2. ALREADY GONE

422 47 5
                                        

Sammy keluar dari kamar. Mean kemudian mendekati Plan dengan wajah yang masih sama.

"Kau tahu yang terjadi kepadamu?" tanya Mean. Dia menatap Plan dengan ekspresi yang sama.

"Aku berharap kau bisa memberiku informasi soal ini. Ada apa?" Plan menatap Mean. Ia tahu benar jika ekspresi wajah Mean seperti ini.

"Obat yang kumasukkan itu akan bereaksi cepat dan keras terhadap bagian dalam yang pernah keguguran atau aborsi atau melahirkan. Opsi kedua dan ketiga sangatlah mustahil mengingat aku mengenalmu, tapi opsi pertama, ini sangat memungkinkan," sahut Plan sambil menatap Plan dengan serius.

Yang dikatakan Mean memberikan reaksi yang luar biasa pada Plan dan itu tergambar dengan jelas di wajahnya.

"Kau pernah keguguran?" tanya Mean memastikan. Plan diam tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya.

"Plan! Aku sedang bicara denganmu," ujar Mean lagi. Plan masih diam dan ia juga masih pada posisinya.

"Plan, aku harus memastikan tindakan medis yang kuambil benar. Kau harus mengatakan apapun kondisimu kepadaku, khususnya terkait dengan bagian dalam." Mean menjelaskan.

"Aku paham," sahut Plan.

"Opsi nomor tiga, " sahutnya pelan.

"Apa?" Mean jelas mendengarnya, tapi ia ingin memastikan.

"Aku pernah melahirkan seorang anak lelaki saat usianya masih delapan bulan di perutku, tapi ia tak bisa bertahan. Ia meninggal setelah tiga hari lahir. Jantungnya lemah," sahut Plan. Saat ia menjelaskan itu, Plan tak mau melihatmu wajah Mean.

"Apa? Kapan?" tanya Mean.

"Satu tahun setelah kita berpisah," ujar Plan.

"Itu artinya bayi itu... anakku?" Mean memastikan.

"Aku tak mau membahas ini. Kapasitasmu dokter bukan mantan kekasihku. Jangan tanya hal itu," ujar Plan lagi. Ia masih tak mau melihat Plan.

"Kenapa aku tak tahu?" Mean mengabaikan yang dikatakan Plan baru saja.

"Tsk! Lakukan tugasmu. Apalagi yang ingin kau tahu? Aku juga ingin tahu dengan kondisiku," tanya Plan dengan kesal.

"Kau pendarahan atau ada hal spesifik lain yang perlu kuketahui sebelum aku meresepkanmu obat," ujar Mean lagi. Ia tahu Plan tak akan bilang apa-apa.

"Kuberikan catatannya. Kau bisa masuk ke website pasien yang kugunakan untuk menyimpan datanya. Akan kuberikan kode aksesnya," sahut Plan.

"Baiklah," ujar Mean.

Mean keluar dari ruangan setelah mendapat kode akses dan langsung memasuki website tersebut. Ia membuka-buka catatan pasien atas nama Plan Rathavit dan ia menemukan banyak hal menyedihkan. Dia juga melihat foto sang bayi yang sungguh mirip dengannya. Ia semakin yakin bahwa anak lelaki itu adalah anaknya.

Mean menuliskan prosedur perawatan dan kemudian meresepkan sebuah obat. Ia kembali ke kamar Plan dan mendapati ia tengah tidur lelap. Mean duduk di dekatnya lalu mengamati perempuan yang pernah mengisi hidupnya itu dulu.

"Tee!" Plan mengguman. Ia masih memejamkan matanya. Rupanya ia tengah mengigau. Mean tahu siapa Tee. Ia melihat namanya pada beanie anak kecil yang ada di foto itu.

Plan bangun dan melihat Mean tengah duduk menatap infusan.

"Berapa lama aku harus berbaring di sini?" tanya Plan.

"Tergantung. Kalau ruamnya sudah hilang, kau bisa kembali beraktivitas dan untuk perutmu, kau bisa berobat jalan," ujar Mean lagi.

"Oke," ujar Plan. Ia kembali menutup matanya.

Track 3 Short Stories Mean and Plan CollectionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang