"Kamu dimana ? Hari ini aku lembur, maaf ya"
Bohong! Dia tau Javas sedang berbohong, hatinya semakin sakit membaca pesan yang dikirim Javas, ini sudah tengah malam, tapi air mata ini entah kenapa terus keluar, dia menangis tanpa suara, di dalam kamar, di rumah orangtuanya.
Kenapa Javas bisa-bisanya berbohong?!
Aku terus bertanya pada hatiku, mungkinkah ini salahku ?
Aku tidak pernah begini, menangis seperti ini, tapi aku benar-benar sakit hati, air mataku bahkan tak bisa ku kendalikan, aku hanya bisa memegang dadaku, menekannya agar rasa sakitku hilang dengan air mata yang terus saja keluar.
Javas tidak pulang, berarti dia ada bersama wanita itu, bermalam di Apartemen itu.
Jadi inikah alasan Javas meminta mereka pindah tiba-tiba ?
Karena dia ingin wanita itu tinggal disana ?
Yaallah, kenapa sesakit ini mengetahuinya.
Aku berpikir, memutar ulang memori awal aku bertemu Javas.
Semua di rencanakan
Tak ada yang dari hati
Menikah pun karena perjodohan
Mungkinkah Javas punya wanita lain yang dia cintai ?
Jika benar, maka itu... Kenapa aku tidak rela?!
Dia akan mencari tahu terlebih dahulu, jika memang benar ada wanita lain yang Javas cinta. Aku akan mengambil keputusan, aku akan cari jalan keluar, toh meski kita bersama sampai mati jika tidak saling mencintai pasti hanya akan saling menyakiti.
Aku harus mencari tau.
***
"Kalau aku tinggal disini, terus kamu ?"
Putri memandangnya dengan cemas, kini keduanya tengah duduk di ruang tamu dengan Putri yang duduk di kursi roda.
"Aku bisa tinggal di tempat lain" jawabku dengan pasti.
"Javas, kamu bukannya udah nikah ?" Akhirnya dia bisa bertanya, meski selepas itu ada rasa nyeri dihatinya, dia bahkan tidak berani memandang Javas, hanya bisa menunduk.
"Gapapa, aku dan istriku tinggal di rumah lain"
Kata-kata Javas entah kenapa sukses membuatnya bagai sudah jatuh tertimpa tangga, benar-benar menyedihkan. Aku ingin menangis tapi aku menahannya, tadinya kupikir setiba aku di Indonesia, aku bisa bertemu lagi dengannya dan memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu, namun apa yang kudapat, hanya berita bahagia tentang pernikahannya dengan seorang wanita tapi itu bukan aku.
Aku masih ingat, ketika aku melihat kabar berita itu di TV, semalam aku menangis di dalam kamar seorang diri, perasaanku hancur saat itu juga, aku pikir aku benar-benar sudah terlambat dan tidak bisa memperbaiki semuanya dan itu sesuai dugaanku, Javas sudah memiliki wanita lain. Aku hanya bisa menangis menyesali semuanya, aku benar-benar rugi telah melepaskan sesuatu yang sangat berharga, dan sekarang hidupku benar-benar hancur.
"Kenapa, Putri ?"
Air mataku luhur, tak bisa ku cegah, aku benar-benar malu saat ini, aku yang bodoh ini telah melepaskannya, tapi mengapa Javas masih sebaik ini padanya. Dia bahkan sangat malu berhadapan dengan Javas dengan keadaannya yang begini.
"Kenapa Putri ?" Tanya Javas lagi, pria itu sudah bersimpuh dihadapannya dengan tatapan cemas.
Putri masih tak berani menatapnya "Javas... Aku... Malu, kenapa... Kamu masih baik padaku, aku..."
