Entah sejak kapan aku berubah menjadi sosok pendiam. Ini benar-benar bukan aku. Maksudku aku adalah pribadi bebas yang bisa menyuarakan isi pikiran atau pendapatku pada siapapun atau kapanpun aku mau. Tapi lihat diriku sekarang! Aku duduk terpaku di kursi, tak mengeluarkan sepatah katapun. A Irfan yang menyetir di sebelahku pun tak jauh berbeda. Padahal kami telah bepergian bersama dan kadang-kadang hanya berdua saat berkeliling di Kota Makassar beberapa hari yang lalu dan saat itu kami tetap bisa berbincang-bincang santai dan menyenangkan. Sekarang? Kami hanya berdua di mobil Avanza ayahku, tapi sepanjang jalan kami tak bersuara.
Selepas makan malam di PTB, Kak Tama dan Kak Sam lebih dulu turun di rumah Kak Sam dengan alasan agar tidak ribet, mereka meminta A Irfan mengembalikan mobil ke rumah dan kembali ke rumah Kak Sam dengan motornya yang sengaja ditinggalkan di rumahku. Sepanjang jalan dari rumah Kak Sam hingga setengah perjalanan menuju rumahku, kami masih memilih untuk terbungkam.
Beberapa kali aku ingin memulai percakapan dengan tema apapun yang terlintas di benakku. Tapi sisi lain dari diriku justru menahanku. Lagi-lagi keheningan ini menyiksaku. Aku tak tau apa yang A Irfan pikirkan sekarang dan itu membuatku cemas. Apakah dia menyadari perasaanku padanya? Apakah dia merasa tak nyaman dengan hal itu? Apakah dia membeciku? Pertanyaan tak terjawabkan ini membuatku ingin menangis.
"Terima kasih banyak, Tante telah mengizinkan kami memakai mobil ini."kata A Irfan tersenyum saat mengembalikan kunci mobil pada Ibu. Ibuku membalas senyumannya dan mengangguk.
"Sering-sering main ke sini, Fan dan setiap kali Irfan ada kesempatan ke Sulawesi, jangan sungkan untuk singgah di sini."jelas ibuku menepuk-nepuk punggung A Irfan perlahan. A Irfan menunduk-nundukkan badan beberapa kali tanda dia mengiyakannya. Aku berjalan mengekor di belakangnya menuju garasi rumah, kubukakan pagar untuknya dan A Irfan mendorong motor Kak Sam keluar dari pagar dengan hati-hati.
"Aa pulang dulu, Lun."kalimat pertama akhirnya dilontarkan olehnya dan tatapan mata kami untuk pertama kali sedari tadi akhirnya bertemu. Aku tak merespon. Aku tak menyukai cara perpisahan ini. Besok pagi jam 8 dia akan terbang kembali ke Garut dan aku mungkin tak akan berjumpa lagi dengannya. Aku ingin menangis, dadaku terasa sesak dengan kesedihan yang tak bertuan dan tak beralasan logis. Mengapa perpisahan ini sungguh sulit kuhadapi? Aku bahkan belum genap setahun mengenal pria ini, aku bahkan belum genap seminggu bertemu dengannya. Lalu mengapa aku merasa tersiksa dengan perasaan takut ditinggalkan ini? Aku bahkan bukan siapa-siapa bagi A Irfan.
Bibirku mulai bergetar. Mengapa aku harus memendam perasaan ini padanya? Sudah berapa kali kuperingatkan diriku untuk berhati-hati dan tak jatuh cinta padanya. Bahwa semua perasaan istimewa dan bahagia ini adalah sebuah ilusi, romantisme sementara yang akan hilang saat kami telah disibukkan dengan kehidupan kami masing-masing kelak. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa menahannya. Perasaan ini membanjiri dan melingkupi diriku tanpa bisa kucegah dan sekarang dia akan pergi dengan cara seperti ini. Tanpa sepatah katapun. Dia tak perlu sejahat ini walaupun dia akhirnya menyadari perasaanku dan menolak untuk menyambutnya.
Aku menunduk berusaha menyembunyikan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk mataku. Sekarang aku berharap dia segera pergi dan tak berkomentar apa-apa mengenai kerapuhanku ini. Tapi pria ini benar-benar jahat. A Irfan tak kunjung pergi, dia tetap beridiri di sana, di depan ku,tapi tak berkata satu katapun. Dia berdiri mematung dan tak bergerak. Rasanya ingin sekali ku berlari masuk ke kamar ku dan menangis sejadi-jadinya di sana. Menyalahkan perasaan bodoh dan mengadu pada bantal kepala di kasurku. Tapi kakiku berkhianat dengan inginku, mereka tetap membatu di hadapannya. Aku tak berdaya.
Kurasakan usapan lembut yang familiar di puncak kepalaku. Perlahan dan hati-hati, seakan takut aku akan pecah berhamburan jika tidak diperlakukan seperti itu. Pertahananku jebol, air mata mengalir dengan deras tanpa sanggup kubendung lagi. Aku tak berani mengangkat kepala. Kukepalkan kedua tanganku erat-erat mencoba menahan isakan yang memberontak ingin keluar dari tenggorokanku. Aku sangat ingin menatapnya sekarang, ingin membiarkan diri terjebak dalam tatapan matanya sekali lagi. Tapi aku takut, aku semakin tak bisa melepaskannya. Aku bisa saja menangis meraung-raung, memohon untuk tak ditinggalkan. Aku takut. Ekspektasi mengalahkan logikaku yang begitu payah ini. Aku semakin mengepalkan kedua tanganku saat kurasakan jari-jari panjang A Irfan mengusap kepalaku hingga ke depan telinga kiri. Dia hanya meletakannya di sana. Buku-buku jariku memutih.
"Aa pergi dulu."kurasakan jari-jarinya menjauh. Aku mengangguk tanpa mendongakkan kepala sedikitpun hingga suara mesin motornya tak lagi bisa kudengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Skenario
Storie d'amoreRiani tak pernah menyangka akan dipertemukan dengan Irfan, pria yang dikaguminya lewat salah satu platform game online. Berawal dari saling bertukar no.ponsel dan saling mengirim pesan via Whatsapp, Riani akhirnya menyadari Irfan memenuhi hampir seb...
