Teriknya mentari tak sepenuhnya membuat Nana bangun.
Nyeri yang mengusik perutnya, membuatnya perlahan membuka mata. Dengan sisa tenaga, ia berusaha mengalihkan posisinya dari menghadap samping menjadi terlentang. Bisa Nana rasakan sekujur tubuhnya remuk. Tulang-tulangnya terasa ngilu. Empat hari penuh ia tidak bisa tidur lelap. Pun ia sering melewatkan jam makan.
Meskipun asisten rumah tangga Katrina selalu menyiapkan makanan-makanan yang tentunya menggugah selera. Entah mengapa perutnya selalu menolak semua makanan yang ia telan. Alhasil Nana harus memuntahkan seisi perutnya walaupun hanya terisi oleh air putih saja.
Yah, Nana tinggal dirumah Katrina semenjak Yoon dilarikan kerumah sakit beberapa waktu lalu. Tak terkecuali dengan Irene dan bibi Ryn.
Rupanya bukan sekedar tawaran saja. Katrina dan Yoon sudah terikat janji satu sama lain. Salah satu perjanjian yang Katrina minta adalah, membawa Nana dan keluarganya yang tersisa tinggal bersamanya. Memulai kehidupan yang baru bersamanya.
Bersyukur. Kata itulah yang selalu Nana sematkan didalam hatinya, mengenai garis kehidupan yang ia miliki. Katakanlah beruntung. Setelah mendengar cerita tentang kedekatan antara Katrina dan Yoon, Nana bisa berfikir lebih jernih dan positif, sekaligus bisa mengenyahkan segala hal tentang 'pergi dari dunia ini' setelah ibunya tiada.
Katrina berhasil membuat Nana mengerti jika kematian akan menimpa siapa saja, di waktu dan tempat yang tak terduga. Setelah banyaknya hal yang berhasil Nana lewati. Menghadapi maut yang hampir merenggut nyawanya, entah karena ulahnya sendiri atau karena hal lain. Nana mulai menyadari alasan mengapa Tuhan masih membiarkannya hidup.
Ia harus bahagia sebelum kematian merenggut semuanya. Waktu tidak bisa diulang, dan Nana tidak ingin melewatkan hal berharga sekecil apa pun itu. Terlebih lagi, hal yang membuatnya bahagia.
Bahagia itu, mengingatkannya pada Justin. Sampai pada mual yang tiba-tiba menyerang perutnya, spontan membuat Nana bangkit seraya membekap mulut. Entah beruntung atau buntung, Nana belum makan apa pun sejak semalam, sehingga tak ada lagi yang bisa ia muntahkan kecuali udara.
"Morning."
Suara familiar diujung sana membuat Nana harus menelan udara di kerongkongannya kembali turun.
Tajamnya sinar sang surya membuat Nana tak bisa melihat dengan baik. Beberapa kali kedua mata cantiknya mengerjap, mengenyahkan kabut serta rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
Hingga didapatinya sesosok wanita di ujung sana tengah memperhatikannya dengan tatapan pedih, "Sa —Sana ?"
Wanita itu bangkit dari kursi dan duduk perlahan di bibir ranjang. Samar-samar, Nana merasakan usapan lembut di sisi wajahnya. Menarik lembut anak rambut yang menutupi pipinya kebelakang telinga.
"Kamu berkeringat, kamu mimpi buruk ?" Terlebih lagi sejak tadi ia menyaksikan, dalam tidur Nana seperti sedang ketakutan, beberapa kali meringis seperti sedang menahan sakit. "Kamu pucat." Tuturnya lagi.
Wanita itu benar-benar Sana. Wajahnya pucat dan tatapannya sukar di baca. "Aku baik."
Guratan tipis langsung tercetak jelas di dahi wanita bergaun hitam itu, "Kamu yakin ?"
Nana menarik senyum tipis guna meyakinkan, "Yakin."
Nana sudah terduduk sebelum akhirnya menyadari, jika Sana sudah kembali dari trip liburannya. "Kamu sudah kembali ?"
Sana hanya menelengkan kepala saja sebagai jawaban. Sebenarnya ia sudah kembali sejak kemarin malam, namun ia terpaksa menginap di hotel karena harus menghindari beberapa media yang tak jemu-jemunya mengintai rumah. Pun ia juga menonaktifkan ponsel pribadi selama melakukan trip. Selain untuk menghindari panggilan menjadi saksi di pengadilan, ia juga ingin menyendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hurt's
RomantikJudul sebelumnya, Bad Guy : Better life *** Bahagia? Kim Nana hampir lupa apa itu rasanya bahagia. Semua hal yang ia jalani saat ini hanya bergantung pada rasa syukur yang ia buat sekokoh mungkin. Ia kira semuanya akan berjalan dengan baik-baik sa...
