Enjoy Reading!
———————-
"Dih, orang normal mah sereal dulu baru susu, kali."
Hampir lima menit sudah berlalu dan perdebatan tidak penting antara si Agit dan si Aud masih seputar Tim Sereal Dulu atau Tim Susu Dulu. Duo Jan yang duduk saling berhadapan di dua sofa single itu mengapit para utas yang duduk di sofa panjang, membuat ketiga adik kelas mereka terpaksa mendengarkan hal yang sia-sia.
"Apaan, anjir. Di mana-mana susu dulu baru sereal, Jani."
"Lo berarti ngga pernah denger suara dentingan sereal pas jatoh terus nyentuh dasar mangkok kan?" tanya Jani yang langsung dilanjut dengan gelengan oleh kepalanya sendiri. "Januar orang yang yang menyia-nyiakan salah satu hal satisfying di dunia ini."
Janu berdecak. "Cuma orang aneh yang nuang sereal dulu baru susu. Contohnya Anjani."
"Lah kalo susu dulu baru sereal, nanti serealnya ngambang, anjir."
"Lo pikir kalo sereal duluan, serealnya kaga ngambang juga? Jadi tenggelem, gitu? Kaga, lah, tolol," balas Janu kesal.
Sore ini, sementara dua kakak kelasnya berdebat, Dion dan Wanda malah disibukkan dengan tugas Fisika mereka. Guru baru yang menggantikan guru bermasalah kemarin itu ternyata orang yang cukup tegas, cenderung merepotkan. Membuat dua anak IPA beda kelas itu mau ga mau saling membantu dalam mengerjakan tugas. Berbeda dengan Hardan yang justru asik dengan pikirannya sendiri. Cowok itu tidak tampak terganggu dengan keributan duo Jan atau keluhan dua anak IPA yang terjadi di sekitarnya.
"Dan, lo nuang sereal dulu apa susu dulu?" tanya Jani sambil mengarahkan kepalanya ke cowok yang bersandar di sofa. Di sebelah kanannya ada Wanda yang sedang berdiskusi dengan Dion.
Hardan masih termenung sambil mendongakkan kepala memandangi langit-langit ruang tengah rumah Wanda. Kedua matanya dipejamkan namun alisnya berkerut. Ia tidak sadar kalau sedang ditatap oleh dua kakak kelas yang menantikan jawaban darinya.
"Dan, oy!" panggil Janu sambil menyenggol lututnya ke lutut Hardan.
Merasa terganggu, Hardan segera menoleh. "Apaan?"
"Ah, mikirin apaan, sih, lo? Cewek lo duduk di sebelah gitu," sahut Jani kesal.
Wanda yang merasa ((terpanggil)) itu spontan melepas pandangan dari buku di atas meja. "Siapa, Kak Jani?"
"Ini cowok lo mikirin utang negara apa gimana, sih? Dari awal dateng sampe sekarang diem mulu kayak Patung Pancoran," adu Jani sambil nyerocos asal. Tapi dia udah merhatiin Hardan sejak tiga puluh menit yang lalu, dan cowok itu masih diam sibuk berpikir sendiri sampai lututnya disenggol oleh Janu.
"Ngaco, anjing. Gue lagi mikirin kok bisa Pak Temi tau kalo yang dibawa Angga itu barangnya. Dari sekian banyak murid, kenapa pas banget Angga, gitu," jelas Hardan dengan maksud mengalihkan pembicaraan yang ketara.
"Ih, Hardan. Kalo mau ngomongin kasus, tunggu Wanda sama Dion selesai, dong. Satu nomer lagi, nih," ujar Wanda dengan tidak sadar merajuk pada Hardan. Sementara di sebelahnya, Dion masih fokus menghitung di atas kertas.
Janu dan Jani lalu saling berpandangan mengirim kode setelah mendengar rajukan Wanda. Sesaat kemudian, Jani menampilkan cengiran khasnya dan Janu berdehem kecil. "Oke, satu nomer lagi, ya," ucap si Agit.
Lima menit kemudian, buku-buku milik Dion dan Wanda sudah dimasukkan ke dalam tas masing-masing. Kini keempat dari mereka sudah siap mendengarkan tumpahan isi pikiran dari seorang Hardana Melviano.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Rebels ✓
Teen Fiction"It's not rebels that make trouble, but trouble that makes rebels." Kpop lokal ft. Jisung, Yujin, Haruto, Dohyon, Wonyoung contains harsh words
