34. Blood, Sweat and Tears

4.6K 509 34
                                        

Semakin banyak vote, semakin cepat aku up. Karena aku semangat sekali dapat dukungan dari kalian. Kayak cerita yang sebelumnya. Makanya, aku menakankan sekali kalian untuk vote, karena aku jadi merasa diapresiasi.

Terima kasih!

Selamat membaca.

-

Da In berjalan terseok dengan pipi basah. Mengabaikan beberapa orang yang memperhatikan. Udara dingin menelusup tiap inci kulit yang terbuka. Tangan menggenggam erat ponsel yang terus berdering. Nama Taehyung muncul di layar, namun Da In tidak ingin repot-repot mempedulikan. Terakhir kali ponselnya berdering menunjukkan nama Jungkook, dengan segera Da In mengangkatnya.

"Koo.." lirihnya menahan isak, "bisa kau mengantarku ke rumah Mingyu? Aku ada di halte." ujarnya kemudian menjauhkan ponsel dari telinga, karena sambungan telepon tiba-tiba terputus. Isaknya terdengar lagi. Merapatkan bokong pada bangku halte. Penampilannya mencuri perhatian orang-orang disana. Wajah dipenuhi air mata, heels tinggi dan dress terbuka tanpa mengenakan jaket di tengah musim dingin.

Sepuluh menit berlalu. Sebuah Merci hitam berhenti tepat di depan halte. Seseorang keluar dari mobil dan menghampiri Da In. Menyematkan coat pada tubuh gadis yang masih tertunduk menahan isak. Bertumpu pada lutut guna mencari wajah Da In.

"Kau bisa mati kedinginan," ujarnya berhasil mendapat pandang dari Da In. Wajahnya berantakan. Rambut sedikit teracak. Riasan wajah sudah tak beraturan. Air mata membanjiri kedua pipi dengan pucuk hidung memerah.

"Koo.." lirih Da In lagi pada pria dihadapannya, "I love him.." tangisnya pecah. Diam-diam menyebabkan hati pria didepannya tersayat.

Tak berselang lama, Jungkook segera membawa Da In ke dalam mobil dan berkendara keapartemennya sebelum mereka membeku kedinginan. Di dalam mobil dia hanya memperhatikan Da In terdiam. Pandangan kosong menerawang jauh ke luar jendela. Dia sendiri segan ingin sekedar menanyakan apa yang membuat Da In seperti ini. Lagipula dia sudah tahu jawabannya. Tidak ada lagi yang memiliki kekuatan untuk menyakiti Da In selain orang yang paling dicintainya, Kim Taehyung.

Sampai di apartemen, Jungkook memegangi tubuh lemah Da In. Berjalan saja seakan tidak sanggup. Gadis itu benar-benar terpuruk. Jiwanya seperti dibawa pergi dari raganya. Pipinya masih basah. Namun tak lagi terisak. Da In sendiri muak mendengar isakan karena orang yang sama. Ingin sekali menghempas jauh-jauh nama Taehyung dari hatinya. Mengubur dalam-dalam hingga tak tersisa.

Jungkook membawa Da In ke dalam kamar. Menempatkan tubuh gadis itu pada ranjang king size-nya. "Aku akan mengambilkan air minum," ujarnya yang tak mendapat balasan. Da In masih menatap kosong. Duduk diujung ranjang dengan pandangan nanar ke lantai.

"Kook, aku ingin berhenti mencintainya, ingin meninggalkannya," kalimat pertama yang keluar dari mulut Da In saat Jungkook kembali dengan gelas ditangannya.

"Aku bisa membantumu, Da In. Aku bisa merebutmu darinya."

Da In menggeleng. Lagi-lagi kepalanya menunduk. Terisak. Menggigit bibir bawah, berat untuk berucap. Menghembuskan napas sekali kemudian kembali menatap Jungkook yang masih berdiri menatap tepat pada netranya. "Aku tidak bisa, Kook. A-aku.." lirihnya tertahan, kembali tertunduk, "aku.. mengandung anaknya."

Jungkook berhasil dibuat tertegun. Membeku. Bergeming di tempat. Seperti lupa cara berkata-kata. Tangannya bergetar hampir menjatuhkan gelas yang digenggam. Menatap Da In tak percaya dengan kedua mata terbuka lebar dan rahang terjatuh. Baru saja, Da In mengatakan bahwa dia sedang memiliki anak Taehyung dalam rahimnya, secara harfiah.

Sweet ScarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang