BAB 7 (Part 1)

105 11 1
                                        

"Kak Sam mau pesan mie?" tanyaku setengah berteriak. Kak Sam berbalik dan menggelengkan kepala sambil memukul-mukul perutunya. Dia masih kenyang. Aku mengangguk dan berbalik ke Ibu pemilik kedai. Aku memesan nasi plus mie instan goreng dan telur ceplok, 4 es kelapa muda, 2 jagung bakar dengan bumbu balado dan original. Setelah memastikan pesananku telah diterima, aku berjalan menuju meja dimana Kak Sam tengah duduk.

"Kak Sam tidak ikut berkeliling?"tanyaku sambil menarik kursi tepat di seberang kursinya. Dia menggeleng.

"Alasan aku ga keliling sama dengan alasan Luna." Jawabnya tersenyum dan menghela asap rokoknya yang tertiup angin pantai menuju ke sisi kiri tubuh Kak Sam.

"Yang mana dulu Kak? Saya punya 2 alasan, yang pertama pemandangan di sini tak banyak berubah dibanding terakhir kali saya kesini dan yang kedua karena saya sedang lapar."Kak Sam tertawa.

"Yang pertama." Jawabnya singkat. Aku tertawa ringan sebentar kemudian mengalihkan pandangan ke kiri. Hamparan selimut hijau biru indah bertemu birunya langit dengan bercak-bercak putih awan sepanjang garis horizon memanjakan mataku. Hamparan pasir hitam yang dirayapi buih putih ombak dan rindangnya barisan pohon kelapa menjulang tinggi menyempurknakan pemandangan di Tanjung Bunga ini. Angin laut bertiup cukup kencang dan mengibar-ngibarkan ujung jilbabku. Semua elemen ini didukung dengan suasana pantai yang tidak terlalu ramai.

Kusipitkan mata berharap pandanganku lebih fokus pada kedua sosok pria yang sedang berdiri di ujung dermaga yang menjorok ke laut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kusipitkan mata berharap pandanganku lebih fokus pada kedua sosok pria yang sedang berdiri di ujung dermaga yang menjorok ke laut. Mereka sepertinya masih sibuk berburu objek foto. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

"Bagaimana Kak Sam bisa kenal A Irfan dan Kak Tama?" tanyaku penasaran, kumembalikkan badan pada Kak Sam yang masih asyik menyulut rokoknya. Kak Sam pun menceritakan pertemuan mereka terjadi tahun lalu, saat dia dan Kak Faiz melancong dari Pulau Jawa hingga Pulau Bali. Salah satu destinasi tujuan mereka adalah puncak Mahameru di Jawa Timur. Saat itu para pendaki di Indonesia beramai-ramai merayakan hari kemerdekaan Indonesia di Puncak, salah satunya Puncak Mahameru. Dia dan Kak Faiz telah menazarkan diri untuk merayakan 17 an tahun itu di sana. Di sana pula lah dia bertemu dan berkenalan dengan A Irfan dan rombongannya dari Garut. Berawal dari Kak Sam yang meminta api rokok Kak Tama untuk menyulut rokoknya sendiri di Pos 1. Mereka mengobrol dan akrab begitu saja, keakraban ajaib yang memang hanya mudah terjalin oleh sesama pendaki. Mereka pun memutuskan mendaki bersama, menjadi teman seperjalanan menuju puncak Mahameru.

"Bagaimana di sana, Kak? Keren?"tanyaku exited dan penasaran. Kak Sam menyangkutkan batang rokoknya di antara bibir dan merogoh saku jinsnya. Dia menarik ponsel keluar dari sana. Setelah mengusapnya beberapa kali, dia mendorong ponselnya ke tengah meja, ke arahku. Aku pun meraihnya. Gambar pertama yang terpampang di layar ponsel itu adalah sosok Kak Sam yang sedang berdiri di puncak gunung berpasir dan berkerikil sambil memegang bendera KORPALA berwarna hitam. Di belakangnya dengan jelas terlihat langit biru cerah dan barisan awan yang seakan tidak lebih tinggi dari kakinya. Kepulan asap tipis juga terlihat di sudut foto. Aku mengusap layar ponsel untuk melihat foto selanjutnya dan pemandangan Danau Ranu Kumbolo yang kehijauan dan lembah yang berwarna hijau keemasan yang diterpa sinar matahari menyejukkan mataku.

SkenarioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang