Vander sudah mengambil ancang-ancang untuk melemparkan pisau yang ia pegang kepada Frans. Jalanan cukup sepi, jadi Julio harus menjaga suara dan juga jarak motor mereka agar tidak ketahuan.
Julio sedang dilanda kecemasan saat ini. Bagaimana tidak? Vander yang saat ini sedang tidak terkontrol bisa saja dengan mudahnya membunuh seseorang. Bahkan ia tak segan-segan 'menghancurkan' orang yang sudah berani menggangunya itu.
Julio sudah lama mengenal Vander. Maka dari itu ia mengetahui semua rahasia yang Vander simpan selama ini. Disaat Vander lepas kendali, disana pula ia harus turun tangan. Meskipun harus menerima sedikit luka ataupun memar ditubuhnya.
Julio melihat pergerakan Vander mulai melambat. Cowok itu sepertinya sadar bahwa ia sedang dikendalikan oleh emosi. Vander memarkirkan motornya dipinggir jalan lalu memasukkan pisau itu kembali. Pandangannya berkabut. Keseimbangan tubuhnya perlahan menghilang. Bahkan ia tak sadar bahwa Julio sudah meneriaki namanya saat ini.
"Van! Van! Bangun woi! Lo jangan pingsan disini." Julio berusaha membangunkan Vander. Dengan segala cara, ia berusaha untuk membuat kesadaran cowok itu kembali. Dan usahanya membuahkan hasil. Vander sudah mulai bisa mengendalikan dirinya lagi.
"Gue kenapa?" tanya Vander sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Lo hampir ngebunuh orang bego! Untung ada gue. Kalau nggak si Frans udah mati ditangan lo." jawab Julio mengomel.
"Ck, sialan! Pakai acara kayak gini lagi." gumam Vander.
"Lo jangan maksain diri Van"
Vander mengguyar rambutnya. Ia merasa pusing sendiri dengan dirinya saat ini.
"Gue harus gimana?"
"Yang jelas lo nggak boleh sampai terlalu marah Van. Bisa-bisa penyakit lo kambuh."
"Ya, tapi gue belum terlalu bisa mengontrol diri gue sendiri. Gue tu berasa bukan cuman Leon doang yang ada dalam diri gue." ucap Vander.
Alis Julio bertaut. "Maksud lo ada seseorang lagi yang muncul?"
"Hm, kalau Leon lagi marah, efeknya nggak keterlaluan kayak gini."
Alis Julio semakin mengkerut. "Sekarang siapa lagi yang muncul?"
"Gue juga nggak tau."
Julio menepuk jidatnya keras. "Pengen banget gue cekik lo Van! Greget sumpah!"
Vander malah cekikikan. Dan yah, kalian tau saja siapa itu.
"Coba aja, ntar pala lo ilang sama si kalender gue nggak tau yak," Leon menjulurkan lidahnya kearah Julio. Ekspresi cowok itu perpaduan antara ingin mencekik dan juga berusaha sabar. Dan itu sukses membuat Leon ingin tertawa terbahak bahak saat ini juga.
"Tawa lu anjeng!" umpat Julio. Dan tolong ingatkan dia untuk menguliti Leon sekarang.
"Terah lo dah! Oh ya, lo nginep di rumah gue aja."
"Kenapa?"
Leon berdecak. "Kali-kali atuh kang! Emang lo betah dirumah sendirian?"
"Ya mau gimana lagi."
"Ck, lama lo. Tenang aja! Lo tau kan yang bahaya dirumah itu cuman si nenek sihir. Tiap pagi badan gue merah semua gegara ditampar ama dia. Apes kan gue?" Lah? Kok malah curhat sih?
"Itu sih kesialan nya elo! Beneran nih nggak apa-apa? Gue nggak enak sama bunda." kata Julio lirih.
Liana, bundanya Vander sudah banyak membantu Julio. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Julio diasuh Liana sampai ia beranjak SMP. Bahkan Liana memberikan Julio sebuah rumah sederhana untuk ditinggali cowok itu. Letak nya tak jauh dari rumah mereka, jadi Liana bisa sesekali mengunjungi Julio. Julio merasa menjadi beban di keluarga Vander.
KAMU SEDANG MEMBACA
REGALDIN [COMPLETED]
Mystery / ThrillerIni tentang Regaldin Redly Andersson. Dengan semua ke khilafan dan juga umpatan di setiap harinya. Kadang dia bisa menjadi dingin, kadang juga bisa menjadi orang bego. Tampang sangar tapi ganteng itu membuatnya menjadi kembaran Jack the Ripper versi...
![REGALDIN [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/215770180-64-k502758.jpg)