Part. 28 | The Truth Untold

198 22 1
                                        

...Jika tidak, aku sendiri yang akan memberitahukan padanya.

Begitu kata dokter Katrina.

Nana harap-harap cemas mendengarnya. Seperti sedang menunggu penjelasan besar yang siap menghancurkan hatinya kapan saja.

Setelah dokter Katrina keluar, Yoon dan Nana hanya saling beradu tatap. Menyalurkan kesakitan yang bisa Nana rasakan sampai ke ulu hati. Yoon menepuk tepi ranjangnya secara pelan, mengisyaratkan Nana untuk semakin mendekat. Di bukanya penutup material bening itu dari wajah. Perlahan tangan kiri yang terlihat semakin kurus itu menarik sesuatu dari bawah bantal tidur. Sebuah kertas. Dengan gemetar Yoon menyerahkan surat itu pada putrinya.

Apa pun itu, Nana yakin sesuatu yang tertulis di dalamnya akan menghancurkan sepenuh jiwanya. Senyuman sang ibu sekalipun tak bisa menutupi hal itu. Sampai satu kata terucap dari bibir pucat Yoon, wanita tua itu tetap mempertahankan senyumannya untuk Nana. "Bukalah."

Benar saja, hatinya bak di remas kuat setelah membaca hasil diagnosis rumah sakit. Nana tak bisa menyembunyikan pelupuk air di matanya yang semakin menggenang. Berat bibirnya mengatakan hal ini, tapi...

"Kanker hati stadium akhir ? Ibu bercanda ?"

Yoon hanya mampu menghela nafas lelahnya, senyumannya tetap mengembang seolah itu bukanlah apa-apa baginya. Nana pikir itu sebuah gurauan, tapi kondisi ibunya terlalu serius untuk di anggap sebagai candaan. Meski Yoon menetesakan air mata sekalipun, senyumannya tetap tak memudar. "Maaf ibu baru memberitahukan mu sekarang."

" —Sejak kapan ?"  Nana mencoba melawan senyuman ibunya dengan tidak terisak, namun dadanya seperti di hantam oleh ratusan ton batu bata. Sakit dan sesak.

"Sejak ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Di saat kita masih sama-sama bekerja keras menjual kue kering untuk bertahan hidup. Di saat kita masih menumpang hidup di rumah bibimu. Sejak saat itu."

Bahkan sweet seventeen putrinya yang seharusnya mendapatkan hal manis, justru Yoon memberikan hal tak terduga yang menyakitkan.

"Selama itu ? Dan ibu menyimpannya sendiri ? Bu..."

"Ini bukan salahmu sayang. Ini sudah takdir ibu." Yoon menyela lebih dulu. Alasan Yoon tidak memberitahukan pada putrinya karena Yoon tak ingin hal itu menjadi kado menyakitkan untuk Nana. Yoon tak ingin putrinya terus terluka.

"Kenapa ibu tidak memberitahukan padaku sejak saat itu ? Kenapa malah menyimpannya sendiri. Jika aku tahu kita bisa melakukan pengobatan."

"Dari pada uangnya habis hanya untuk pengobatan ibu saja, lebih baik ibu gunakan untuk menyekolahkan mu. Ibu tidak mau menghabiskan uang yang kita kumpulkan untuk kepentingan ibu sendiri."

Apa Yoon hanya tidak ingin menjadi orang tua yang egois ? Tapi bagaimanapun juga kesehatan Yoon adalah yang terpenting.

Nana baru ingin membuka mulutnya, Yoon lebih dulu menambahkan. "Meski begitu, ibu sudah memutuskan untuk menyimpannya sendiri, ibu sudah tahu resikonya akan seperti ini. Jadi berhenti berpikir kalau ibu tidak mau melakukan pengobatan. Ibu melakukan kemoterapi beberapa kali saat kau mulai bekerja di Town Cafe, setiap kambuh sakit ibu selalu minum obat secara teratur. Semuanya berkat Katrina. Dia sudah membantu banyak. Ibu sudah cukup merepotkan, ibu rasa, sudah saatnya ibu berhenti dan beristirahat dengan tenang—"

"Kenapa ibu bicara seperti itu?! Pasti ada cara lain agar ibu bisa sembuh, operasi mungkin. Ibu tidak perlu memikirkan biayanya, aku akan berusaha keras untuk itu..."

"Sayang dengarkan ibu, operasi pun percuma, kemungkinan berhasil sangat tipis. Ibu tidak mau. Bukankah hasilnya akan sama saja ? Ibu akan mati juga pada akhirnya."

Love Hurt'sCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang