Enjoy reading!
-------------------
Beberapa minggu setelah pemilihan, semua berjalan cukup normal dan lancar. Ketua dan wakil ketua OSIS terpilih untuk periode baru ini untungnya merupakan orang yang waras, pasangan Dio-Nisa.
Skandal terkait masa lalu Yudha dan masalah pelemparan kursi oleh Beni juga sudah berlalu. Gosipnya lama kelamaan tenggelam di antara obrolan sehari-hari para murid. Hanya saja Beni sempat dipanggil ke ruang BK oleh Bu Linda.
Rebels juga ngga ada aktivitas seru setelahnya. Mereka hanya akan berkumpul sesekali di rumah Wanda, bergosip dan berandai jika kehidupan ngga seperti sekarang. Misalnya seperti Dion yang berandai jadi kucing setelah melihat peliharaan tetangganya itu hidupnya enak.
Obrolan absurd memang sering muncul saat mereka sedang berkumpul. Apalagi kalo lagi ngga ada bahasan misi atau hal-hal panas terkait masalah di sekolah. Kalo kata Janu, pikiran-pikiran random itu emang suka keluar kalo lagi gabut.
Sebenarnya itu yang Hardan inginkan saat ini. Di malam minggu yang sunyi. Semua tugas sudah ia selesaikan, dan cowok itu tidak tau mau melakukan apalagi selain berandai kalau dia sedang berada di tengah teman-temannya.
Saat ini dia sedang rebahan di kasur. Sendirian di rumah karena ayahnya sedang dinas ke luar kota dan adiknya sedang menginap di rumah ibunya. Iya, Hardan korban brokenhome. Harusnya sih dia juga ikut menginap di Bogor bersama sang adik. Tapi entah, rasanya dia enggan pergi untuk minggu ini.
Cowok dengan tubuh tinggi itu dikenal cuek. Apalagi kalau baru liat pertama kali. Aura dingin rasanya langsung keluar begitu berhadapan sama Hardana Melviano. Namun sebenarnya, di lubuk hati yang paling dalam, dia kesepian. Yah, hampir semua rebels juga gitu. Wanda, Janu dan Jani juga kesepian, kan?
Bedanya, Hardan ini yang paling keliatan denial. Dia enggan mengakui kalau dia itu ingin diperhatikan oleh kedua orangtuanya. Sejak perpisahan mereka tiga tahun silam, yang selalu jadi perhatian ayah dan ibunya hanya sang adik. Hardan seakan tidak terlihat di sini.
Katanya sih, karena Hanin, adiknya, masih kecil. Saat itu usia Hanin masih lima tahun dan Hardan sudah dua belas tahun. Mungkin mereka pikir Hardan sudah cukup dewasa untuk mengurus diri dan lukanya sendiri. Kan yang terluka dari sebuah perpisahan ngga cuma sepasang suami istri, tapi juga anak mereka.
Nyatanya, Hardan belum bisa. Tapi ia dipaksa bisa hingga akhirnya menjadi Hardan yang sekarang. Hardan yang cuek, sedikit pendiam dan enggan bersosialisasi lebih dengan orang lain. Teman di kelasnya hanya Jeri, yang untungnya masih bertahan sejak SMP. Di luar itu hanya ada rebels yang dekat dengannya.
Jadi anak korban brokenhome emang ngga enak. Apalagi jadi anak sulungnya. Seakan Hardan nanggung semua beban sendiri. Secara finansial mungkin dia lumayan tercukupi. Motor difasilitasi, sekolah pun di tempat terbaik di Jakarta. Paksaan di bidang akademis juga ngga ada. Buktinya, Hardan masuk IPS murni karena kemauan dia.
Namun secara psikologis, Hardan merasa kurang. Dia tidak dekat dengan kedua ibu dan ayahnya. Bahkan sebelum perceraian pun, Hardan memang lebih suka di kamar sendiri karena kedua orangtuanya sering bertengkar. Setelah mereka pisah malah semakin parah.
Hak asuh kemudian jatuh ke tangan ayahnya, yang sebenernya cukup disyukuri sih sama Hardan. Dia jadi ngga perlu pindah ke Bogor ikut ibunya. Tapi masalahnya, di Jakarta pun ayahnya juga tetap sibuk. Sekalinya ngasih perhatian, semuanya hanya tercurah ke Hanin. Lagi-lagi Hardan terasa tidak terlihat.
Hardan jadi terbiasa memendam emosi sendiri. Dia bahkan sering diledek oleh Jeri sebagai manusia tanpa ekspresi. Semua perasaan yang ada di dada, hanya akan muncul di wajah dengan dua pilihan; datar atau senyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Rebels ✓
Teen Fiction"It's not rebels that make trouble, but trouble that makes rebels." Kpop lokal ft. Jisung, Yujin, Haruto, Dohyon, Wonyoung contains harsh words
