Vote before reading!
"Lalu, apa yang kau katakan?"
Di halaman luas itu, terduduk dua insan dengan masing masing menggenggam kopi hangat di gelas kertas dan asap yang masih mengepul diatasnya. Salah satu dari mereka terlihat menunggu jawaban seseorang yang saat ini hanya terdiam kaku dengan pandangan lurus kearah air mancur tepat di hadapan mereka.
"Tentu saja aku bilang aku tidak kenal siapa mereka," Zoe menyesap sedikit kopi panas dibekunya malam. "Lalu orang itu bilang, mungkin aku lupa ingatan sampai tidak mengetahui siapa mereka."
"Zoe," Rye menaikkan alisnya khawatir "Apakah ada kemungkinan mereka adalah orang yang kau cari selama ini?"
"Entahlah Rye," Zoe tergugu, nampak ragu dengan pernyataan itu. "Aku harus mulai darimana ya? Sepertinya orang itu terlihat membenciku."
"Tidak mungkin. Dia baru saja pulih dari ingatannya. Jika benar kau adalah salah satu kerabat mereka, kemungkinan ada bagian memori yang hilang, membuatnya tidak mengingat apa yang telah terjadi dan tetap memilih untuk membencimu."
"Benarkah?"
Rye mengangguk yakin. "Eung, cobalah kau mulai cari tahu siapa mereka. Sering seringlah datang ke kamarnya, siapa tahu kau bisa dapat suatu informasi dari sana."
Zoe memberengut. "Ibunya bahkan seperti membenciku juga."
"Tidakkah kau mengerti Zoe?" Rye menggeleng gemas, mengubah posisi duduknya agar ia bisa melihat wajah perempuan itu secara leluasa. "Setelah kejadian itu, tentu ada hal-hal yang akan mereka diskusikan. Keenan kemarin hanya terkejut dengan kehadiranmu, dan itu wajar. Entah siapa yang akan berubah atau bagaimana keadaannya nanti, mereka tidak akan semudah itu mengatakan bahwa kau adalah bagian dari mereka. Mereka akan terus menutupi semuanya dan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu."
"Kau seyakin itu ya?"
Rye mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku hanya menerka semuanya dari segala sisi. Agar kau juga tidak perlu gegabah. Aku juga turut senang kalau masalahmu selesai."
"Rye, kau sangat baik." Zoe menepuk pundak lelaki itu beberapa kali, senyumnya merekah. "Aku harap kau akan segera mendapat pengganti Jack."
"Astaga, itu bukan urusanmu."
Perempuan itu tertawa lalu mengangkat gelas kopinya dan melakukan cheers dengan Rye. Keduanya sempat terdiam dalam hening diembusan angin malam. Zoe masih lengkap dengan jas putih kebanggaannya sedangkan Rye yang habis pulang kuliah langsung memutuskan untuk mengunjungi Zoe dengan membawakannya kopi dan roti hangat yang sudah habis sedari tadi.
Ponselnya berdering, Zoe langsung menaruh gelas kopinya diatas tanah dan meraih benda itu. Ternyata sebuah pesan dari seseorang yang sangat dikenalnya, lalu kemudian hanya Zoe lihat dan memutuskan untuk membacanya nanti
"Rye," suaranya yang tiba tiba serak terdengar. "Aku harus bertemu seseorang."
Pria itu mengerutkan dahinya bingung. "Siapa?"
"Aaron."
********
Suara derap langkah itu terdengar begitu nyaring hingga menarik perhatian orang disekelilingnya. Zoe dengan jantungnya yang berdebar mengangkat kedua tangan keatas kepala, membiarkan jari lentiknya mengikat rambut cokelatnya dengan lihai. Ia sempat terdiam ketika melewati cermin, memandang dirinya kemudian berusaha menarik senyum seramah mungkin sebelum mengetuk pintu terdekat disana.
