Buku diari yang sudah lusuh itu hampir habis isinya. Sebuah buku yang jika dipublikasikan pasti akan disukai dan membuat para pembacanya terharu. Buku itu berkisah tentang kehidupan Plan dan melihat tanggal saat ia menamai buku itu dengan Green, Mean menyadari bahwa Plan mulai menulis buku itu saat ia ada di penjara.
Pada halaman pertama, Plan menulis bahwa buku itu dinamai Green berharap kehidupannya akan setenang daun dan rumput dan pohon yang memberi ketenangan kepada orang-orang saat menatapnya.
Pada halaman kedua, Plan menulis begitu banyak pertanyaan dan dimulai dengan sebuah pertanyaan yang sangat filosopis. Apa itu kehidupan normal? Apa itu kebahagiaan? Di mana kebahagiaan itu berada? Bagaimana bentuknya?
Sebab jika Plan harus merujuk pada kamus umum, bukankah definisi normal itu, seusai dengan aturan dan tidak menyimpang. Lalu bagaimana kehidupan dirinya? Kalau begitu, ini berarti bahwa kehidupan dirinya tidak normal.
Ia dapat mendefinisikan kehidupan normal itu setelah ia di ada di penjara. Ia sering mendengarkan kisah kehidupan para napi yang sama atau jauh lebih menyedihkan daripada dirinya.
Normal itu adalah menerima kehidupan yang diberikan apapun bentuknya kepada setiap individu. Jika ia bisa bertahan dan membuat kehidupannya lebih baik maka ia bisa menjalani kehidupan normalnya itu.
Bahagia juga tidak dicari, melainkan diciptakan sendiri sebab ia menyadari bahwa definisi bahagia itu bersifat subjektif. Oleh karena itu, bahagia itu memiliki berbagai jenis bentuk; materil, spirituil, semuanya akan sangat tergantung pada bagaimana masing-masing individu mendefinisikan kata itu.
Dan sekarang Plan menemukan arti kebahagiaan itu sendiri, dan itu saat ia mengandung dan menemukan bahwa ia akan memiliki bukan hanya seorang melainkan dua orang yang akan menemaninya dalam hidupnya, membuat kehidupan yang lebih baik. Ia berjanji saat ia tahu ia mengandung, ia akan menjadi ibu dan ayah yang terbaik untuk mereka. Karena itu, semangat dalam hidupnya muncul lagi. Dan ia mulai membangun lagi kehidupannya.
Setelah itu, ia mulai menceritakan tentang siapa dirinya. Sebuah deskripsi dan ilustrasi yang begitu jelas tentang dirinya saat ia lahir dan kecil. Ia memang lahir sebagai anak Rathavit hasil dari perkosaan ayahnya kepada ibunya. Yang lebih menjijikkan adalah sewaktu ia berusia sembilan tahun, ayahnya pernah menggerayangi dirinya saat ia tidur dan ia hampir diperkosa oleh ayahnya sendiir jika saja ibunya tak menyelematkan dirinya.
Ayahnya marah besar. Ia menyiksa ibunya. Ibunya bertahan untuk dirinya. Dan mereka kemudian membuat perjanjian bahwa ibu Ppan akan melakukan apa saja asalkan ayahnya tak mengganggu dirinya. Ayahnya menyetujui dengan syarat, ibunya harus mau membantu ayahnya melancarkan bisnisnya dengan meniduri para kliennya. Ibunya mengiyakan selama Plan aman.
Walaupun demikian, rupanya secara mental, ibunya tak tahan. Ia depresi dan gejalanya semakin terlihat ketika Plan beranjak dewasa. Sejak saat itulah, ibunya menderita penyakit depresi manik. Plan membawanya bolak-balik ke rumah sakit untuk terapi dengan ahli kejiwaan dan ibunya akan kembali normal untuk beberapa waktu, tapi akan kembali pada fasenya saat tekanan dalam jiwanya muncul kembali.
Plan berbeda dengan kedua kakaknya, sebab mereka incest dengan ayah mereka yang juga ayah Plan. Kedua kakaknya lahir dari dua ibu yang berbeda. Mereka menurut kepada keinginan ayahnya sehingga mereka masih bisa menikmati apapun yang mereka ingin nikmati.
Tak jarang Plan harus menyaksikan dan mendengar bagaimana kedua kakaknya itu ditunggangi ayahnya sendiri dan mereka menikmatinya. saat ia melihat itu, ia akan menutup wajahnya dan telinganya. Ayahnya gila sebab sejak kecil ia dan ibunya diharuskan menonton adegan itu dengan kedua kakaknya sejak usia sembilan tahun, dengan selir-selirnya, pembantu perempuannya dan bahkan bibinya sendiri.
