5. Bagian Dari Perpisahan

1.7K 294 14
                                        

Prass menatap Rahma memelas. Wanita itu hanya melengos dan beranjak dari ranjang dan memungut pakaiannya yang sudah berserakan.

"Kamu janji kalau akan secepatnya putusin Nessie, tapi lihat..."

"Rahma, aku sedang memikirkan alasan yang tepat... Kamu harus ngerti, kami nggak cuma pacaran, kami juga bersahabat, sejak jauh sebelum kamu muncul." Prass ikut beranjak dari ranjang dan mengambil boxer'nya kemudian mengenakannya cepat, disusul dengan celana jeans yang posisinya tidak jauh dari boxernya.

"Jadi, sekarangpun kamu lebih milih dia?" tanya Rahma sengit. Dia tidak suka posisinya dinomor duakan. Sudah cukup kedekatannya dengan Prass dulu yang berakhir karena lelaki itu lebih memilih Nessie yang saat itu masih menjadi sahabatnya.

Rahma tidak suka melihat seberapa dekat Nessie dengan Prass, walaupun Nessie juga dekat dengan Brad.

Berkali-kali Prass menegaskan kalau ia dan Nessie hanya bersahabat. Tapi Rahma tidak suka. Dia meminta Prass memilih.

"Sama seperti terakhir kali, kamu pilih dia atau aku?" tantang Rahma pada Prass. Matanya menatap nyalang mata Prass yang tampak putus asa.

"Kamu! Aku pilih kamu, tapi sabar, okay?"

***

Nessie berputar mencari area parkir yang kosong. Begini kalau janjian nonton dihari minggu. Pasti akan sangat sulit sekali mencari tempat parkir.

Setelah hampir 3 menit mencari, Nessie akhirnya menemukan satu, diujung sekali.

Dia menghela nafas, pasti akan sangat melelahkan hanya untuk menuju lift dan naik keatas.

Setelah mematikan mesin mobil, ia meneguk air mineral yang Nessie beli di mini market sebelum menuju mall ini. Cuaca cukup panas, dan Nessie tidak tahan untuk menunggu sampai ke tempat janjiannya dengan Brad.

Brad mengatakan kalau dia sudah sampai terlebih dahulu karena Brad menggunakan ojek online dan nanti mereka bisa pulang bersama.

Saat hendak turun, tubuhnya terpaku.

Prass... Bersama dengan Rahma, bergandengan dan masuk kedalam sebuah mobil yang tidak Nessie kenali. Mungkin mobil milik Rahma.

Biasanya Prass lebih suka baik motor ketimbang naik mobil. Laki-laki itu tidak suka bermacet-macetan di jalanan dan hanya akan menyulut emosinya.

Setelah mobil merah itu berlalu, Nessie memilih keluar dari mobil dan segera menyusul Brad yang sudah berkali-kali mengirimkan pesan, menanyakan sudah sampai dimana.

Nessie tidak heran saat lift penuh, dan hampir saja dia harus menunggu lift berikutnya karena terlalu penuh.

"Lama deh," gerutu Brad saat melihat Nessie keluar dari lift dan menghampirinya.

"Sorry..." Nessie melempar senyum tak bersalahnya dan menggandeng lengan Brad secara spontan, "Makan dulu yuk, gue belum makan siang nih."

"Kalau udah kerja tuh sampe lupa waktu, heran!" Brad hanya menurut saja saat diajak ke salah satu restoran makanan korea yang cukup ramai saat ini.

"Yakin mau makan disini? Nanti telat nontonnya?" tanya Brad mengingatkan.

"Nanti deh, makan habis nonton, sekarang beli burger aja."

***

"Gue kira bakal bagus banget filmnya, ternyata biasa aja." Nessie mencomot daging ikan dipiringnya. Setelah keluar dari bioskop dan mendapati kalau beberapa tempat makan masih saja ramai, mereka akhirnya memutuskan untuk makan diluar. Lebih tepatnya makan makanan pinggir jalan.

"Ya berarti strategi pemasarannya bagus," ujar Brad seraya menyesap es teh tawar miliknya.

Nessie mengangguk dan menyetujui ucapan Brad. Ia menoleh kesekitar, ada sebuah mobil berwarna merah yang baru saja terparkir disebelah mobilnya.

Tiba-tiba Nessie mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

"Tadi, lo liat Prass sama Rahma?" tanya Nessie pada Prass.

Laki-laki itu menoleh dengan kening berkerut dan menggeleng pelan, "Lo liat mereka?"

Nessie mengangguk pelan, tidak mengatakan apapun lagi. Dia sama sekali tidak sakit hati, tapi seharusnya Prass menjaga nama baiknya sendiri. Laki-laki itu masih "berstatus" sebagai kekasihnya, dan banyak orang tau karena baik Nessie maupun Prass sendiri kerap memposting kedekatan mereka diakun sosial media pribadi masing-masing.

"Jadi mau ngobrolin semuanya malam ini?" tanya Brad yang langsung diangguki tegas oleh Nessie.

"Kalau Prass akhirnya mutusin buat pergi, please... Lo jangan ikut pergi juga."

***

Mobil Kiki sudah sampai dirumah, motor Prass juga sudah terparkir rapi. Brad memperhatikan Nessie yang tampak digelayuti langit mendung. Bukan suatu hal yang mudah untuk melepaskan seorang kekasih sekaligus sahabat seperti Prass. Brad tau itu.

Ada resiko terbesar yang akan mungkin terjadi, perpecahan persahabatan mereka. Tapi Brad juga tidak mau mencegah, ia justru mendukung keputusan Nessie.

"Itu Nessie kenapa?" tanya Kiki yang sedang menggunakan masker bening diwajahnya, menatap aneh kearah Nessie yang berjalan menaiki tangga tanpa menyapanya terlebih dahulu.

"Liat aja nanti."

Disisi lain, Nessie sedang memandang pintu kamar Prass, sekalipun mengatakan pada Brad kalau dia sudah mantap dengan keputusannya, tetap saja dia dilanda ragu didetik-detik terakhir. Tapi ya sudahlah... Cepat atau lambat hal ini sudah pasti akan terjadi.

Tok...tok...

Nessie menunggu beberapa detik sampai Prass merespon dan berteriak pelan, "Masuk!"

Kamar ini tidak begitu besar, begitu pintu terbuka, Nessie dapat melihat secara keseluruhan kamar ini, dan ia terkejut saat melihat Prass sudah menaruh kopernya yang terbuka diatas ranjang.

"Prass..." laki-laki itu menoleh dan terkejut mendapati Nessie yang sudah berjalan masuk dan melihat isi keseluruhan kamar.

"Aku..."

"I know..."

-----

Sedih sih....
Tapi mau gimana lagi.

Semua orang harus kembali ke tempat mereka masing-masing.

Semoga kalian suka part ini.

Love, Bella PU

It's YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang