34. She?

81 4 0
                                        

Devan berhasil bertahan hidup tanpa ada Ana disampingnya. Devan berhasil menjadi orang yang lebih baik meskipun bukan Ana yang menemaninya. Kemauan berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik tidak selalu menggunakan orang lain sebagai alasan. Devan berubah bukan karena Ana, Devan berubah karena kemauan dirinya sendiri.

Satu tahun bukan waktu yang singkat, banyak perjalanan hidup yang sudah Devan lewati. Devan sudah benar-benar meninggalkan dunia malamnya. Tak ada lagi minuman, atau sekedar lintingan tembakau pun, Devan sudah tak lagi menyentuhnya. Untuk seseorang, Devan sudah cukup dengan satu perempuan yang kini menemaninya, dalam situasi apapun.

Dibidang akademik yang biasanya menduduki peringkat ke dua puluh dikelasnya, waktu kelulusan Devan berhasil mendapat peringkat sepulus diantara satu angkatan. Jujur, perubahan yang sungguh signifikan. Devan memaanfatkan waktu sebaik mungkin. Enam bukan dia belajar mati-matian untuk bisa mendapatkan nilai bagus agar bisa mendaftarkan diri di perguruan tinggi. Karena Devan menyadari waktu sebelum itu ia siakan hanya untuk bermain-main.

Namun selain itu, ada diri Devan juga yang berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam dan dingin pada orang lain. Tidak hanya pada kedua orang tuanya, tapi semuanya. Sepulang sekolah ia langsung masuk ke dalam kamar dan hanya keluar untuk makan saja. Devan melakukan semua itu selama satu tahun kebelakang.

Sekarang Devan sudah menjadi seorang mahasiswa, semester satu pastinya. Ia bersyukur bisa diterima disalah satu Universitas terbaik di Jakarta.

"Bro, ngalamun aja," sapa seseorang tiba-tiba.

Devan tersentak sejenak, lalu menolehkan kepala ke belakang. "Apa?"

Sosok yang memanggil Devan itu mengambil posisi duduk didepan Devan. Mereka tengah dikantin kampus sekarang. "Galauin apa sih? Tugas?" tebak orang itu yang kemudian dibalas gelengan oleh Devan. "Terus?"

"Bukan apa-apa."

Dika Darmawangsa– teman SMA Devan bahkan sampai sekarang, ia mengikuti Devan untuk kuliah di satu Universitas meskipun beda fakultas.

"Nggak usah bohong, gue tau lo lagi ngalamunin tugas, kan?" tanya Dika sekali lagi. Berniat mencairkan suasana karena ia melihat Devan melamun seorang diri.

"Nggak. Tugas udah selesai dari kemarin," jawab Devan seadanya, dengan raut wajah datar tanpa menatap Dika yang berada didepannya. Arah pandang Devan memang ke depan, tapi bukan untuk Dika, entah kemana.

Dika mengangguk. Enggan membuat Devan emosi karena ia tahu betul meskipun raga Devan disini tapi tidak dengan pikirannya. "Van, main yuk malam ini," ajaknya.

"Kemana?" saat itu juga, Devan menatap Dika dengan tatapan penasaran.

"Clubing."

"Nggak." Satu kata yang singkat itu seharusnya cukup untuk membuat Dika sadar dan ingat bahwa Devan tidak lagi ingin menginjakan kakinya disana.

Dika menggeram kesal. Niatnya hanya menghibur Devan, tapi sekarang sangat susah sekali mengajak laki-laki itu ke club' walaupun hanya untuk sekedar mencari hiburan agar tidak terlalu stres menghadapi kekacauan dalam hidupnya. Karena hal itu lah yang membuat Dika merasa, kepergian Ana yang menjadi alasan Devan berubah sikap seperti ini. Mungkin tidak sepenuhnya, tapi kepergian Ana membawa sedikit pengaruh baik untuk Devan meski laki-laki itu sendiri tidak menyadarinya.

"Van, ada kabar dari Ana?" tanya Dika tiba-tiba tanpa pikir panjang. Membuat Devan seketika menatapnya lagi, bahkan kali ini dengan tatapan tajamnya. Melihat raut wajah Devan yang berubah, Dika merasa jadi tak enak hati. "Eh sorry, gue nggak– "

"Nggak ada," potong Devan cepat dengan kembali mengalihkan pandangan ke arah lain.

Devan sudah berusaha keras mencoba untuk melupakan Ana dari ingatannya. Tapi jujur, semakin ia mencoba melakukan itu semakin pula kenangan bersama Ana memenuhi pikirannya. Berbagai cara sudah Devan lakukan dengan melampiaskannya pada materi sekolah dan kini tugas kuliah, tapi ternyata Devan tetap tidak bisa melupakan Ana sepenuhnya. Bahkan yang dulu Devan jarang berolahraga atau lebih tepatnya tidak ada waktu karena waktunya hanya ia gunakan untuk bermain dengan perempuan, kini ia rajin melakukan gym di tempat temannya.

DEV'ANA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang