Pembukaan cafe baru sudah berlangsung dua hari yang lalu, meski sudah banyak pengunjung yang datang, tak membuat Ana berhenti mempromosikannya sedari pagi. Cafe dibuka pukul 10 pagi dan akan tutup pukul 9 malam jika tidak ada satu dua hal yang membuat cafe tutup lebih dari pukul 9 malam.
Ana mempelajari cara membuat berbagai macam jenis kopi, roti dan juga desert. Belum ada makanan berat disini, hanya tersedia cemilan untuk menemani waktu luang. Posisi cafe yang dekat dengan gedung kampus juga merupakan salah satu promosi karena dianggap tempat yang sangat strategis. Tempat yang cocok didatangi mahasiswa ketika menunggu waktu pergantian jam kuliah.
Ana juga mempelajari bisnis ini dari tantenya yang ada di Bandung. Ia dia kasih kepercayaan penuh untuk menghandle segala keperluan cafe baru ini, namun tetap dipatau tantenya meski dari kejauhan. Setelah lulus SMA, Ana belajar banyak hal di Bandung. Dikota neneknya itu ia memulai hidup baru. Seperti dua hal tadi.
"Silahkan diminum, bang," ucap Ana terkekeh sambil menyerahkan secangkir hot capuccino pada seorang laki-laki yang duduk didepannya.
"Kampret lo, Na. Lo kira gue tukang ojek apa?" bantah laki-laki itu tak terima, arah pandanganya mengikuti Ana yang akan duduk.
Ana menyengir lebar, ia meletakan nampan diatas paha yang terbalut waist apron sebatas lutut. "Kalau abang ojeknya ganteng kaya gini mah, yang mau order banyak. Antirannya bisa panjang!"
Mendengar kata ganteng yang keluar dari mulut Ana, laki-laki itu tersenyum sumringah. "Jadi menurut lo, gue ganteng?" tanyanya sambil mengedipkan mata.
Ana mengamati laki-laki itu dari atas sampai bawah, tidak begitu ada banyak perubahan yang terjadi padanya, hanya saja kali ini penampilannya lebih rapih dibanding dulu, kali ini lebih tertata.
Ana mengangguk beberapa kali, ia mengetukkan ibu jarinya di dagu seolah sedang menimang-nimang jawabannya. "Tapi bo'ong."
"Sialan lo!" Laki-laki itu berdecak. Sesaat ia mengamati sekitaran ruangan cafe. "Btw, cafe punya lo?"
Ana menggeleng, ia merebahkan kepalnya diatas meja. Jika dikatakan lelah, sudah pasti Ana kekelahan. Cafe baru ini hanya memiliki tiga karyawan termasuk dirinya. Namun ini baru langkah awal, rasanya tidak etis jika harus mengeluh disaat seperti ini.
Posisi Ana saat ini membuat kepalanya miring menghadap ke samping yang tertuju pada pintu kaca, yang bisa melihat suasana luar bahkan seberang jalan yang tidak lain adalah gedung kampus.
"Bukan, ini punya tante gue. Pusatnya ada di Bandung, kalo ini cabang."
Laki-laki itu mengangguk. "Kirain punya lo. Siapa tau ngilang setahun tiba-tiba udah jadi CEO."
Ana mengangkat kepalanya, lalu menatap laki-laki itu tajam. "CEO pala lo! Enggaklah. Setelah gue keluar dari rumah Devan, gue balik ke Bandung. Tinggal dirumah nenek gue sampai gue lulus sekolah. Terus disana gue dikasih kerjaan sama tante gue. Nah, gue dikasih kepercayaan buat pegang nih cafe."
Laki-laki itu mengangguk paham, sedari tadi ketika ia berbicara dengan Ana, tatapannya tak lepas dari wajah Ana sedikitpun. Hal itu yang membuat garis lengkung dibibirnya tercetak, ia tersenyum.
"Ngapain lo senyum-senyum?" tanya Ana heran melihat perilaku laki-laki tersebut.
"Lo cantik."
Ya, menurutnya, Ana lebih cantik sekarang. Wajahnya putih mulus tidak ada goresan sekecilpun. Bibirnya yang tampak lebih merah kali ini– merah tapi bukan menor. Dan bulu mata yang lentik, alis yang rapi dan rambut yang lurus, lebat, juga wangi. Benar-benar berbeda dari Ana waktu masih SMA.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEV'ANA (END)
Romance"Sekedar suka atau terlanjur cinta, tak ada alasan untuk tidak bisa merasakannya." - Devaniel Marvien - Jika Devan bisa beranggapan begitu, Ana juga bisa membantahnya agar tidak jatuh terlalu dalam. "Devan itu playboy, dia bisa mengatakan kalimat...
