Selama sehari penuh Da In menghindari Mingyu. Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang terjadi antara Mingyu dan Ara. Tapi melihat wajah Mingyu membuatnya muak dan kesal, teringat akan kejadian semalam. Seakan Mingyu telah melakukan kesalahan yang membuatnya kecewa bukan main. Ya, saat ini Da In memang kecewa dengan Mingyu.
Selama sehari penuh pula hubungan antara Taehyung, Mingyu dan Ara melintas dipikirannya. Hal seperti ini sangat asing bagi Da In. Pasalnya dia bukan tipe orang yang suka berurusan dengan masalah orang lain. Satu prinsip yang selalu diingatnya, jika ingin terhindar dari masalah, jangan pernah masuk kedalamnya. Dia memang tidak atau belum masuk ke dalam masalah itu. Tapi seharian berkutat dengan pikirannya hingga kalut, membuatnya gusar sendiri.
Yoonhee mendengus sebal melihat gadis dihadapannya hanya memainkan makan siangnya sambil melamun. Dia mengetuk nampan Da In dengan sumpitnya. "Kau datang bulan lagi?" Tanyanya mendapat perhatian dari tiga orang pria yang juga sedang makan siang bersama mereka, termasuk Da In sendiri.
"Tidak." Jawabnya singkat sambil menyendok nasi ke dalam mulutnya. Yoonhee mengangguk sambil terus memperhatikan gerak-gerik Da In. Dia tahu ada yang sedang disembunyikan darinya. Begitu pula dengan Taehyung yang ikut memperhatikan Da In sedari tadi. Dia juga tahu ada yang mengganggu pikiran Da In hingga membuatnya lebih banyak terdiam. Memang Da In tidak se-talkative Yoonhee, tapi Da In tidak pernah terlihat sediam ini.
Bel pulang mengakhiri kegiatan sekolah hari ini. Semua murid berhambur keluar kelas. Di tempat parkir, Yonhee berpamitan pada Da In dan teman-teman lain. Empat orang yang berdiri disana melambai hingga Yoonhee masuk ke dalam mobil jemputannya. "Da In, pulang bersama saja, kami akan ke rumah Taehyung." Ujar Jimin sebelum membuka pintu mobil Jungkook. Hari ini Jimin sengaja tidak membawa mobil karena sudah janji akan bermain game di rumah Taehyung bersama Jungkook.
"Aku berterima kasih pada kalian karena bermain setiap hari sehingga aku tidak perlu naik bus untuk pulang." Timpal Da In diikuti senyum manisnya, berbanding terbalik dengan nada bicaranya yang terdengar sarkas. Jungkook terkekeh kemudian masuk ke mobil diikuti Jimin setelahnya.
"Song Da In!" Seru seseorang sambil berlari kecil ke arah tempat parkir. Da In menoleh pada asal suara dan tubuhnya menegang seketika melihat Mingyu berjalan menghampirinya. Tubuhnya beringsut mundur selangkah. Taehyung yang melihat reaksi Da In kemudian mengerutkan dahinya, penasaran apa yang sedang terjadi antara Da In dan Mingyu.
"Kita perlu bicara." Ucap Mingyu setelah berhadapan dengan Da In. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Da In bermaksud membawa gadis itu menjauh dari sana. Hal lain yang mengejutkan terjadi. Taehyung menahan tangan Mingyu, membuat atensi dua orang disana tertuju padanya. Termasuk Jimin dan Jungkook dari dalam mobil yang bertanya-tanya atas kejadian dramatis diluar.
"Lepaskan tanganmu!" Perintah Taehyung dengan suara beratnya. Da In meneguk ludah melihat ekspresi Taehyung yang seakan-akan siap menghajar Mingyu habis-habisan jika tidak menuruti kalimatnya.
"Ada apa ini?" Suara lain muncul membuat tiga orang yang memanas itu terdistraksi. Sontak ketiganya menoleh pada gadis yang berdiri tidak mengerti di depan mobil Taehyung. Kemudian pautan antar tangan itu terlepas seketika. "Ku dengar Jimin dan Jungkook akan pergi ke rumahmu? Aku ikut. Sudah lama sekali tidak bertemu Nyonya Kim." Ujar gadis itu pada kekasihnya sambil tersenyum seakan tidak peduli dengan kejadian barusan.
"Kalau begitu aku pulang dengan Mingyu." Kata Da In kemudian setelah melihat Ara masuk ke dalam mobil Taehyung dan pemilik mobil kembali menatapnya. Sedetik kemudian, dua orang disana pergi bersama meninggalkan Taehyung dan tatapan geramnya.
Seperti yang di duga, Mingyu membawa Da In menuju apartemennya dan bersiap dengan beberapa pertanyan mengapa Da In menghindarinya. Da In sudah tahu hal ini akan terjadi. Dia tidak mungkin menjauhi sahabatnya terus-terusan. Dan dia sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan Mingyu lima menit lalu. Da In memang terdiam selama itu, tidak langsung menjawab pertanyaan Mingyu. Dipikirannya berputar pertanyaan tentang hubungan Mingyu dan Ara. Maka hal lain terlontar dari mulutnya alih-alih menjawab pertanyaan Mingyu.
"Gyu, aku akan memberimu dua kata dan kau harus menjelaskan sesuatu." Suasana tegang tiba-tiba mendominasi apartemen Mingyu. Pemilik apartemen sendiri merasa gadis disebelahnya menunjukkan keseriusan yang tidak biasa, berbeda dari biasanya.
