandainya Ana menjelaskan alasan dirinya pergi itu karena perintah dari Vino meski bukan itu alasan kuat yang sebenarnya— ada alasan lain yang menjadi bahan petimbangan dirinya, Ana tidak ingin merusak hubungan antara ayah dan anak. Apalagi kelurga Devan yang sudah begitu baik pada Ana dan juga ibunya.
"Kalaupun lo nggak bisa sama Devan, suatu saat nanti pasti bakal ada seseorang yang benar-benar sayang sama lo. Jadi, mulai sekarang lo harus bisa ikhlasin Devan, ya. Biarin Devan bahagia sama pilihannya."
"Susah, bahkan setelah satu tahun nggak ketemu pun, gue masih sayang sama Devan."
"Pelan-pelan, Ana, lo pasti bisa. Tunjukin ke Devan kalo lo bisa bahagia tanpa dia. Karena satu hal yang harus lo tau, cowok kalo semakin dikejar malah semakin seenaknya."
"Gitu ya, Al?"
"Iya, percaya sama gue."
Ana menghela napas lelah. "Tapi kalo gue tetep nggak bisa ikhlasin Devan gimana?" tanyanya dengan tatapan sendu.
"Usaha dulu. Kalo nggak dicoba kita nggak bakal tau berhasil atau enggaknya."
Akhirnya Ana mengangguk dengan senyuman tipisnya.
--
Cuaca dari pagi sudah cukup mendung, sehingga ketika Ana baru membuka cafenya, banyak mahasiswa yang datang tepat ketika rintihan hujan mulai turun. Awan menggelap sejak pagi namun justru tidak membuat cafe menjadi sepi justru malah sebaliknya. Seperti sekarang ini, pukul sebelas siang yang seharusnya sedang terik-teriknya matahari, justru hujan makin deras membuat Ana kewalahan mengurus cafe karena banyak mahasiswa yang datang untuk berteduh ditempatnya. Sambil menunggu hujan reda, mereka mencoba menu yang tersedia di cafe milik Ana.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEV'ANA (END)
Romance"Sekedar suka atau terlanjur cinta, tak ada alasan untuk tidak bisa merasakannya." - Devaniel Marvien - Jika Devan bisa beranggapan begitu, Ana juga bisa membantahnya agar tidak jatuh terlalu dalam. "Devan itu playboy, dia bisa mengatakan kalimat...
