let her go

2.6K 232 335
                                        

Dengerin SO7 deh, hingga ujung waktu,dan teman temannya

Lama Vino terdiam mematung setelah kepergian Shani dengan pesan terakhir yang benar-benar mengagetkan. Istrinya itu pun sepertinya enggan berlama-lama dengannya. Setelah mengucapkan kalimat itu, Shani langsung melangkah pergi meninggalkan Vino bersama hati yang hancur berserakan.

Vin aku mau cerai. Katanya.

Shani mau memutuskan hubungan yang sudah coba mereka bangun.

Bukan hanya hubungan setahun, tapi hubungan 8 tahun yang mereka telah jalani seperti tidak ada artinya bagi Shani.

Like having a child should be their highest priority. Dan ketika tidak mampu memilikinya menjadi sebuah tolak ukur bahwa rumah tangga mereka tidak akan bahagia.

That really hit him hard.

Padahal bukan keinginan Vino memiliki masalah pada alat reproduksinya. Sebelum Shani menjatuhkannya begitu telak, Vino sudah lebih dulu merasa menjadi orang tidak berguna.

Bagi seorang lelaki, kemampuan memberikan keturunan sama pentingnya dengan keinginan seorang perempuan mempunyai anak dari rahimnya sendiri. Bahkan rasanya sangat memalukan saat organ keperkasaan yang selalu kamu bangga-banggakan bahkan nyaris tidak ada gunanya selain menjadi organ ekskresi dan tidak berfungsi sebagai alat bantu reproduksi dengan baik.

Seperti harga diri dan kejantanannya langsung terjun ke titik terendah. Dan satu-satunya orang yang ia harapkan menerima semua kekurangannya itu ternyata hari ini berniat menggugat cerai dirinya :)

Rasanya sosok Vino selama 8 tahun ini tidak ada artinya bagi Shani.

Sepertinya bahkan Shani lupa bahwa orang yang sedang dia ingin gugat cerai adalah orang yang setia menemani masa masa remajanya. Orang yang setia bersembunyi di balik kepopulerannya. Orang yang diam di tempat yang sama dalam waktu yang lama, hanya demi menunggu seorang Shani Indira.

Tapi sepertinya perempuan sesempurna Shani tidak memerlukan orang yang tidak sempurna seperti Vino.

***

Di sebuah kedai kopi, di sudut paling sepi di kafe itu Shani terlihat melamun. Memandang jendela yang mulai basah karena tetes-tetes air hujan sepertinya menjadi kegiatan yang lebih menarik daripada mendengarkan Rachel yang sedang berbicara di hadapannya.

"Kamu beneran mau balik kerja lagi? Beberapa BA udah nemuin model baru, jadi selain tawaran main film, job mu masih sepi Shan"

"Apa aja deh Hel, aku perlu kerjaan buat pengalih perhatian sekarang"

Rachel hanya bisa mengamati Shani yang menopang kepala dengan kedua tangan. Ia tidak tau apa yang terjadi, Shani menutup mulut rapat-rapat ketika ditanya. Tapi keadaannya jelas-jelas mengatakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Shani memang sedang tidak baik-baik saja. Dia kalut. Ia marah, tapi tidak tau bagaimana cara melampiaskan semua kemarahan dan kekecewaannya.

Mempunyai anak bukanlah tujuan utama Shani.

Mempunyai anak bersama Vino lah impian terbesarnya.

Shani tidak mencoba bercerita kepada siapapun, karena sebelum cerita pun dia sudah tau respon orang orang. Tidak ada yang mencoba ada dan berdiri di posisinya. Bukan sebagai seorang istri yang mempunyai suami infertil, tapi sebagai seorang istri yang merasa dikhianati oleh suaminya sendiri.

Shani kecewa. Siapapun akan kecewa ketika impiannya dipatahkan. Tapi dibandingkan dengan rasa kecewanya pada ketidakmampuan Vino memberinya keturunan, Shani lebih kecewa dengan kenyataan bahwa suaminya yang selama ini dia banggakan, orang yang ia pikir selalu mendukungnya, ternyata sejak awal tidak memiliki visi yang sama dengannya.

To The Imperfect You [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang