Bagaimanapun caranya, yang namanya perpisahan tetaplah menyakitkan.
--
Bukankah sesuatu yang memang bukan benar-benar milikmu akan kembali pada pemiliknya? Bahkan sesuatu yang sudah ia jaga sekalipun, jika memang bukan sang pemilik maka tidak akan benar-benar memiliki. Ana percaya, entah itu kapan, ayahnya akan kembali pada dirinya dan juga ibunya. Keluarga kecil yang dulu terasa harmonis tanpa masalah apapun, masa kecil yang manis dengan keluarga yang lengkap, kini terpisah oleh takdir yang tidak bisa Ana ataupun siapapun mengubahnya.
Jikalaupun ayahnya tidak akan kembali, berarti memang bukan Ana yang bisa memiliki sosok itu. Namun daripada itu, keinginan Ana hanya satu yaitu dikenali oleh ayahnya sendiri. Tidak peduli jika ayahnya enggan kembali memperbaiki hubungan dengan ibunya, Ana hanya ingin dikenali dan juga diakui. Toh, meski hanya berdua dengan ibunya, Ana masih tetap bisa hidup.
Sama halnya dengan Devan. Jika dari awal memang dirinya yang benar-benar akan menjadi pemiliknya, tidak akan ada rintangan ataupun hambatan yang harus Ana lalui seperti sekarang ataupun nanti kedepannya. Cobaannya sungguh berat, Ana merasa apa yang tengah terjadi adalah tanda-tanda sebuah takdir bahwa ia tidak akan bisa bersama dengan Devan. Terlalu banyak rintangan kedepannya, dan Ana merasa tidak sanggup untuk menghadapinya.
Bukan berarti Ana tidak ingin berjuang seperti yang dikatakan Devan, hanya saja Ana tidak yakin. Banyak keraguan dihatinya jika harus memilih tetap bersama Devan.
Ana kembali ke rumah Devan, selama di perjalanan ia sudah mengirimkan pesan kepada ibunya untuk membereskan semua pakaian miliknya dan juga ibunya sendiri. Dari sudut pandang lain, Lisa pun paham apa yang sudah terjadi. Tanpa banyak tanya, wanita itu segera membereskan semua pakaian serta barang-barang yang lainnya.
Setiba di rumah Devan, ketika membuka pintu utama, Ana disambut kedua orang tua Devan yang sudah berada di ruang tamu. Keduanya tidak duduk, mereka berdiri seolah memang tengah menunggu kedatangannya. Dengan langkah yang ragu, Ana melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.
"Apa maksud perkataan kamu tadi, Ana?" Meski tidak ada bentakan seperti di restoran tadi, namun suara Celline tetap terdengar tegas. "Kamu sadar atau engga? Kamu lupa kalau papanya Devan sudah memberikan semua yang kamu butuhkan selama ini? Dan ini balasan kamu?"
Sementara di rungan lain, Lisa mendengar suara Celline yang mulai meninggi. Sehingga dengan cepat ia bergegas keluar. Lisa melangkah sambil membawa satu koper dan dua tas besar dikedua tangannya.
"Maafin Ana, tante," bibir Ana tercekat, suaranya tertahan hanya ditenggorokan.
"Maaf, pak Vino, ibu Celline. Apa kalian tidak pernah muda?" Lisa menyela dari arah dapur. Ia mendekati Ana yang berdiri tidak jauh dari pintu. "Anak saya mencintai anak kalian apakah itu sebuah kesalahan?"
"Jelas salah besar!" bentak Celline. "Saya tekankan sekali lagi, saya tidak menyetujui hubungan mereka bukan karena saya tidak menyukai Ana. Tapi suami saya dan temannya sudah merencanakan perjodohan ini dari anak kami masih kecil. Dan kamu," jari telunjuknya bergerak naik menunjuk wajah Ana. "Gara-gara kamu Devan jadi menentang perjodohan ini!"
Jujur saja sakit. Ada sesuatu yang menekan dadanya hingga Ana merasa sesak. Dimana ketika ia mendengar jelas Celline mengatakan perjodohan ini sudah direncanakan semenjak anak mereka masih kecil. Andai mereka tahu bahwa sebenarnya Ana yang ada di posisi Tasya.
Ingin rasanya Ana mengatakan yang sejujurnya. Ingin rasanya Ana mengatakan bahwa dia yang seharusnya dijodohkan dengan Devan. Tapi Ana rasa tidak sekarang, bukan sekarang waktunya. Disini hanya ibunya dan Devan yang berpihak dengannya. Sementara dipihak lain, ada dua orang tua yang tidak bisa ia lawan. Itu hanya akan menambah rasa sakitnya ketika ia mengatakannya sekarang. Karena ia tahu ayahnya tidak akan membelanya sama sekali. Jangankan membela, mengenalinya saja tidak, kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
DEV'ANA (END)
Romantiek"Sekedar suka atau terlanjur cinta, tak ada alasan untuk tidak bisa merasakannya." - Devaniel Marvien - Jika Devan bisa beranggapan begitu, Ana juga bisa membantahnya agar tidak jatuh terlalu dalam. "Devan itu playboy, dia bisa mengatakan kalimat...