"Harus jujur sekali, ya?" Sahut Mingyu mencoba mengubah suasana menjadi sedikit lebih tenang. Gagal. Da In sedang tidak dalam mood bercanda. Malah dia semakin terlihat serius setelah menggeser tubuhnya menghadap Mingyu dan menatapnya lebih intens.
"Lee Ara." Mingyu terlihat terkesiap dengan sebuah nama yang Da In ucapkan. Hampir saja menjawab keraguan Da In hanya dengan melihat ekspresi Mingyu sekarang.
Mingyu menghela nafas dan membuang muka sebelum menjawab, "kau tahu dia kekasih Taehyung."
Da In memutar bola matanya jengah. "Gyu," kalimatnya menggantung dengan jeda beberapa detik, Mingyu kembali menatap Da In, "aku melihatmu dan Ara bercinta kemarin malam."
Hening.
Benar-benar hening selama beberapa menit dan hanya ada adu tatap antara dua orang di sofa itu. Da In dengan tatapan ingin tahunya sementara Mingyu dengan tatapan tak percaya. Suasana bahkan lebih tegang dari sebelumnya.
"Shit!" Umpat Mingyu pelan sambil memalingkan wajah. Sekarang dia ingat suara yang dia dengar saat bercinta dengan Ara saat itu, ternyata Da In penyebabnya.
"Tidak bisakah kau menceritakan padaku yang terjadi antara kau dan Ara?" Pinta Da In tanpa memohon. Dia tahu Mingyu pasti menceritakannya tanpa dipaksa terlebih dahulu. Hanya saja butuh waktu untuk mengatakan pada Da In. Bagaimanapun, Mingyu masih memiliki perasaan pada gadis ini. Meski Da In tidak memiliki perasaan yang sama sekalipun. Bagi Mingyu, berada di dekat Da In dan menjadi teman berbicara atau sekedar tempat mengeluh saja sudah membuatnya senang bukan main—nyaman. Maka dia tidak ingin membuat hubungannya menjadi asing kembali dengan gadis itu.
Mingyu membenahi posisinya menghadap lurus pada Da In, matanya dengan intens menatap hazel Da In yang berkali-kali membuatnya tenggelam. "Aku memang masih berhubungan dengan Ara. Tapi, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku hanya menganggapnya friends with benefit yang saling memberi keuntungan, kau tahu—dalam hal bercinta.
Ara memang pernah menyukaiku, dulu sebelum dia bersama dengan Taehyung. Lalu entah bagaimana dia malah jadi kekasih Taehyung. Taehyung menyukainya setengah mati. Dan dia tergila-gila pada Taehyung sekarang. Sementara aku hanya orang ketiga yang menjadi batu loncatan saat dia dan Taehyung sedang bertikai. Sekarang sudah jelas?"
Da In melongo pada setiap kata yang terlontar. Dia tidak percaya hubungan rumit yang terjadi antara tiga orang itu. Dia terdiam cukup lama menelaah jawaban Mingyu.
Beberapa menit kemudian dia bersuara. "Aku mengerti." Finalnya. Setelahnya, dia beranjak dari sofa dan menuju dapur mengambil minuman. Berpikir terlalu banyak membuatnya haus seketika.
Da In bersandar pada counter dapur, masih dengan pikirannya yang hampir meledak. Seharusnya dia tidak perlu repot-repot untuk memikirkan hal itu. Tapi, kali ini nama Taehyung mendominasi pikirannya. Dia sempat bertanya dalam hati bagaimana sudut pandang Taehyung tentang hubungannya. Apa dia tahu kekasihnya masih bercinta dengan Mingyu namun membiarkannya karena menyukai Ara setengah mati? Atau dia tidak tahu dan tidak peduli karena yang terpenting dia menyukai Ara setengah mati? Apa dia sebegitu menyukai Ara setengah mati? Da In tidak tahu, dibalik sikap dingin Taehyung ternyata menyimpan begitu besar perasaan terhadap kekasihnya. Dan diam-diam, Da In sakit hati dengan kenyataan itu. Dia tahu, yang membuat pikirannya kalut bukanlah Taehyung dan hubungan rumitnya, tapi Taehyung itu sendiri. Dan perasaannya.
Ponsel Da In berdering membuyarkan lamunannya. Dia segera merogoh saku blazer dan mengeluarkan ponsel dari sana. Sebuah notifikasi muncul membuatnya terdiam kembali.
"Gyu, kau mau tahu rahasiaku tidak?" Tanya Da In membuat Mingyu memberi atensi penuh padanya. "Kau tahu tempat tinggalku sekarang? Itu rumah sahabat orang tuaku, dia Tuan Kim."
Mingyu sempat terdiam, berpikir sejenak. Mencoba mengingat dari sekian banyak marga Kim di Valley Hills, dan satu nama Kim muncul dibenaknya. Dia menatap Da In dengan mata membelalak. Tidak mungkin Kim yang dimaksud adalah pemilik Kim Corp. yang memegang andil besar sistem perekonomian di Valley Hills. Keluarga Kim Taehyung.
Da In mengangguk melihat ekspresi Mingyu. Seakan mereka berbagi pikiran satu sama lain tanpa saling berbicara.
"Kau bercanda." Elaknya masih tidak percaya.
"Antar aku pulang, tidak ke halte. Ke rumah."
—
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Scar
Fiksi PenggemarMature Contents🔞 If loving you is a mistake, then I don't want to be right. ✨Written in Bahasa Indonesia ✨Casadelcisne, 2020
