04

310 54 3
                                        

"Nahee," panggil Mamanya, Nyonya Kang. "Jinyoung kemana?"

Nahee yang sedari tadi cuma berdiri di deket meja cemilan langsung gelagapan sendiri, "tadi aku sama dia emang sepakat nggak berangkat bareng, Ma. Coba aku hubungin dulu, ya?"

"Yaudah," kata Nyonya Kang. "Kamu cari tempat sepi dulu sana."

"Oke," Nahee langsung melenggang, nyebrangin ruangan besar itu buat keluar dari sana. Dengan gaun berpotongan rendah di bagian bahunya, ngebuat bahunya keekspos sempurna.

"Bae Jinyoung," Nahee ngedumel sendiri sambil berusaha ngehubungin cowok itu. "Beneran cari mati ya lo?"

"Dimana?" Kata pertama yang langsung keluar dari mulut Nahee begitu sambungan teleponnya kehubung sama Jinyoung.

"Gak ada urusannya sama lo," jawab Jinyoung yang makin-makin bikin Nahee kesel.

"Lo nggak dateng?"

"Gue udah bilang gue udah ada janji," Jinyoung ikutan kesel. "Kenapa masih aja nanya?"

"Bener-bener ya lo, Bae Jinyoung," Nahee ngegumam kesel. "Mau gue apain lo kalau ketemu?"

"Apa?"

"Fine. Lo yang pilih," sahut Nahee lagi. "Hari jumat minggu depan Mami lo bilang gue harus ke rumah utama lo buat makan siang. Gue gak akan dateng. Selamat mencari alasan."

"Hee—"

Nahee gak denger apapun lagi karna dia langsung mutusin sambungannya sepihak.

Kesel banget. Kenapa sih gue harus nikah sama orang egois gitu?

Nahee mulai ngegigitin bibirnya sendiri karna cemas dan khawatir. Gimanapun dia harus puter otak nyari-nyari alasan yang masuk akal biar Mama apa lagi Omanya percaya.

Setelah beberapa menit Nahee cuma mondar-mandir di lorong yang sepi itu, hapenya bunyi lagi. Jinyoung ngirimin dia sesuatu.

Jinyoung
| Gue dateng
| Tunggu setengah jam lagi

Nahee langsung ngehela napasnya lega walaupun dalam hati masih ngedumel sendiri.

Nahee tahu kalau Jinyoung pasti bakalan diomelin abis-abisan sama Maminya kalau ada acara yang mengharuskan dia dateng bareng sama Jinyoung tapi dia gak bisa dateng. Pasti cowok itu rasanya mau ngelepas telinganya sendiri.

Jadi itu bisa dijaiin senjata paling ampuh kalau Jinyoung gak bisa diajakin kerja sama.

"Kang Nahee?"

Nahee yang ngerasa namanya disebut langsung ngebalik badannya. "Kim Yonghee?" Gumamnya pelan tapi kedengeran di telinga Yonghee.

Sebenernya, Nahee cuma tahu nama lengkap cowok yang berdiri di depannya itu. Uhm, sama sekilas info sih.

Inget 'kan kalau cowok itu anak pemilik perusahaan tambang terbesar di negara itu?

"Tahu nama saya?" Tanya Yonghee.

Nahee ngegigit bibirnya sekilas, "tahu. Hanya tahu."

"Kita seumuran, 'kan? Boleh bicaranya tidak perlu terlalu formal?"

"Its oke, lo bisa ngobrol santai aja sama gue."

Yonghee ngulas senyum manisnya, "good. Nice to meet you, Kang Nahee."

"Nice to meet you, too," balas Nahee gak kalah sumringah.

Karna apa? Karna Yonghee bener-bener semirip apa yang diceritain kebanyakan orang.

Siapa yang nggak akan terpesona coba?

"By the way, lo kenapa di sini? Kenapa nggak masuk?"

"Barusan harus terima telepon," jawab Nahee bohong. "Mau masuk?"

"Sama lo?" Tanya Yonghee. "Boleh."

"Tadi gue udah sempet ngelihat daftar nama buat aturan duduk. Kayanya kita satu meja, Mister Kim."

Yonghee makin ngelebarin senyumnya, "rasanya gue bener-bener beruntung malem ini, Miss Kang."

Nahee langsung ngangkat kedua alisnya ke arah Yonghee. "Miss Kang but soon to be, Mrs. Kim."

***

Love Hate - Bae JinyoungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang