Sebenarnya bukanlah perkara sulit bagi Nana, bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan gaji yang sepuluh kali lebih besar dari gaji kafe adalah pilihan yang sesuai dengan keadaannya yang sedang mengalami krisis ekonomi saat ini.
Dimana separuh gajinya nanti bisa ia gunakan untuk membayar hutang, dan sisanya sudah lebih dari cukup untuk bisa ia kirimkan pada ibu dan bisa ditabung juga.
Baru saja Nana menutup panggilan telefonnya dengan Justin, lelaki itu dengan suka rela mau mengantar Nana kembali ke Busan, karena kebetulan Justin juga bilang kalau ia ada urusan di sana jadi sekalian saja. Ia juga sempat bertemu dengan ibu, bibi dan Irene untuk sekedar berkenalan. Dan entah mengapa Nana bisa merasakan kalau ibunya itu sangat menyukai Justin dalam sekali pandang saja, terlihat jelas dari tatapan ibunya yang menunjukkan banyak arti.
Pesan dari lelaki bergigi kelinci itu juga terus membuatnya tak nyaman. Mengingat kembali tawaran dari Justin untuk bekerja dengannya, sebenarnya asisten rumah tangga atau biasa disebut dengan pembantu bukanlah hal yang nista, kalau dipikir-pikir lagi menjadi asisten rumah tangga Justin itu artinya ia harus tinggal satu atap dengannya. Sebenarnya bukan apa-apa, hanya saja Nana takut jika akan ada sesuatu yang rumit menimpa mereka. Entahlah, dapat dari mana pikiran itu.
"Masih belum memutuskan juga? " Sekarang sudah pukul sepuluh malam, dan Irene sedang memakai beberapa rangkaian skin care nya sebelum tidur. "Sebenarnya apa sih membuatmu sulit untuk memberikan jawaban ya atau tidak pada Justin?. "
Nana mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, ada sesuatu yang kutakuti, tapi aku tidak tahu apa itu. "
Irene menghela nafas kasarnya sebelum beralih duduk diranjang bersama Nana. "Eonnie, bukankah pak Justin itu menyukaimu? "
Seketika Nana melirik nya dengan tajam, mendengar kata menyukai kembali mengingatkan Nana pada perkataan Jeremy yang berhasil membuat jantungnya berdegup tak normal, entah mengapa Jeremy juga seolah-olah memberitahunya tentang perasaan Justin yang bisa dikatakan bukan hanya sekedar tertarik saja padanya. Apa 'tertarik' itu bisa disamakan dengan 'suka'
"Mana mungkin dia suka padaku, kita beda kasta. " Spontan Nana, kenyataan benar-benar menampar nya.
Irene berdecak kesal. Kenyataan jika Nana adalah seorang jomblowati sejati membuatnya sebal karena ia tak bisa melihat sorot mata Justin yang selalu memandangnya begitu dalam dan lekat. Belum lagi saat Justin bicara pada nyonya Yoon kemarin, tatapan itu begitu hangat dan penuh arti. Itu semua sudah cukup untuk bisa menilai apakah Justin benar-benar menyukai Nana atau tidak. "Ck! Astaga, Na. Kau tidak lihat betapa baiknya dia padamu? "
Meski menjengkelkan tapi curhat pada Irene adalah solusi yang terbaik, Irene adalah tipe orang yang blak-blakan, dia suka memberi saran dan pendapat yang kadang menyakitkan hati namun semua itu adalah fakta yang bisa diterima oleh akal.
Semua hal yang Nana alami beberapa waktu lalu tak ada yang tak Nana ceritakan pada Irene. Termasuk semua detail tentang Justin yang tak luput dari ceritanya. "Aku takut jika ketertarikan itu hanya sesaat dan itu tertuju pada yang lain, maksudku---kau tahu--"
"Maksudmu, tubuhmu?---kalau Justin cuman ingin mencicipi mu saja, kenapa ia tak melakukannya sejak awal? Kau tahu kan dia itu anak konglomerat, mudah baginya untuk bisa menikmati mu kemudian melenyapkan mu dari dunia yang fana ini, mengapa tak dari awal saja ia lakukan tak peduli jika kau hidup atau mati. Toh kau juga bukan siapa-siapa nya Justin. "
Irene menghela nafasnya lagi, kemudian ia berlanjut memakai body lotion sambil terus mengeluarkan opininya. "Kau bilang Justin juga membayar mahal klub itu untuk bisa membebaskanmu dari sana, itu artinya Justin tak ingin kau terikat oleh siapa pun. "
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hurt's
RomanceJudul sebelumnya, Bad Guy : Better life *** Bahagia? Kim Nana hampir lupa apa itu rasanya bahagia. Semua hal yang ia jalani saat ini hanya bergantung pada rasa syukur yang ia buat sekokoh mungkin. Ia kira semuanya akan berjalan dengan baik-baik sa...
