"Assalamualaikum, A. Aa mau kopi?" ketikku pelan-pelan di atas layar touch screen ponselku. Harap-harap cemas yang kurasakan ini rasanya tidak berguna karena kutau dia akan membalasnya lama. Tapi suara petikan gitar yang kujadikan nada chat WA khusus untuknya terdengar tak sampai semenit kemudian. Aku terkejut.
"Mau dong, Lun! Sini kirim cepat kopinya!" membaca pesan chatnya saja sudah membuatku tersenyum. Aku seakan bisa mendengar langsung suaranya.
"Dikirim ke Aa yah? Atau ke dikirim ke alamat Kak Rion saja?" belum sempat kumatikan layar ponselku, bermaksud menunggu balasannya, suara petikan gitar terdengar lagi. Wah... sepertinya dia benar-benar tidak sedang sibuk.
"Aa aja, Lun! Jangan Rion!" tawa kecilku tanpa sadar keluar saat kumembaca balasannya. Kuekspresikan tawaku dengan mengirim emoticon tertawa.
"Rencana saya mau kirim 2 bungkus, A. Masing-masing satu buat Aa dan Kak Rion."
"Oke cepat kirim sini! Mantap! Kapan dikirimnya? Kopi apa teh namanya?"jawabnya lagi tak sampai sedetik.
"Namanya Kopi Kalosi, A. Dari Enrekang."
"Waw...namanya Sulawesi banget!"emoticon tertawa tersematkan di akhir pesan chatnya.
"Sini mana alamatnya." Bunyi pesan chatku kemudian. Ada jeda semenit atau dua menit kemudian balasan chatnya akhirnya menderingkan ponselku lagi. Dia menyematkan nama lengkap dan alamatnya di sana.
"Oke, A. Senior saya yang akan kirim langsung dari Enrekang. Jadi ga tau kapan dikirimnya. Kalau udah ada kabar, nanti saya kasih tau."balasku dalam 1 pesan chat dan semenit kemudian petikan gitar terdengar kembali.
"Siap,Lun. Pokoknya kopinya harus nyampe! Hahahaha!"aku tersenyum tipis membaca balasannya.
"Hahahaha...Iya Insyallah, A. Awalnya saya minta kopi Toraja, tapi kata Kak Rion kopi Kalosi jauh lebih enak. Jadi saya minta diganti jadi Kopi Kalosi." Aku mengetiknya terlalu bersemangat hingga tanpa kusadari isi chatnya terlalu panjang dan seakan membuka topik baru untuk dibahas dan biasanya A Irfan tidak membalas pesan WA lagi setelah topik chat pertama telah selesai dibahas. Dan dugaanku benar terjadi. Dia tak membalas pesan WA ku lagi bahkan tak membacanya. Aku terdiam, menyesal, dan bagian diriku yang paling meronta adalah harga diri.
Aku mulai membatasi topik pesan chatku pada A Irfan demi kesejahteraan harga diriku. Awalnya, saat A Irfan baru saja mendapatkan no. WA ku dari Kak Rion, dia hampir selalu memulai percakapan di chat. Entah itu mengajak login yang ternyata hanya mengajakku saja, yang tentu terasa berbeda. Kami biasanya online bertiga dengan Kak Rion. Atau sekedar mengingatkanku untuk mengupdate aplikasi PUBG untuk season yang baru.
Aku awalnya hanya menganggap A Irfan sebagai teman bermain game biasa seperti teman-teman PUBG ku yang lainnya. Tapi ketika suatu waktu kami saling mengirim pesan chat semalaman dan membicarakan dirinya, hobinya dan kebiasannya. Aku sadar dia adalah tipe pria yang kuidolakan. Aku tumbuh dan besar di himpunan mahasiswa saat berkuliah. Aku tidak hanya aktif tapi benar-benar menganggap himpunan sebagai rumah. Rumah dalam arti harafiahnya. Tidur di sana, makan di sana, dan belajar di sana. Oleh karena itu kriteria pria idamanku tak jauh-jauh dari kriteria yang dimiliki oleh senior yang kukagumi di sana.
1. Berambut gondrong tapi rapi dan keren.
2. Pendaki
3. Pecinta alam
4. Pandai bermusik
5. Pemikir yang handal.
Dan dari kelima kriteria itu, A Irfan memenuhi 4 di antaranya no. 1-4. Ditambah lagi sholat lima waktunya tak terputus dan nilai plus lainnya dia sangat pandai menggambar. Hingga ke tahap karya yang dihasilkannya selevel dengan karya ciptaan tangan-tangan profesional. Dan plus plus lainnya dia tidak hanya pandai bermusik tapi benar-benar seorang pemusik. Dia adalah seorang gitaris band metal. Pernah beberapa kali dia mengirimkan fotonya ketika dia sedang tampil di atas panggung dan hasil-hasil gambarnya padaku. Dan semua fakta-fakta itu membuatku mengubah sudut pandangku padanya. Aku menguminya.
Aku terus menanyakan informasi-informasi lain yang membuatku terasa bisa mengenalnya lebih jauh. Kami saling membalas pesan chat hingga jam 2 pagi. Hingga akhirnya terhenti karena Kak Rion terus menelponnya dan megajaknya Login. Hanya sebuah janji kecil yang dia sampaikan sebelum dia mengakhiri pesan kami, bahwa kami akan membahas pertanyaan lain saat kami login bersama.
Jika ada satu hal yang sungguh sangat kusesali terjadi ketika aku berusaha mengenalinya lebih jauh adalah rasa gengsiku. Aku sangat membencinya. Ketika A Irfan mengajakku login dan bermain dimana hanya kami berdua di dalam permainan dalam mode duo, insting kewanitaanku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku sudah menyadarinya, dia pasti ingin memenuhi janji kami di WA malam itu. Tapi entah mengapa aku tak berani memulai pembahasan walaupun sepanjang game kami hampir tidak berbicara. Aku berharap dia yang memulainya sendiri tapi ternyata dia tidak memulainya sama sekali. Kurasa dia mengharapkan hal yang sama padaku. Hingga match berakhir pun kami berdua tidak menyinggung topik itu sama sekali. Aku merasa sangat bodoh. Sangat bodoh. Aku seharunya membuka percakapan terlebih dahulu tapi nyatanya tidak. Hal itu terus kusesalkan hingga sekarang.
Yah...setelah itu kami memang masih saling mengirimkan pesan WA tapi topik pembahasan tidak sepanjang yang dulu-dulu lagi. Terkadang dia tidak membaca pesan chatku walau dia sedang online. Aku tak bisa berkata apa-apa, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya ratusan spekulasi yang bermunculan liar di kepalaku. Dari yang terburuk, tersadis dan ternaif.
Hari demi hari intensitas komunikasi kami semakin kecil. Dia tak pernah mengajakku login duluan. Akulah yang harus berinisiatif atau menunggu Kak Rion yang mengajakku terlebih dahulu. Aku hanya bisa pasrah. Mungkin dia telah melihat wujud asliku di akun Instagramku dan menyadari aku bukanlah tipe gadis yang disukainya. Setelah itu dia memutuskan untuk menjaga jarak. Yah... teori spekulasi ini yang terburuk tapi juga tingkat kebenarannya paling tinggi. Aku terkekeh.
Oleh karena sikapnya yang seperti itu, aku akhirnya juga memutuskan untuk membatasi diri. Tidak lagi terlalu sering mengirim pesan chat ataupun tidak menambah topik pembahasan baru. Tapi obsesiku padanya sepertinya masih akan berlanjut mengingat aku masih enggan menghapus history chat kami. Aku terus membacanya berulang-ulang dan memandangi foto wajahnya sebelum tidur. Yaa...aku memang segila itu tapi itulah satu-satunya caraku melampiaskan obsesi ini tanpa melukai harga diri dan logikaku. Aku memutuskan menjadi fans rahasianya saja. Tak lebih dari itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Skenario
RomanceRiani tak pernah menyangka akan dipertemukan dengan Irfan, pria yang dikaguminya lewat salah satu platform game online. Berawal dari saling bertukar no.ponsel dan saling mengirim pesan via Whatsapp, Riani akhirnya menyadari Irfan memenuhi hampir seb...