Ketika dirinya mendengar seseorang menyahut dari dalam sana, Zoe segera menekan handle pintu dan masuk perlahan.
"Dokter Zoe," Hadid bergumam, sempat menatapnya dalam diam sebelum memaksakan sebuah senyum. "Kemarilah."
Zoe mengerjapkan mata cepat atas perilaku yang didapatnya, mengalihkan pandangan kearah Keenan yang nampak terdiam walaupun tidak ada senyum yang terukir diwajahnya. Betul apa yang telah Rye katakan, tidak mungkin mereka tidak membicarakannya lagi setelah tempo hari memakinya secara gamblang. Mungkin sesuatu telah berubah.
"Bagaimana keadaanmu?" Zoe bertanya.
"Baik," balas Keenan cuek, sempat Zoe lihat interaksi Hadid yang tiba tiba saja menyenggol pria itu. Sebelum akhirnya ia memutar kedua bola matanya, terlihat jengah. "Ya, aku baik Dokter Zoe. Semua baik. Aku tidak mengalami muntah sama sekali, hanya terkadang masih merasakan pusing secara tiba tiba."
Zoe tersenyum kiku. "Baguslah, sehabis dua hari ini kau bisa—"
"Ibu, bisakah kau pakaikan perbanku?"
Ucapannya terputus ketika ia mendengar suara pintu toilet yang terdorong. Seorang pria yang saat ini memakai kaus hitam berlengan pendek dan celana jeans keluar dari sana. Rambut hitamnya yang basah terlihat berantakan karena diusap dengan handuk. Disepanjang lengannya, Zoe bisa lihat bagaimana luka itu terlihat menganga walaupun nyaris tidak separah yang dilihat pertama kali ketika laki laki itu mendapatkan tusukan.
Aaron.
Pria yang dicarinya ada disana.
Keduanya sempat bertatapan. Hening menyelimuti ruangan itu dengan kaku. Zoe melihat bagaimana laki-laki itu sedikit meringis saat ia menjatuhkan handuk. Ia pun segera memungut handuk yang terjatuh di dekat kaki pria itu, lalu menggulungnya—menyembunyikan kegugupannya.
Entah mengapa, Zoe merasakan gelenyar aneh saat menatap kedua bola mata terang itu. Seolah ada dorongan yang membuatnya ingin terus menatap pria tersebut, meskipun Aaron tampak tak acuh dan memilih duduk di sofa sambil merapikan pakaian kotornya.
"Bagaimana Dokter Zoe?"
Zoe terkejut. "Ah iya," ia menyampirkan handuk itu diatas meja. "Pasien Keenan bisa pulang untuk tiga hari kedepan, saya akan terus mengecek keadaannya sampai benar benar stabil."
"Baiklah, kau bisa keluar sekarang."
Tidak disangka, Zoe yang mendengar usiran secara halus untuknya itu nampak dongkol. Dirinya berusaha untuk tetap tersenyum dengan mengingat kembali apa yang telah Rye katakan, semua akan tiba pada waktunya. Ia perlu bersabar untuk mengerti semua ini.
Zoe menghela nafas, mengangguk mengerti kemudian membalikkan tubuhnya. Dirinya sempat beradu tatap dengan Aaron yang saat ini memegangi lengannya. Walaupun jantungnya masih terus berdegub keras, namun kalimat yang tiba tiba saja meluncur ini tetap tidak bisa ia kendalikan.
"Bisa kita bicara Tuan Aaron?"
To be continued
Aaron in a pic ;))))
KAMU SEDANG MEMBACA
Us Again [M]
RomanceKisah seorang mahasiswi yang magang di sebuah rumah sakit ternama. Hidupnya penuh dengan teka teki yang terkadang membuatnya sulit menemukan tujuannya. Sampai suatu saat hidupnya berubah total ketika sebuah fakta membanting ingatannya kedalam memori...
![Us Again [M]](https://img.wattpad.com/cover/242758028-64-k670459.jpg)