13. Lebih Dari Yang Kita Tau

1.7K 287 4
                                        

Prass menunduk tidak mampu mengatakan apapun. Kekacauan terjadi karena dirinya, walaupun Prass sama sekali tidak ingat apa yang terjadi dan kenapa wajahnya sampai babak belur seperti ini.

Tapi, mendengar penjelasan panjang dan tamparan keras dari Kiki membuatnya luar biasa merasa bersalah. 

Selama berstatus pacaran dengan Nessie, Prass sama sekali tidak pernah berhubungan badan dengan Nessie. Dan semalam, Prass hampir memperkosanya, hanya karena kemarahan dan alkohol sialan yang mengambil alih kesadarannya sampai dia seperti ini. 

"Gue pengen ngomong bentar sama Nessie."

"Dia nggak mau ketemu lo, dia takut sama lo, Pras..." Brad menahan diri untuk tidak menghajar wajah Prass sekali lagi. 

"Please... gue bisa ngomong tanpa harus ketemu dia, gue nggak akan maksa dia buat liat gue. Kali ini aja..." pinta Prass memelas. 

Kiki melirik kearah Brad yang kini berdiri kaku memandangi Prass, seolah akan memakan pria itu bulat-bulat. 

"Setelah ini, Lo jangan ganggu Nessie lagi." Brad membiarkan Prass berbicara dengan Nessie. Hanya kali ini. Diatas nanti, terserah Nessie akan mau menanggapi Prass atau tidak. 

"Kenapa lo malah ngebolehin sih!" bentak Kiki pelan. 

"Terserah Nessie mau ngomong sama dia atau enggak."

***

Nessie baru saja menyelesaikan rutinitas mandinya saat pintu diketuk. Spontan ia mencengkram erat handuknya, menatap pintu dengan waspada.

"Ness... Ini aku." Tubuh Nessie menegang, ia berlari cepat kearah pintu dan menguncinya. Bayangan semalam membuat tubuhnya kembali bergetar hebat.

Nessie bukan orang suci, dia pernah berhubungan badan (walau hanya sekali), dia beberapa kali merokok untuk melepas penat, begitu juga dengan minum-minuman keras.

Hanya saja... Semalam adalah hal mengerikan. Dan Prass adalah pelakunya.

Sejak semalam ia selalu berpikir positif, Prass hanya tidak sadar dan menganggap dirinya Rahma, dan itu berhasil, tidurnya nyenyak, mungkin juga karena ada Brad di sampingnya.

Tapi mendengar suara Prass secara langsung seperti ini, rasanya tidak bisa. Ia tetap dilanda ketakutan.

"Kalau kamu nggak mau ketemu aku, nggak papa... Aku cuma mau minta maaf atas kejadian semalam, aku... Aku minta maaf atas semua yang terjadi."

Terjadi keheningan panjang, Nessie tidak tau Prass sudah pergi atau belum. Dia tetap bertahan dibalik pintu, bersandar dengan kedua tangan yang memegang handuk erat.

"Banyak hal yang udah kita lewatin, entah sebagai kekasih atau sahabat... Walaupun aku nggak bisa dianggap sebagai pacar yang baik, tapi kamu tetap mau bertahan sama aku... Sampai akhirnya aku bertemu lagi dengan Rahma, perempuan yang aku kira adalah jodoh aku, kekasih masa depanku." Nessie belum menanggapi apapun, dia masih diam mendengarkan Prass yang berbicara diluar sana.

"Rasa penyesalan itu muncul berkali-kali lipat, Nes... Melepas kamu yang udah baik banget, kehilangan sahabat yang nggak akan ada gantinya, cuma karena perempuan yang nggak benar-benar serius sama aku."

Nessie menelaah semua ini masih dalam diam.

"Mungkin terdengar aku hanya sedang beralasan, tapi itu kenyataannya. Dan aku minta maaf untuk semua yang terjadi..."

Nessie menghela nafas pelan, tubuhnya sudah sedikit lebih rileks.

"Aku pamit, Nes... Jaga diri kamu baik-baik, jangan terlalu cuek sama lingkungan sekitar karena nggak semua orang yang kelihatan baik itu orang baik, dan kalau bisa sama Brad aja, dia cinta kamu lebih dari yang kita semua tau."

***

Saat makan siang, Nessie berkali-kali melirik Brad yang sedang main game dengan Alvin. Calonnya Kiki boleh juga, pikirnya saat Alvin dengan santai bisa bergaul dengan mereka, apalagi dengan Brad, obrolan mereka sangat nyambung, seolah mereka adalah teman lama.

"Gimana menurut lo?" tanya Kiki.

"Siapa? Alvin? Nice kok, orangnya nggak kaku dan sombong gitu, boleh lah... Type lo banget."

Kiki mengangguk mengiyakan, lalu mengikuti arah pandang Nessie yang sedang melihat kedua pria yang sedang berdebat karena permainan mereka.

"Ki?" panggil Nessie pada sahabat perempuannya itu.

Kiki hanya berdehem pelan dan bangkit dari kursinya, perempuan iti mengambil susu coklat yang menuangkannya dalam gelas.

"Brad ada curhat ke lo lagi?" tanya Nessie penasaran.

Nessie sedikit penasaran, beberapa minggu terakhir ia habiskan untuk pekerjaan, begitu juga dengan Kiki yang pusing memikirkan perjodohannya, ia tidak sempat menanyakan hal ini lagi kepada Kiki.

Lagi pula, informasi yang selama ini ia dapatkan dari Kiki benar-benar hanya sekilas-sekilas saja. Walaupun ia dapat menyimpulkannya sendiri, rasanya masih kurang kalau tidak mendengarkannya secara langsung.

"Tentang?" tanya Kiki dengan kening berkerut.

"Nggak jadi deh..." Nessie bangkit membawa piring bekas makannya untuk langsung dicuci diwastafel.

Dari ekor matanya, Nessie dapat melihat Kiki mendekat kearahnya.

"Brad beberapa kali curhat sih, tentang lo, tapi gue nggak berani ngomong karena dia juga belum ada tindakan apapun." Nessie tertegun.
Ternyata apa yang dikatakan Prass sedikit ada benarnya.

Tapi kenapa Brad....

Kok jadi kesannya Nessie malah berharap!

Nessie menggeleng pelan. Dia tidak mau lebih larut memikirkan hal ini. Masih banyak yang harus dia pikirkan selain kisah asmara yang nggak jelas akan dibawa kemana.

"Kenapa lo geleng-geleng?" tanya Kiki yang melihat Nessie menggelengkan kepalanya.

"Nggak papa, pusing aja pala gue."

-----

Sorry kalau ada typo yang mungkin mengganggu kalian.
Aku ngetik cerita ini di Hp, jadi ya harap maklum.

Semoga kalian suka part ini.

Love, Bella PU

It's YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang