24. Pengirim

809 202 15
                                        

Jangan lupa vote dan comment. Btw, di bawah ada author's note.

Enjoy reading!

————————-

"Menurut lo pada siapa?"

Kembali lagi bersama Jani and the gank di markas utama alias rumah Wanda. Kali ini formasi ngga lengkap karena Janu lagi ikut kelas tambahan untuk kelas 12. Akhirnya cowok itu tobat setelah beberapa kali titip absen ke Kamal.

"Katanya kan anak angkatan lo," jawab Dion dengan mata yang fokus ke layar TV. Dia dan Hardan lagi-lagi sedang bermain PS. Fun fact, konsol game itu sebenarnya milik Dion yang jarang digunakan. Daripada berdebu karena di rumah ngga ada teman main, akhirnya ia simpan di rumah Wanda.

Jani berdecak kecil. "Ya, tau. Kan sepaket itu gosip sama fotonya. Maksud gue kali lo pada udah ada nama siapa orangnya."

Wanda menggeleng setelah menggigit potongan pisang goreng yang ada di atas piring. "Fotonya ngga begitu jelas, Kak Jani. Wanda ngga kenal."

"Kan anak angkatan lo. Mana kita kenal, Jan," sahut Hardan dari karpet. Jani akhirnya hanya menghembuskan nafas putus asa.

Seharian ini, selain fokus belajar di kelas, dia juga berpikir keras tentang foto yang jadi bahan perbincangan. Beberapa anak Madivas setuju kalau itu Tia, salah satu teman mereka. Beberapa lagi masih bingung karena hasil foto yang tidak terlalu jelas, salah satunya adalah Jani.

"Anak Madivas angkatan gue juga ngga tau, dah. Kaga jelas gitu fotonya. Sumber juga kaga jelas. Semuanya kaga jelas, anying," keluh Jani. Puyeng juga dia lama-lama mikirin ginian.

Terdengar dengusan dari arah Hardan. "Lagian, pake dipikirin."

"Emang lo kaga penasaran, hah? Mana posisinya kontroversial banget," balas Jani sewot.

"Eh, iya," sahut Dion. "Itu posenya dia lagi dipangku gitu?"

Jani mengangguk. "Gila, kan?"

"Emang tempatnya di mana sih? Rada gelap gitu," tanya Wanda.

"Wanda ngga usah tau, masih kecil." Hardan menyahut dari bawah.

Wanda mendelik kesal. "Jawabannya itu mulu. Wanda sama Hardan juga sama umurnya."

Jani terkekeh kecil. "Club malem, Wan. Tapi gue ngga tau persisnya dimana."

"Yang nyebarin di angkatan lo siapa, Jan?" tanya Dion tiba-tiba. Dia jadi teringat ucapan Juan tadi pagi.

"Nah! Si Salwa, tapi katanya itu orderan dari nomer anon. Di angkatan lo siapa?"

Jawaban atas pertanyaan Jani harus tertunda karena Janu datang masuk membuka pintu rumah Wanda. Rambutnya sedikit basah karena terkena gerimis di luar.

"Kelas 12 rasanya anjing banget. Asli."

"Idih, dateng-dateng sambat. Salam dulu, orang mah," sahut Jani sambil mengambil gorengan di piring. Padahal dulu juga dia pernah kayak gitu, sambil teriak malah.

"Liat aja taun depan juga lo sambat kayak gue, Jan," ucap Janu sambil duduk perlahan di sofa yang tersisa. Hardan dan Dion kini juga sudah berhenti bermain PS.

"Hadeh, bodo amat. Masih lama," balas Jani cuek dengan mata yang diputar ke atas. "Lanjut, Yon. Tadi sampe mana?"

"Di angkatan gue, nih temennya si Hardan yang nyebarin." Dion berucap sambil menunjuk Hardan yang duduk di sebelahnya dengan jari yang menggenggam sebuah wafer di tangan.

Hardan yang awalnya bingung lantas mengangguk setelah paham apa yang dimaksud. "Si Jeri. Tapi katanya dia disuruh orang juga."

"Hah?" tanya Wanda bingung.

The Rebels ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang