2. REMAINS THE SAME

413 46 2
                                        

"Aku menyukaimu sejak awal kita bertemu," ujar Plan sambil menoleh ke arah Mean dan tersenyum. Mean tersentak kaget. Ia menatap Plan dengan perasaan tak percaya.

"Sebenarnya aku juga, Phi," ujar Mean. Giliran Plan yang terhenyak.

"Aku mencoba melupakanmu saat itu, karen mendekatimu sepertinya sangatlah mustahil," ujar Mean lalu ia meneguk birnya.

"Karena itu kau berkencan dengan Kew?" tanya Plan.

"Hanya mencoba untuk melupakanmu. Banyak hal. Tapi, takdir malah mempertemukan kita lagi," sahut Mean pelan.

"Aku sangat paham perasaan itu. Lima tahun kita saling mengenal dan perasaan sayangku kepadamu tak pernah berkurang. Dengan siapapun kau bersama, aku tetap menyayangimu. Aneh, bukan?" Plan tersenyum sambil melihat ke arah danau.

"Sama. Aku tak bermaksud membual. Jujur saja aku tak pernah bisa melupakanmu, Phi. Aku mencintaimu. Aku serius dan sungguh-sungguh ingin bersamamu. Jadi, bagaimana kalau kau menjadi bagian dari hidupku, apa Phi mau? Aku sadar, aku masih jauh dari bisa dibanggakan oleh orang tuamu. Kau berasal dari keluarga kaya dan mapan, sementara aku harus bekerja keras untuk mencapai apa yang kudapat hari ini. " Mean menjelaskan.

"Ini bukan tentang orang tua kita, Mean. Ini tentang kita. Aku tak pernah melihatmu dari sisi itu. Kita bisa berjuang bersama, bukan. Kita bertemu dalam dunia hiburan, artinya kita akan berkecimpung di sini. Sama-sama sudah paham dengan yang harus dilakukan. Kau dan aku tahu etika dan aturan mainnya," sahut Plan lagi.

"Phi belum jawab pertanyaanku," sahut Mean lagi.

"Yang mana?" Plan mengernyitkan alisnya.

"Mau jadi kekasihku atau tidak?" ujar Mean.

"Kau ini!" Sahut Plan sambil tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya dan memgecup bibir Mean lalu kembali pada posisinya sambil tersenyum malu.

"Phi, kalau kau seperti ini, aku tak akan bisa menahan diriku," ujar Mean lagi lalu meneguk ludah. Pla menatapnya dan tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya lagi dan kali ini kedua bibir mereka berpagutan lama dan hangat. Perlahan, ciumannnya berangsur panas dan mereka mulai mengeksplorasi bagian yang lain. Tak berselang lama bagi mereka untuk kemudian berada di atas sebuah ranjang, sama-sama telanjang.

"O, Phi, aku tak percaya ini!" desah Mean. Mean berada di atas Plan sambil membelai rambut Plan yang menjuntai menutupi bahunya.

"Phi Plan," desah Mean lagi dan mereka berciuman lagi cukup lama sampai akhirnya jeritan kecil kekuar dari mulut Plan saat Mean mendorong naganya masuk.

"Aaaah, nnnngh, aaa, oooo!" desah Plan. Mereka berciuman lagi dan bergoyang.

"Astagaaa! Aaa, Phi Plan!" racau Mean.

Keduanya sama-sama menikmati permainan, berpacu dalam kebahagiaan dan kehangatan dan setelah beberapa waktu, mereka akhirnya mencapai puncak kenikmatan.

Mereka berciuman lagi dan tak lama mereka bermain lagi sampai pada babak kelima akhirnya mereka berhenti. Mean dan Plan tidur berpelukan berbalut selimut sampai pada bagian dadanya.

Mereka menjalin hubungan. Hanya mereka berdua dan beberapa orang terdekat mereka yang tahu. Mereka memilih tidak mengumumkan hubungan mereka sebab mereka ingin ini menjadi bagian dari belakang layar pekerjaan mereka.

Setelah malam itu, Mean sering berkunjung ke rumah danau dan menghabiskan waktunya di sana. Kadang-kadang Plan juga menginap di kondo Mean. Tentunya ini dilakukan secara rahasia. Cukup lama mereka melakukan ini. Lima tahun mereka memendam cinta dalam diam. Lima tahun pula mereka merenda kasih di balik layar sampai akhirnya suatu hari Plan hamil.

Tak perlu mencari jauh siapa ayah sang bayi itu sebab sudah jelas, janin itu itu buah kasihnya dengan Mean Phiravich. Mereka akhirnya menikah secara diam-diam dan setelah itu mengumumkan hubungan mereka ke publik.

Fans bahagia. Begitu pula teman-teman dekat mereka. Mereka sudah tahu ada sesuatu di antara Mean dan Plan dan akhirnya pikiran mereka terjawab sudah.

Mean dan Plan menikah saat mereka berusia 26 tahun. Mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang diberi nama Dee Phiravich. Mean dan Plan masih bekerja di dunia hiburan, meski kesibukan Plan dikurangi sebab ia juga harus mengurus anaknya.

Keberuntungan mereka tidak hanya sampai di sana sebab anak mereka juga kebanjiran pekerjaan menjadi bintang iklan. Sungguh sebuah keluarga yang menggemaskan.

Meskipun demikian, Plan tak memberikan izin untuk mengambik semua pekerjaan untuk Dee. Ia lebih memilih satu atau dua saja dan sisanya, mereka lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.

Begitulah, sekali lagi Mean dan Plan hidup bahagia.

Tamat

Track 3 Short Stories Mean and Plan CollectionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang