Pagi itu, Jinyoung ngebuka matanya perlahan dan langsung disambut sama pemandangan wajah damai Nahee di sampingnya.
Wajah damai yang sedari dulu sama sekali gak pernah dia bayangin bakalan selalu dia pandang pertama kali di setiap pagi. Sama sekali dia gak pernah bayangin kalau Nahee bakalan selalu tidur setiap malam dan juga bangun setiap pagi di sampingnya.
Pandangannya melayang jauh, melayang sampai ke hari-hari dimana setiap pagi dia bangun di samping Jinkyung. Mungkin rasanya bakalan membahagiakan kalau hari-harinya bakalan kaya gitu selamanya. Tidur dan bangun di samping Jinkyung.
Tapi kayanya hal itu bakalan jadi hal mustahil, mengingat Jinkyung yang sekarang pergi menjauh dari dia. Kalau Jinyoung boleh jujur, sekarang yang dia rasain adalah kehampaan. Sehari tanpa Jinkyung aja udah bener-bener hampa, apa lagi seterusnya?
Dia jadi punya tekad buat cepet-cepet selesaiin semuanya. Ngebuat Nahee sembuh, ngajak Nahee cerai dan setelahnya dia bakalan hidup bahagia sama Jinkyung. Selamanya.
"Stt, tidur lagi aja," Jinyoung ngusap bahu Nahee karna tiba-tiba istirnya itu menggeliat dalam tidurnya.
"Jam berapa?" Suara parau Nahee masuk ke indera pendengarannya.
"Masih jam 5, tidur aja lagi," jawab Jinyoung masih setia ngusap-ngusap bahu Nahee.
Dia jadi meringis kecil karna baru sadar kalau dia baru berhasil tidur 2 jam yang lalu dan sekarang dia udah terjaga lagi. Kepalanya bener-bener pusing mikirin semua permasalahan yang ada.
Tanpa diduga, Nahee maju mendekat, merapatkan tubuh mereka sampai kepala mereka berada di satu bantal yang sama. Ngebuat Jinyoung rasanya pengen ngehindar, tapi kayanya gak mungkin.
Yang dia lakuin malah ngelingkarin tangannya di pinggang Nahee dan makin ngikis jarak mereka. "Dingin ya?" Tanyanya.
"Iya, makanya mau peluk kamu," jawab Nahee sambil nyari-nyari posisi nyaman buat kepalanya.
"Manja banget sih? Hm?" Gumam Jinyoung lirih.
"Gapapa, sama suami aku sendiri 'kan?" Tanya Nahee sambil sedikit ngenengadahin kepalanya. Ngebuat mata mereka saling bertemu.
Jinyoung gak jawab, dia cuma makin ngeratin pelukannya. "Aku masih ngantuk."
"Tidur lagi aja," kata Nahee yang ngelihat Jinyoung udah mejemin matanya lagi. "Sleep tight, Jinyoung..."
***
"Mau kemana?" Jinyoung ikut kebangun waktu Nahee bangun.
"Udah siang, bangun. Kamu nggak bangun?" Jawab Nahee sambil ngiket rambutnya. "Aku mau masak."
"Ngapain masak sih? Di rumah ini udah banyak orang yang bisa ngelakuin itu," kata Jinyoung sambil iseng narik iketan rambut Nahee lagi. "Cantikan diurai."
Jujur, Jinyoung gak bohong kalau masalah dia muji Nahee cantik. Dia bohongnya kalau dia bilang Nahee cantik kalau rambutnya diurai.
Istrinya itu cantik diapain aja, cuma rasanya dia takut bakalan gak bisa nahan dirinya sendiri kalau ngelihat Nahee kaya gitu dan keadaannya mereka cuma berdua di sana.
Dan lagi, mereka udah nikah.
"Apa sih? Kok iseng?" Protes Nahee sambil melototin matanya yang sukses ngebuat tawa kecil menguar dari bibir Jinyoung. "Balikin nggak?"
"Aku balikin dan kita nggak keluar kamar seharian, gimana?"
Nahee ngerutin dahinya, "kenapa gitu?"
Jinyoung jadi ketawa dalam hati. Merasa gila karna barusan ngomong kaya gitu. Biasanya dia bakalan ngomong kaya gitu kalau sama Jinkyung. Apa coba yang gue bayangin barusan? Ini Nahee, bukan Jinkyung.
"Jelek ah merengut kaya gitu," Jinyoung ngusap wajah Nahee sekilas.
"Ih! Kenapa?"
"Nggak jadi," kata Jinyoung terus mejemin matanya lagi tapi tangannya gak urung buat ngulurin ikat rambut Nahee.
Nahee merengut sekilas, tapi gak urung buat ngambil kuncir rambutnya lagi. "Bangun, jangan tidur lagi."
"Ini weekend, Hee.."
"Yaudah," sahut Nahee terus langsung turun buat jalan ke arah kamar mandi buat cuci muka terus turun ke dapur. Perutnya lapar.
Aneh, pikirnya selama dia sikat gigi dia cuma ngerapal 1 kata itu dalam benaknya.
Gimana bisa gue nikah sama orang yang matanya kelihatan kosong tiap kali dia ngelihat gue?
Kenapa cuma gue yang deg-degan banget tadi? Kenapa cuma detak jantung gue yang menggila sedangkan dia enggak?
Apa karna gue yang belum kebiasa dan dianya yang udah kebiasa? Makanya dia biasa aja?
Kang Nahee, lo mikir apa? Mama udah bilang Jinyoung kaya gitu karna emang lagi banyak masalah sama kerjaan dia ditambah gue yang kecelakaan...
"Lo mikir apa, Kang Nahee?" Gumamnya ke dirinya sendiri.
***
Sebenernya aku udah nulis work ini sampe chapter terakhir, cuma aku males ngedit....pas udah aku edit, endingnya kurang ajib, jadi aku rombak mulai dari 31 ya, maafkan semuanya😢
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate - Bae Jinyoung
Fiksi Penggemar-you make me fall in love, but you hate me too. ©slrmoon - Januari, 2020
